Ini artikel sumpah bagus banget
Coba ini ga dikaitin ke bola. Misal mau jatuhin figur, lawan politik atau memantik perang:
Sebar hoax > dibalut sama AI > diboost sama algoritma > direcycle sama orang (karena engagement tinggi, bayaran tinggi) > yang biasa pasif, jadi ikutan > orang percaya > muter gitu terus
Ya ini yang dihadapi di jaman sekarang, udah terlihat juga patternnya.
Yakin perang dunia ketiga nanti dimulai oleh tipu daya AI dan massivenya efek sosmed 😂
Ternyata perasaannya aneh ya
Sejak sepanjang pertandingan berjalan bahkan hingga sekarang telah usai, perasaannya belum hilang juga
Ternyata lebih besar rasa nggak ingin melihat salah satu dari mereka kalah, daripada rasa ingin melihat salah satu dari mereka menang
Arogant no.1
Sebelum Piala Dunia tampil disebuah podcast bilang kalo Piala Dunia itu engga penting.
Kalo engga penting kenapa musti harus maksa ikut? Kenapa engga mawas diri terus kasih kesempatan buat penerusnya?
Setelah tersingkir bilang Euro 2016 setara sama Piala Dunia. Itu sama aja engga respect kerekan satu timnya yang pengen banget sama Piala Dunia 2026 ini.
Main hanya demi ego sendiri bukan untuk tim.
Sekarang paham kenapa Timnas Portugal engga bisa rela ngelakuin apapun demi Ronaldo. Sementara Timnas Argentina yang rela apapun demi seorang Messi.
Cristiano Ronaldo ini adalah korban dari standar yang dia ciptakan sendiri.
Dia mengidentifikasikan dirinya sbg hero. Sosok yang mendefinisikan dirinya lewat penaklukan, kerja keras ekstrem, dan mentalitas nggak mau kalah.
Selama bertahun2, Ronaldo nggak pernah malu2 menyatakan secara verbal bahwa dirinya adalah yg terbaik, No. 1, dan sosok yg tak lelah mengejar kesempurnaan. Artinya Ronaldo telah menandatangani kontrak sosial dgn publik bahwa dia akan menaklukkan semuanya.
Konsekuensinya, publik sepakat dan mengamini standar tinggi itu. Maka, ketika Ronaldo gagal meraih Piala Dunia dan mencoba melunakkan kegagalannya itu dgn berkata Euro sudah cukup dan Euro dimensinya sama dengan Piala Dunia, maka publik merasa bahwa dia melakukan inkonsistensi.
Publik menuntut Ronaldo dengan standar tertinggi karena dia sendiri yang menolak diperlakukan sebagai manusia biasa saat berada di masa jayanya.
Lalu ketika dia mulai bersikap legawa yg dipaksakan saat kalah, publik melihatnya bukan sebagai kebijaksanaan. Tetapi sbg kerapuhan ego seorang pemenang yg sama sekali nggak paham cara utk memproses kekalahan.
Publik akhirnya menghakimi Ronaldo dengan narasi yang dia ciptakan sendiri.
Sepak bola dunia punya hierarki emosional dan sejarah yang sakral. Menyamakan Euro dengan Piala Dunia adalah bentuk penyerangan konyol terhadap mitos sepak bola itu sendiri.
Saat Ronaldo menyebut Euro setara dengan Piala Dunia, maka dia mengecilkan keringat, darah, dan sejarah komunal seluruh benua di luar Eropa demi mencocokkan realitas dunia dengan pencapaian dan ego pribadinya.
Ronaldo akhirnya tak lebih dari seekor rubah dalam fabel Aesop. Rubah itu gagal mencapai dan mengambil anggur di pucuk paling tinggi, lalu pergi sambil berkata, “Ah anggur itu pasti masam."
Fans sepak bola melihat tindakan ini sebagai bentuk kurangnya rasa hormat. Menolak mengakui Piala Dunia sebagai supremasi tertinggi adl tindakan yg tak sportif. Seorang pecundang yang tak mau menerima kekalahan dengan lapang dada.
Selamat tinggal Ronaldo.
Maaf, tdk ada farewell manis untukmu dan egomu.
@DayMuhamad23293@randomable_ ya kan uda gede itu gaji jukir 50rb per hari , ukuran orang dengan pendidikan rendah , ga punya skill apa2 , penampilan buruk , ga ada yang bisa dijual bahkan jadi gigolopun belum tentu laku , duit 50rb itu uda layak banget , kegedean malahan