let's hold our parents accountable, shall we? yes, mereka pertama kali jadi ortu, BUT for their children, ini hidup pertama mereka sebagai anak.
papaku aja pernah ngomong, "ortu emang baru pertama kali jadi orang tua, tapi setidaknya–mereka pernah jadi anak."
Patriarchy is so deeply rooted that WOMEN can walk into someone else's house as guests and still somehow end up in the kitchen.
While the MEN even from the host family get to sit back, relax, chill, enjoy the food, and talk about how much they sacrifice for their families. 🙄
Gak cocok kerja, cocoknya belajar. Tapi gw butuh duit. Dan belajar ngeluarin duit. Coba aja belajar itu dibayar. Enak banget bisa jadi profesional learner.
MISAAAALLLLL
Apa dateng ke tempat wisata yang katanya "sacred" tuh bikin hal yang kita mau itu cepat kejadian ? Jujur aku ke sana emang niatnya cuma lihat2 aja, itu aja g tahu kalo diajak ke sana. Habis keluar dari kota itu alias 2 Minggu kejadian. Apapun yang ada dalam hati kejadian
pekerjaan selanjutnya akan menjadi pekerjaan yg gue gak lg berpikir, “abis ini akan pindah kemana ya?” saking betahnya gue di pekerjaan itu karena faktor kantornya green flag, gaji cukup, atasan dan temen yg gak rese, jam kerja ikut aturan pemerintah, dan benefit luar biasa ok
Jangankan umur 28, early 20s aja ga luput dari berbagai stigma gap career:
Orang yg career break karena masalah kesehatan fisik dan mental aja dah di cap “wah bakal lemah ini”.
Orang yg career break kantoran karena memilih freelance atau buka usaha aja di cap “ga bakal bisa kerja formal ini mah”.
Orang yg career break juga karena “menata hidup atau bener bener jeda dulu untuk mengembalikan spark hidup” bisa di cap “orang ini rentan stres dan bakal ngilang nanti”.
Ibu menyusui yg ingin kembali bekerja (artinya anak dah bisa ditinggal), dicecer pertanyaan kenapa kembali kerja.
Orang yg career break juga karena ngurus orang tua yg sakit/lansia pun bisa juga kena cap “ni orang bisa minta cuti semau-mau”
Begitulah kenyataan 🥹🥲
Ternyata hidup itu kalo kita g stress berat, lumayan indah 😊
G nyangka sih struggle terutama 8 tahun kebelakang, akhirnya aku bisa keluar dari "terowongan gelap". Udah g kepikiran su***de lagi,nangis2 juga nggak lagi. Pokoknya baru "ngeh" kalo"oh gini ya kalo hidup normal"
egk... itu emg misoginis. in fact, ga sedikit laki2 yg spend duit banyak buat hobinya tp yaa ga dianggep konsumtif soalnya "it's just boys' being boys"
Btw, jangan kaget klo feminists anti religion. Namanya feminisme ya anti apapun yg nindas cwe jir, klo ga ngerasa agama lu termasuk ya cari tau, liat berita, mikir. Dan sebelum lu kesinggung, gw ga bilang spesifik agama apa, intinya semuanya.
Kenapa x g punya tombol dislike ya?
Kayak aku mau dislike semua orang yang ngomongin agama demi dapat power di atas orang lain. Kalo orang beda pendapat dibilang gila lah, disuruh istighfar lah.Kayaknya ngomong konsep kita berhak nentuin langkah sendiri susah dimengerti.