๐๐ซ๐๐ ๐๐ป๐ณ๐ผ: Persib Bandung have reached a ๐๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐น ๐ฎ๐ด๐ฟ๐ฒ๐ฒ๐บ๐ฒ๐ป๐ with Mariano Peralta and currently hold the upper hand over Johor Darul Ta'zim and Lion City Sailors.
The Indonesian side are close to securing the deal, though ๐๐ถ๐ด๐ป๐ฎ๐๐๐ฟ๐ฒ๐ ๐ฎ๐ฟ๐ฒ ๐๐ฒ๐ ๐๐ผ ๐ฏ๐ฒ ๐ฒ๐ ๐ฐ๐ต๐ฎ๐ป๐ด๐ฒ๐ฑ โ and Johor could yet enter the race in the coming days or weeks with a stronger financial offer. However, the Malaysian club must first move a foreign player on before they can make a serious push for the Argentine.
@erseee_ Jelas permainan agen mang, ceunah deal jeung persija, terus naekeun isu lebih condong ka persib, terus naekeun deui isu diincer LCS+JDT. Meh harga naek terusss
We can confirm, rumours spread about former Buriram United head coach to join Persib for next season is not true. Heโs heading to Indonesia for a different club. โ
#BandungFootball#BFCOM#Persib#Bobotoh
Pengen keliatan reliable yah orangnya, โsaya duluan yang dapet infonyaโ.
Tipe-tipe orang yang โjempling yah, aku kasih tau info buat kamuโ, tapi satu kelurahan dibere beja ๐
Saya kurang setuju dengan narasi bahwa pemain naturalisasi tidak boleh bermain di Liga Indonesia. Dalam waktu kurang dari satu tahun menuju Piala Asia 2027, yang paling dibutuhkan para pemain adalah menit bermain secara reguler. Bermain setiap pekan menjaga match fitness, kepercayaan diri, dan performa agar tetap berada di level terbaik saat Timnas membutuhkan mereka.
Apalagi saat ini persaingan di Timnas Indonesia jauh lebih ketat dibanding beberapa tahun lalu. Hampir di setiap posisi terdapat persaingan yang sangat kompetitif. Artinya, persaingan tidak hanya terjadi saat training camp, tetapi juga sepanjang musim bersama klub masing-masing. Match fitness, konsistensi performa, ketajaman, hingga kondisi fisik menjadi faktor penting untuk mencuri satu tempat di skuad Timnas.
Memang, tidak ada jaminan pemain yang rutin bermain pasti dipanggil Timnas. Pelatih bisa saja tetap memilih pemain yang menit bermainnya minim apabila ia memiliki karakteristik atau kualitas yang benar-benar dibutuhkan tim. Itu adalah hak prerogatif pelatih. Namun, jika kualitas dua pemain relatif seimbang, maka pemain yang tampil reguler tentu memiliki nilai tambah karena ritme bertanding, kondisi fisik, dan kepercayaan dirinya lebih terjaga.
Kita bahkan sudah melihat contohnya pada Ivar Jenner. Kesempatan menjadi starter di Timnas memang terbuka karena Thom Haye harus menjalani hukuman sehingga absen membela Timnas. Namun, kesempatan itu berhasil dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Ivar. Terlepas dari absennya Thom, secara permainan Ivar memang menunjukkan kualitas yang layak untuk dipercaya. Ia tampil tenang saat menguasai bola, disiplin dalam menjaga keseimbangan lini tengah, agresif ketika merebut bola, serta membangun chemistry yang baik bersama Joey Pelupessy. Tidak sedikit yang menilai ia menjadi salah satu pemain dengan penampilan terbaik di Timnas belakangan ini.
Sulit mengabaikan bahwa peningkatan performa tersebut juga dipengaruhi oleh Ivar yang bermain 11x sebagai starter secara beruntun bersama Dewa. Saat kesempatan datang di Timnas, ia datang dengan match fitness yang baik dan kepercayaan diri yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa bermain rutin di level klub bisa menjadi bekal yang sangat penting ketika kesempatan hadir di level internasional.
Apalagi musim depan kompetisi domestik akan semakin kompetitif. Selain Liga 1, akan ada I-League Cup, sementara beberapa klub Indonesia juga akan tampil di kompetisi Asia. Jadwal yang lebih padat membuat kebutuhan rotasi meningkat sehingga peluang mendapatkan menit bermain juga semakin besar. Bagi pemain Timnas yang menargetkan Piala Asia 2027, kondisi seperti ini justru bisa menjadi keuntungan.
Jangan lupa, banyak pemain profesional di seluruh dunia juga memilih pindah klub demi mendapatkan menit bermain yang lebih banyak. Itu bukan berarti ambisinya menurun, melainkan keputusan profesional agar tetap berada dalam performa terbaik dan menjaga peluang dipanggil tim nasional.
Selain itu, jangan sampai kita justru mendiskreditkan Liga Indonesia sendiri. Kalau setiap pemain diaspora yang pulang langsung dianggap sebagai langkah mundur, secara tidak langsung kita sedang merendahkan kompetisi yang sedang dibangun. Padahal kalau ingin liga berkembang, kita justru membutuhkan lebih banyak pemain berkualitas agar standar kompetisinya terus meningkat, baik itu pemain naturalisasi atau pun pemain asing.
Begitu pula dari sisi finansial. Jangan menyalahkan klub Indonesia jika mereka mampu menawarkan gaji yang sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan klub luar negeri. Justru itu menunjukkan bahwa industri sepak bola Indonesia mulai berkembang dan memiliki daya saing ekonomi yang lebih baik. Di seluruh dunia, klub yang sehat secara finansial memang akan berusaha merekrut pemain terbaik dengan menawarkan kontrak yang kompetitif. Selama dilakukan secara profesional dan berkelanjutan, itu adalah tanda positif bahwa nilai industri liga kita perlahan meningkat.
Tentu investasi tersebut juga harus diiringi dengan pembinaan pemain muda, peningkatan infrastruktur, tata kelola klub, dan kualitas kompetisi. Namun, kemampuan klub Indonesia mempertahankan atau mendatangkan pemain berkualitas seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang negatif.
Pada akhirnya, fokusnya jangan hanya pada di mana seorang pemain bermain, tetapi apakah ia mendapatkan menit bermain yang cukup, terus berkembang, dan siap memberikan performa terbaik ketika Timnas memanggilnya. Dengan persaingan yang semakin ketat menuju Piala Asia 2027, performa bersama klub bisa menjadi pembeda dalam perebutan satu tempat di skuad.
Jadi jika pemainnya sendiri melihat Liga Indonesia mampu menjadi kompetisi yang menjaga performa sekaligus meningkatkan kualitas dirinya, kenapa kita tidak?
Holoh Kantal! Akun akun ebrod riweuh! Ekspektasi mu gbisa ngatur keputusan manusia. Klo mau kritik ya klubnya tapi nanti kalo gagal.
Kalo berhasil buat Indonesia jg. Perlu diingat klub-klub Indonesia jg lagi berjuang perbaiki ranking liga. Segala resources harus dimaksimalkan
Ada 2 kemungkinan:
Beneran ikut masuk perburuan, atau ga ikut masuk tapi ikut di permainan agen peralta supaya beneran nguras kas persija yg mungkin naekin nilai kontrak. Bagian ngomporan.
๐จ UPDATE ๐จ
Kabar terbaru mengenai saga transfer MVP ๐ฎ๐ฉISL 2025/26, ๐ฆ๐ทMariano Peralta (28/MF) jelang ๐ฎ๐ฉISL musim 2026/27
โ Negosiasi dengan PERSIJA hampir rampung, namun tiba-tiba terancam batal.
โ DEWA UNITED dan PERSEBAYA tertarik namun tidak serius.
๐ PERSIB adalah opsi terbaru, faktor bermain di Kompetisi Asia berpotensi menentukan saga ini.
๐ Klub luar Indonesia yang juga tertarik adalah ๐ฒ๐พJohor DT dan ๐ธ๐ฌLion City Sailors.
๐ via @lorenzooleporee
Wajar ajaa anggota partai belain program ketua partainya yg lagi jadi presiden.
Ada juga kelakuan org yg pas kampanye jelek2in programnya, jelek2in orang yang dukung programnya eh pas dapet jatah diterima juga. Yang begitu juga wajar, manusiawi, cuma gak tau malu.
ini kenapa Media bawa-bawa Viking ya?
Belum tentu beliau saat mendukung MBG ini sebagai representatip Viking, tapi representatip Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dan Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jawa Barat.
Jadi ya wajar.
Ada ketidakadilan sistemis dlm format baru Piala Dunia yg berisi 48 tim. Karena jumlah grup yang sangat banyak, bagan turnamen di fase gugur tdk bisa mempertemukan semua juara grup dgn runner-up secara merata.
Sebagian runner-up grup akan menghadapi runner-up grup lainnya di babak sistem gugur pertama. Misalnya Afrika Selatan๐ฟ๐ฆ (runner-up grup A) vs Kanada๐จ๐ฆ (runner-up Grup B).
Sementara sebagian runner-up lainnya harus menghadapi para juara grup. Jepang๐ฏ๐ต (runner-up Grup F) berada di kategori yang terakhir.
Alih2 dpt jalur keberuntungan utk bertemu dgn sesama runner-up, Jepang๐ฏ๐ต merana krn masuk ke plot bagan konvensional yakni runner-up versus juara grup.
Jepang๐ฏ๐ต vs Brazil๐ง๐ท sebenarnya adl pertarungan yg sangat layak terjadi di perempat final. Tapi akhirnya, malah langsung duel di fase 32 besar.
Terlalu dini..