@bangopang_ Sediakan 2 pasangan berbahagia yang ingin memulai bahtera rumah tangga. Akan ku dekor secantik ini di hari lamaran kalian. Cek langsung di ig kami ya @/kuy.dekorin
kalau kamu dibesarkan sama ibu yang emosinya meledak-ledak + ayah yang suka lepas tangan, besar kemungkinan sekarang kamu jadi orang dewasa yang super peka
kamu bisa baca mood orang cuma dari:
• cara dia nutup pintu
• jeda 2 detik sebelum jawab
• nada “iya” yang sebenernya bukan iya
bukan karena kamu over sensitive, tapi karena dulu reading the room itu literally soal survival.
salah baca = langsung kena marah
telat nangkep = jadi pemicu ledakan
otakmu terlatih banget buat baca vibe orang di sekitar, sekarang udah dewasa, tapi skill itu masih nyala 24/7.
ini bener. krisis qowwam dimulai sejak pengasuhan orang tuanya.
banyak orang tua yg tanpa sadar terlalu memanjakan anak lakinya tapi keras ke anak perempuan
“udah udah, masa laki laki di dapur”
“dah sana kamu otak atik mobil/motor/komputer aja, beberes rumah biar ibu/sodara perempuanmu”
dll
inilah awal mula neraka rumah tangga bagi anak org lain kelak. punya istri tapi semua masalah rumah dibebankan ke istri.
laki laki ga qowwam begini bukan dari lahir begini. pola pengasuhan orang tuanya punya andil besar dlm membentuk dirinya
"Pidana tambahan pembayaran uang penganti senilai Rp 809 M sekian, apabila tidak dibayar dalam kurun waktu 1 bulan maka harta bendanya akan disita dan dilelang. Jika hartanya tidak mencukupi, diganti dengan hukuman 5 tahun penjara."
Gila, dimiskinkan cuk!
Kakak dari Jerome Polin juga turut memberikan komentar melalui Threads-nya,
"Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina.... -sampai S2, S3, jadi Professor, kerja, pensiun, udah di sana aja"
Kalo soal pemulihan batin, tentu enggak berarti mengubah masa lalu. Karena gimana pun kita enggak bisa mengubah masa lalu.
Selalu enggak ada kabar baru dari masa lalu.
Jerome Polin kembali berikan pendapat dan merasa capek tiap hari liat berita buruk, melalui akun sosmed nya ia bilang:
"Jujur at this point aku bingung, kita sebagai rakyat tuh bisa apa sih? speak up di sosmed udah, ga didenger. Dilawan pake buzzer lagi. Demo udah, ga ada perubahan. Dilawan pake demo bayaran. Ada cara apalagi?? Segakbisa ngapa-ngapain itu kah?
Asli bingung dan bertanya2, apa masih ada harapan?
Yang berkontribusi malah dikriminalisasi. Terus harus apa? Bisa apa?
Rakyat susah cari kerja, kualifikasi harus S1 minimal. Eh ada yang ga lulus S1 jadi komisaris, segampang itu?"
dewasa itu tau kapan harus pakai ATTITUDE dan EMPATINYA di obrolan. contoh nih bre. jangan bahas orang tua yang full support di depan yang ga merasakan peran orang tuanya. jangan bahas soal meriahnya momen wisuda di depan temen yang bahkan gak dapet kesempatan untuk sekolah tinggi. jangan bahas momen mualnya ngidam di depan temen yang lagi perjuangin garis duanya. kadang topik yang buat kita biasa aja, buat orang lain bisa sensitif mbak, mas.
Kadang bosen ama rutinitas yg sama terus tiap hari. Trus jadi “mbesengut” sendiri.
Untungnya selalu save foto, memori di notes.
Sebagai reminder bahwa hidup yg kurasakan bosan ini, bisa jadi impian orang lain.
Always remember the day one.
Pahami apa itu, sakinah mawaddah warohmah
Sakinah itu ketika kamu melihat kekurangan pasangan namun menjaga lisan tidak mencelanya.
Mawaddah itu ketika kamu melihat kekurangan pasangan namun tetap menutup sebelah mata atas kekurangannya dan membuka mata yang lain untuk melihat kelebihannya.
Warohmah itu ketika kita mampu menjadikan kekurangan pasangan sebagai ladang amal untuk kita.
Jujur minggu lalu spaneng banget karna Cila belum dapet tiket dan belum ada info lg ka @hanihams udah dapet tiket atau belom.
Pas Day 3 diumumin, langsung telfon Cila yg lagi makan buat langsung lari ke ruangan dan atur strategi.
Akhirnya CO 2 tiket, buat Cila dan 1 lagi buat jaga2 ka @hanihams belum megang tiket. Kalo ka Hani udah megang, yaudah ku pake sendiri (jujur ini napsu pribadi).
Tapi ternyata ka Hani belom megang, jadinya tiket itu buat ka Hani dehhh…
Di buku The Let Them Theory tuh kamu gak bisa maksa orang buat ngertiin kamu, milih kamu, loyal ke kamu, dukung kamu dan selamanya sama kamu.
Semakin kita ngejar orang lain, semakin kita kehilangan diri sendiri. Nggak semua orang layak dapat energimu.
"Let them"
Kita ngalamin yang namanya Inflasi Pendidikan.
Gelar S1 zaman now itu nilainya udah setara sama ijazah SMA zaman dulu karena hampir semua orang bisa kuliah.
Efeknya, HRD jadi kebingungan ngefilter lautan sarjana ini. Solusinya? Mereka nyiptain rintangan ala Ninja Warrior atau Hunger Games (Online Test berlapis, FGD/LGD, presentasi kasus, psikotes berjam-jam).
Proses ribet itu berevolusi bukan karena kerjaannya butuh skill yang bagus, tapi semata-mata buat nge-eliminasi ribuan kandidat dengan cepet aja. 🤓
Supply and Demand buat lapangan pekerjaan disini juga jomplang banget cik. Supply tenaga kerja di Indo kata GIBRAN membludak ruah, sedangkan lapangan kerjanya seret.
Dampaknya? Karena tahu yang butuh kerja itu ada jutaan orang, perusahaan seenaknya melempar beban biaya penyeleksian ke pelamar. 👹
Kalo dibandingin di US atau di Eropa mah proses rekrutmen rata-rata straight to the point. Kirim CV/Resume - Screening (via telepon) - Interview (1 atau 2 kali sama user/manager) - Offering.
Tes aneh-aneh berjam-jam atau MCU sampai disuruh puasa dan bugil itu jatuhnya red flag dan bisa kena tuntutan pelanggaran privasi malahan di US/Eropa. KECUALI lu daftar masuk militer, kerja di lab berbahaya, atau buruh fisik berat.
Di Indo? Daftar staf admin entry level aja MCU-nya kayak mau dikirim dinas ke daerah konflik 💀
Di UI memang banyak yang seperti ini, apalagi kalau sudah masuk ke dunia jaringan sospol mahasiswanya. Beuh, pengalaman yang tidak terlupakan selama aktif di UI dulu.
Kalau sudah masuk lingkungan yang tepat, ada dorongan yang kuat dari sekitar, mau tidak mau, kita juga "terpaksa" mengembangkan diri. Definisi “bagus” akan berubah seiring kita bertemu dan berada di lingkungan yang tepat. Orang-orang yang kalian kagumi juga akan berubah.
Bagi banyak orang, kagum disini memang wajar. karena pada dasarnya bisa dapat lingkungan yang tepat adalah privilege yang nilainya tidak terhitung.
Maka, saran saya teruslah belajar dan membaca dunia. Naikkan gairah berkompetisi, dan biasakan diri untuk memikirkan problem-problem sulit yang ada di dunia dan semesta.
Seiring waktu, cakrawala berpikir kalian akan meluas, sehingga anak-anak UI seperti wakabem ini akan terasa sebagai standar yang memang sudah seharusnya. Pada akhirnya, kalian akan sadar bahwa manusia-manusia yang benar-benar outlier, bukan sekadar produk zaman dan lingkungannya, memang berada di level yang berbeda.
Pada titik itu, kalian akan sadar bahwa latar belakang pendidikan, status, jabatan, dan pangkat sudah tidak banyak artinya.