أكتر حاجة مرعبة في برشلونة فليك مبقتش موجودة 🔥
جمهور برشلونة كان بيبقي قاعد مرعوب في ماتشات برشلونة بسبب مصيدة التسلل و الهجمات المرتدة اللي بتيجي علي الفريق
و ده لان هانسي فليك بيعتمد في دفاعة علي كمية الضغط اللي بتحصل من الخط الامامي
و طبعا الموسم اللي فات رافينها اتصاب كتير ، راشفورد كسول في الضغط ، ليفاندوسكي كبير في السن ، فيران توريس بيضغط من غير ما يفكر
فـ كان كتير بيتم كسر الضغط دة و أصبح وقتها دفاع برشلونة مُستباح
لكن الموسم دة هتلاقي برشلونة في اول ماتشين بدون خطورة كبيرة علي مرمي الفريق و دة راجع للضغط اللي بيتم ممارسته في الهجوم
رافينها و يامال و فيرمين و غوردون و اديمي و اولمو
كتيبة ضغط مرعبة والله
و لسه كمان رودري اما يبدأ و ينسجم هيكون صدادة لأي هجمة مرتدة
Anak gue gak ikut study tour ke Bali, biayanya Rp5,8 juta per anak buat lima hari. Dari 32 anak di kelasnya, cuma tiga yang gak ikut, dan anak gue salah satunya. Di grup wali murid gue sempet disindir halus, katanya kasihan anaknya nanti gak punya kenangan. Anak gue bahkan sempet nangis dua hari, dan itu yang paling berat buat gue. Tapi ada satu percakapan sama wali kelasnya yang bikin gue tetap yakin sama keputusan ini.
Gue tulis pertimbangan gue di sini buat orang tua lain yang mungkin lagi ada di posisi yang sama. Ini bukan sekadar soal mampu atau gak mampu, karena sebenarnya gue masih bisa usahain kalau dipaksain. Ada lima hal yang gue pertimbangin, dan yang kelima justru paling gak kepikiran sama gue sebelumnya. Malah datangnya dari wali kelas sendiri.
Pertama, gue hitung dulu Rp5,8 juta itu setara apa buat kondisi keuangan keluarga gue. Penghasilan gue sama suami kalau digabung Rp9,4 juta sebulan, sementara pengeluaran wajib Rp7,1 juta. Jadi sisa Rp2,3 juta per bulan. Artinya, Rp5,8 juta itu setara sekitar dua setengah bulan sisa tabungan kami. Bukan gak mampu, tapi setelah itu tabungan kami bakal kosong selama tiga bulan ke depan.
Kedua, gue cek isi acaranya, bukan cuma lihat nama tempatnya. Lima hari itu ternyata dua hari habis buat perjalanan bus pulang-pergi, jadi efektif cuma tiga hari. Dari tiga hari itu, dua harinya kunjungan ke tempat wisata umum dan satu hari ke museum. Bagian edukasinya cuma sehari, sisanya jalan-jalan yang sebenarnya masih bisa dilakukan kapan aja.
Ketiga, gue tanya wali kelas apakah kegiatan ini wajib atau opsional. Katanya opsional, dan anak yang gak ikut tetap masuk sekolah dengan kegiatan pengganti. Gue tanya lagi kegiatannya apa, jawabannya proyek kelompok di perpustakaan. Gak ada nilai yang hilang dan gak ada materi yang ketinggalan buat anak yang gak ikut.
Keempat, gue tanya tiga orang tua yang anaknya ikut tahun lalu. Dua bilang anaknya senang, satu bilang anaknya malah stres karena banyak yang bawa uang jajan dalam jumlah besar. Anaknya bawa Rp300 ribu, sementara ada temannya yang bawa sampai Rp1,5 juta, akhirnya dia jadi minder. Jadi biaya Rp5,8 juta itu ternyata belum termasuk uang jajan yang bisa jadi perbandingan sosial tersendiri.
Kelima, dan ini yang paling gak kepikiran sama gue, gue tanya wali kelasnya soal anak-anak yang gak ikut. Katanya tiap tahun selalu ada sekitar tiga sampai lima anak yang gak ikut, dan itu normal. Yang biasanya bikin anak sedih bukan karena gak ikut, tapi cara orang tua menyampaikannya. Kalau dibilang gak mampu, anak bisa nangkepnya sebagai “keluarga kita miskin” dan akhirnya malu.
Wali kelasnya nyaranin cara penyampaiannya dibikin beda, dan gue langsung coba malam itu juga. Gue bilang ke anak gue, kita lagi nabung buat sesuatu yang manfaatnya lebih lama. Gue kasih pilihan: uangnya dipakai buat study tour lima hari, atau buat les yang dia mau selama setahun. Anak gue pilih les gambar, karena memang udah lama dia minta dan selalu gue tunda.
Les gambarnya Rp350 ribu sebulan. Setahun jadi Rp4,2 juta, masih di bawah biaya study tour Rp5,8 juta. Sisa Rp1,6 juta gue simpan buat perlengkapan gambarnya selama setahun. Anak gue berhenti nangis begitu dia merasa dia yang memilih, bukan karena dia kekurangan. Itu yang dimaksud wali kelasnya: bedanya ada di apakah anak dikasih pilihan atau cuma dikasih kabar buruk.
Empat bulan berjalan, dia udah ikut dua lomba gambar tingkat kecamatan dari les itu. Teman-temannya yang ikut study tour juga udah gak ngomongin Bali lagi setelah dua minggu.
Gue gak bilang study tour itu buang-buang uang. Buat sebagian keluarga, mungkin memang worth it banget. Yang mau gue sampaikan, coba cek dulu lima hal tadi sebelum memutuskan buat maksa ikut atau langsung nolak mentah-mentah.
Kalau lo lagi ada di posisi yang sama, tanya wali kelas tiga hal ini dulu: ini wajib atau opsional, kegiatan penggantinya apa, dan biasanya berapa anak yang gak ikut tiap tahun. Tiga jawaban itu biasanya udah cukup buat bantu lo mutusin tanpa perlu nanya-nanya di grup wali murid.
Karena yang paling menentukan bukan anak ikut atau enggaknya, tapi gimana cara lo ngomong ke anak setelah keputusan itu dibuat.
Pada Oktober 2011, setelah hanya 11 pertandingan melatih Deportivo Alaves di divisi ketiga sepak bola Spanyo, Luis de la Fuente dipecat.
Alaves hanya berada di posisi 8, susah sekali menang, rencana2 De la Fuente tidak berjalan baik.
Pemecatan itu membuat De la Fuente begitu terpukul.
Lalu, selama 1,5 tahun, De la Fuente menganggur. Dia menyebut periode itu sebagai, la 78 lunes al sol, 78 Senin di bawah terik matahari, 78 pekan jadi pengangguran.
Tabungannya terus menipis. De la Fuente dihantui bayang2 yg sangat ditakuti oleh pelatih manapun yakni dilupakan zaman.
Namun, alih-alih meratap, masa menganggur itu dipakai De la Fuente untuk melakukan rekonstruksi diri.
Dia berkendara melintasi Spanyol untuk mengamati sesi latihan banyak pelatih lain.
De la Fuente rajin membedah sistem radikal Marcelo Bielsa. Dia juga belajar bahasa Inggris dan menenggelamkan diri dalam buku-buku sejarah Romawi Kuno tentang gladiator, stoik, dan filsafat.
Sampai suatu hari, Gines Melendez, koordinator usia muda Federasi Sepak Bola Spanyol, mewawancarai De la Fuente pada Mei 2013 atas rekomendasi seorang kolega.
Saat itu, Melendez menemukan seorang pria istimewa yang telah melepaskan ego keduniawiannya dan pada akhirnya sejarah mencatat dia memenangkan segalanya.
Artikel agak panjang tentang pelatih Spanyol yang menjadi Juara Eropa, menjadi Juara Dunia meski tak pernah sekalipun melatih klub divisi tertinggi dalam kariernya: Luis de la Fuente.
https://t.co/fWdS21WblF
'Sistem' yg disematkan ke Spanyol itu bisa dilihat di sini. Bagaimana Cubarsi bisa bermain 'bebas' juga karena pergerakan Rodri yg memancing marking lawan mengikutinya. Ini bikin Cubarsi punya banyak ruang & jauh dari presser. Dan passing sendiri bukan soal akurasi passer-nya, namun soal keberadaan receiver utk beri support dalam hal ini Olmo. Ini yg membuat Spanyol erat dengan permainan sistem krn taktik dieksekusi secara unit dgn baik & presisi.
Jose Pekerman pernah menciptakan kontroversi besar karena menepikan kapten Inter Milan Javier Zanetti dalam skuad Piala Dunia 2006.
Pekerman malah memanggil pemain Deportivo La Coruna yg sedang dipinjamkan ke West Ham United bernama Lionel Scaloni.
Scaloni jelas bukan pemain starter. Tapi Pekerman membutuhkan Scaloni krn dia dikenal sebagai glue guy. Scaloni bisa memberikan keharmonisan di ruang ganti.
Scaloni memiliki kepribadian yg ceria, humoris, dan tidak menuntut menit bermain. Namun, dia siap mati2an di lapangan jika dibutuhkan.
Pekerman butuh pemain cadangan dgn mentalitas seperti ini untuk turnamen sekelas Piala Dunia.
Pada Piala Dunia 2006 itulah, Scaloni membangun hubungan personal yg pada masa depan mampu mengubah takdir sepak bola Argentina.
Scaloni yang saat itu berusia 28 tahun bertemu dan menjadi pelindung emosional bagi seorang remaja pemalu berusia 18 tahun bernama Lionel Messi.
Tulisan agak panjang saya tentang perjalanan karier, visi sepak bola, dan filosofi hidup Lionel Scaloni.
https://t.co/2PPjCyFOBq
@LaLigaLocaID Tergantung peran, kalo emang mau cari DM dgn peran pivot dan playmaking. No one better than Busquets.
Tapi kalau cari DM jangkar/anchor man, pasti Rodri.