Guru saya pernah bilang...
"Saat kamu di luar jam kerjamu, tinggalkan posisimu, jabatanmu, dan gajimu.”
Dulu aku cuma manggut-manggut. Tapi makin kesini, aku ngerti maksudnya.
Di luar kerja, orang gak butuh tau kamu manager, supervisor, atau punya gaji dua digit.
Bergaullah tanpa seragam. Bersikaplah tanpa pangkat.
Justru di situ kerendahan hati diuji.
Kadang yang bikin orang nyaman bukan ilmu kita, tapi rendahnya nada bicara. Tidak menggurui, tidak pula meninggi.
Gw punya temen yang ownernya paling langka yang pernah gw denger ceritanya.
Bukan langka karena kaya. Bukan langka karena perusahaannya gede.
Tapi langka karena dia bisa jadi bos yang manusiawi tanpa timnya jadi seenaknya.
Temen gw kerja di sana dua tahun. Dan dia bilang satu hal yang gw pegang sampai sekarang.
Gw hormat sama bos gw bukan karena takut. Tapi karena dia layak dihormati.
Gw minta dia ceritain lebih.
Ownernya tipe yang tau nama semua karyawannya. Tau siapa yang lagi ada masalah keluarga. Tau siapa yang lagi struggle finansial. Dan tidak pernah gunakan informasi itu untuk melemahkan orang tapi justru untuk kasih support yang tepat waktu.
Waktu ada karyawan yang ibunya sakit dia yang pertama transfer uang sebelum diminta. Tidak diumumkan. Tidak dibuat jadi cerita motivasi di rapat.
Diam diam. Langsung.
Tapi di sisi lain dia juga tidak pernah tolerir ketidakprofesionalan.
Pernah ada karyawan yang mulai sering telat. Tidak langsung dipecat. Tidak langsung dimarahin di depan orang lain.
Dipanggil empat mata. Ditanya baik baik ada apa? Ada yang bisa dibantu?
Ternyata karyawannya lagi ada masalah di rumah yang tidak pernah dia cerita karena takut dianggap tidak profesional.
Ownernya kasih waktu dua minggu. Bantu cari solusi. Dan setelah dua minggu karyawannya balik dengan performa yang lebih baik dari sebelumnya.
Dan ini yang paling bikin gw kagum dari cerita temen gw.
Karyawan karyawan di sana tidak memanfaatkan kebaikan ownernya bukan karena takut dipecat.
Tapi karena mereka genuinely tidak mau mengecewakan orang yang sudah memperlakukan mereka dengan baik.
Ada bedanya antara tidak mau mengecewakan karena takut dengan tidak mau mengecewakan karena respect.
Yang pertama menciptakan karyawan yang patuh tapi diam diam cari jalan keluar.
Yang kedua menciptakan karyawan yang loyal karena merasa dilihat sebagai manusia.
Dan ini yang paling langka di Indonesia.
Kita punya budaya kerja yang sangat hierarkis. Bos adalah bos. Karyawan adalah karyawan. Jarak itu dijaga bukan karena ada manfaatnya tapi karena memang sudah dari dulu begitu.
Akibatnya banyak karyawan yang kerja bukan karena mereka mau berkontribusi. Tapi karena mereka butuh gaji dan takut kehilangan pekerjaan.
Dua motivasi yang hasilnya sangat berbeda.
Yang kerja karena takut akan berhenti begitu ketakutannya hilang.
Yang kerja karena respect dan merasa dihargai akan tetap kerja keras bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Temen gw bilang satu kalimat terakhir yang gw rasa paling jujur menggambarkan tempat kerjanya.
Di sana gw tidak pernah ngerasa jadi karyawan yang harus perform buat survive. Gw ngerasa jadi orang yang dikasih kepercayaan dan gw tidak mau sia siain itu.
Tempat kerja seperti itu ada di Indonesia.
Cuma memang masih terlalu langka.
FOR ALL KPOP STAN ‼️‼️
I don’t care which fandom you belong to. Please, focus on the Global Sumud Flotilla and set K-pop aside. This is about humanity and let’s focus on that.🙏🏻🍉
#GlobalSumudFlotilla#STAND4SUMUD