Info A2 Daycare Bajingan Little Aresha
1. anak2 itu makan dijejelin sambil dibedong kenceng. Makanan di mulut blom abis udh dijejelin lagi. Akibatnya ada anak yg sampe rumah kebawa kebiasaan makan jejelin ke mulut sendiri banyak banget sampe muntah 😭
2. Banyak yg dulunya dah pinter makan, sekarang klo lihat makanan beneran nolak bahkan nangis kejer. Ada yg cm mampu masuk 3 sendok. Gak taw trauma apa gmn
3. Ada yang bb pas masuk 22kg turun jadi 16kg selama disana. Sampe keliling dsa masi gatau gr2 apa
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Gua punya tetangga sebut aja Mbak Dian yang pernah cerita sesuatu yang bikin gua diam cukup lama setelah dengerin.
Dia bilang suaminya adalah orang yang paling ngingin punya anak dalam pernikahan mereka.
Semangat banget.
Antusias banget.
Sampai akhirnya Mbak Dian hamil dan realitanya jauh banget dari ekspektasi.
Selama hamil, suaminya tidak peka sama sekali. Badan pegal, lelah, kerjaan menumpuk tapi diperlakukan seperti orang yang tidak hamil. Waktu Mbak Dian mau makan sesuatu yang dia mau, suaminya malah bingung itu ngidam atau bukan dan akhirnya tidak beliin sama sekali.
Mbak Dian yang beli sendiri.
Dengan kondisi hamil. Sendiri.
Setelah melahirkan lebih parah lagi.
Di masa nifas dia nemuin suaminya hampir pernah mau selingkuh selama kehamilan dan nemu banyak konten yang tidak seharusnya.
Jahitan belum sembuh, bayi diurus sendiri, bergadang sendiri, mastitis yang sakitnya luar biasa tapi suaminya malas bahkan untuk pijat oksitosin yang dokter anjurkan.
Dan waktu Mbak Dian minta pegang bayi sebentar supaya bisa makan dengan tenang baru lima menit suaminya sudah nanya kapan selesainya dengan nada tidak sabar.
Mbak Dian sampai bilang ke suaminya dengan nada yang dia sendiri tidak menyangka bisa keluar dari mulutnya satu anak aja kamu tidak bisa urus, jangan sampai minta kedua ketiga apalagi keenam.
Dan dari pengalaman itu Mbak Dian jujur bilang dia kapok punya anak lagi.
Gua tidak mau judge siapapun di sini.
Tapi dari cerita Mbak Dian ada beberapa hal yang perlu dibahas dengan jujur dan tanpa basa-basi.
Pertama keinginan punya anak yang besar tanpa dibarengi kesiapan dan ilmu parenting yang setara itu berbahaya.
Bukan cuma berbahaya untuk si ibu, tapi untuk anaknya juga.
Karena anak yang lahir ke keluarga di mana ibunya burn out, tidak di-support, dan menanggung beban sendirian tumbuh dengan fondasi yang rapuh.
Kedua menjadi ayah bukan hanya soal mencari nafkah.
Ini yang masih sangat banyak laki-laki Indonesia salah kaprah.
Provide materi itu penting, tapi presence hadir secara fisik dan emosional dalam pengasuhan itu sama pentingnya.
Anak tidak butuh ayah yang rekening tabungannya tebal tapi tidak pernah pegang dan main sama mereka lebih dari lima menit.
Ketiga dan ini yang paling jarang dibahas perempuan berhak menentukan mau punya anak berapa.
Bukan keluarga besar, bukan tradisi, bukan tekanan sosial, bukan suami yang minta nambah tapi tidak mau nambah tanggung jawab.
Mbak Dian bilang sesuatu yang sangat valid lebih baik sedikit tapi anak dapat pengasuhan maksimal dari kedua orangtuanya daripada banyak tapi tidak ada yang benar-benar hadir untuk mereka.
Punya anak itu bukan achievement yang bisa diklaim. Punya anak itu tanggung jawab dua orang yang harus dibagi sama rata dari kehamilan, persalinan, menyusui, bergadang, sampai tumbuh kembang. Kalau dari awal sudah tidak seimbang, jangan heran kalau salah satunya sampai bilang kapok.
Sebanyak 695 siswa dari dua sekolah di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami gejala mual, muntah, dan diare diduga usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (28/10/2025). Pelajar yang terdampak berasal dari SMK N 1 Saptosari dan SMP N 1 Saptosari.
Imbas kasus keracunan massal tersebut, operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kalurahan Planjan, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, resmi ditutup sementara. Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menyebut air di dapur MBG tersebut terindikasi mengandung bakteri E.coli.
Pihaknya juga telah mengambil sampel makanan MBG untuk diperiksa di laboratorium untuk memastikan penyebab keracunan.
Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, turut melakukan sidak ke dapur SPPG Planjan.
Ia mengaku geram dengan kelalaian petugas dapur, dan bakal melakukan evaluasi total terhadap dapur penyedia MBG di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul.
@NarasiNewsroom Bukannya fokus mengevaluasi birokrasi ponpesnya. Harusnya diusut unsur kelalaian dalam pembangunannya dan diminta pertanggungjawabannya. Ini malah tiba2 ngasih anggaran negara buat dibangun ulang 🤕 capek bgt
@NarasiNewsroom Bukannya ini ponpes swasta ya, kok bisa dari APBN dananya? Trus sekolah2 negeri yg ngga layak pakai, bahkan ada yg rusak parah kapan dapet giliran bantuannya?
Lama-lama makin aneh aja kebijakan yg diambil 🤕
Bareng ibu-ibu warga Petamburan, aku ikut melawan dan mengusir aparat dari pemukiman. Suara teriakan bercampur dengan asap gas air mata yang menyengat.
Tubuh-tubuh perempuan maju paling depan dengan keberanian melindungi rumah, keluarga, dan anak-anak mereka.
@ARSIPAJA KCIC mjd beban financial bagi KAI.
Pak Jonan sdh memperingatkan soal ini dan berakhir didepan dari kabinet.
Sehat sehat ya kita para pembayar pajak utk nombokin hutang KCIC. Jangan lupa, skincare nya ani2 pejabrut juga butuh dicekot 😜
Ini jg alasan kenapa banyak konten begini dibuat oleh anak perempuan buat ibunya. Even though my parents are doing fine as a couple, I deep down want my mom to prioritize her dreams first over anything else. Aku ga pernah ga nangis kalo nemu beginian, sampe pas screenshot inipun.
Tips Menghindari Aquaplaning/Hydroplaning
Sedikit cerita dulu yah...
Semalam diinfo temen saya @dyxz__ katanya sodaranya kecelakaan tunggal gegara aquaplaning pake SUV sampai roll 1x dan hasil impactnya sampai begini.
Hasilnya kaya gini nih dan gilanya tuh Airbagnya ga ngembang, padahal kondisi unit liat sendiri ajah, intercooler, radiator dan bumper rontok, wkwkwk
Selain mahal, sungguh terkadang tuh saya bingung sih dengan mobil jaman sekarang antara emang build quality yang terlampau keren sampe kecelakaan kegini airbag ga ngembang atau ada sesuatu yang yaaa you know lah...
Namun ini bukan tentang Airbag Paman... wkwkwk
Oiya disclaimer, Alhamdulillahnya sodara temen saya baik baik saja kok, walopun ada cedera di beberapa titik
Okay back to the topic, jadi apasih Aquaplaning atau Hydroplaning itu?
BRAKK!! Pintu IGD terbuka.
Seorang pria berkacamata dibopong 3 orang laki2.
Saya berdiri menyambutnya untuk mengarahkan ke triage, "kenapa mas nya?" Saya bertanya ke salah satu yang bopong sambil saya pegang nadi di lehernya.
#serisayangidirimu