@catuaries Gw pernah beliin bini pembalut di koperasi kantorny bini, pas bayar dihandle kasir ibu2.
Gw sih santai ga perlu plastik juga..tp malah ditawarin masuk kantong aj sm si ibu2 sambil senyum2 ๐
@Outstandjing Sy jg ud sadar ini, maka pas bangun rumah langsung desain tiap lokasi utama ada akses LAN kabel di dlm tembok. Ini aj msh kurang ternyata ๐
Mau menutup malam ini dengan ngasih kritik yang semoga membangun pemain timnas Indonesia.
Rizky Ridho:
Donโt take anything for granted. Ban kapten yang sakral itu, posisi utama di bek tengah itu sesuatu yang HARUS diperjuangkan. Banyak orang mau ada di titik itu. Perjuangkan! Pertahankan! Sudah cukup blunder di laga penentuan kualifikasi Piala Dunia dan Piala AFF tadi.
Eliano Reijnders:
Saya tahu dibandingin sama kakak itu sesuatu yang menyebalkan. Tapi lihat permainan hari ini tadi ya lo selamanya akan ada di bawah bayang-bayang beliau. Jangan heran juga kalau nggak dipanggil lagi di timnas Indonesia. Kecuali kalau lo mau keluar dari bayang-bayang itu. Come on, improve! Improve! Lo bermain di salah satu klub terbesar di Indonesia. Manfaatkan itu buat improve permainan! Setidaknya untuk mempertahankan nama lo di talent pool timnas.
Marc Klok:
Lo salah satu pemain senior. Kapten di klub pula. Come on, tenangin diri lo, Klok! Kalau pemain seniornya aja nggak tenang, grasak grusuk, keliatan menyerah, ya gimana satu tim mau naik mentalnya?
Ragnar Oratmangoen:
Main di Liga Indonesia bukan artinya liburan dan bisa setengah-setengah. Kerja keras lagi! Saya tahu kok kemampuan ente. Hanoi 2024 buktinya. Bahkan di FMD Juni kemarin ente masih main bagus! Jadi jangan menurun, plis. Timnas masih butuh ente ya akhi.
Mitch Baker:
Lupain dulu cita-cita jadi Erling Haaland. Fokus tumbuh lebih baik. You got the talent, dude!
Nadeo Argawinata:
Kesempatan pertama di timnas nggak berakhir baik. Tapi lo bangkit di klub. Tampil spektakuler, lalu kesempatan kedua itu datang. Lo nyingkirin Ernando lho. Nyingkirin Teja yang juara di klub. Tapi, puf. Kesempatan kedua itu sia-sia. Pergi gitu aja. Dan seringnya dalam hidup, nggak akan ada kesempatan ketiga. Apalagi keempat.
Setelah memperhatikan beberapa kejadian 3 hari ini. Sebulan ke depan.
1. Teddy akan jarang ngomong di media. Prasetyo akan dominan. Sekali2 Qodari.
2. Pidato Presiden yang akan live akan full script. Tanpa teks ga live. Nanti cm video kegiatan saja+ klip pidato yg diedit
๐ฅ๐๐ ๐๐ก๐๐๐ฅ: Up until minute 75, Arsenal were winning the Champions League Final in 2006 too.
They ended up losing that game.
History is here to repeat itself guys
Batas kelima: menjadikan rekan kerja sebagai sumber validasi utama.
Dipahami itu menyenangkan.
Didengar itu bikin nyaman.
Tapi kalau rasa nyaman itu mulai membuatmu membandingkan pasangan dengan teman kantor, berhenti sebentar.๏ฟผ
Kadang yang merusak itu bukan niat buruk. Tapi batas baik yang dibiarkan longgar.
Batas keempat: menyembunyikan chat.
Tes paling sederhana:
kalau pasanganmu membaca percakapan itu, kamu tenang atau panik?
Kalau harus hapus chat, ganti nama kontak, atau mengatur notifikasi agar tidak terlihat, mungkin masalahnya bukan di pasangan yang โposesifโ.๏ฟผ
Batas ketiga: makan berdua terlalu rutin.
Sekali dua kali mungkin biasa.
Tapi kalau sudah mulai ada pola, mulai ada rasa ditunggu, mulai ada kecewa kalau batal, itu sudah bukan sekadar makan siang.
Ingat! Kebiasaan kecil bisa membangun keterikatan besar.๏ฟผ
Awalnya cuma chat soal kerja.
Lalu jadi curhat.
Lalu jadi saling menunggu balasan.
Lalu jadi merasa โdia lebih ngerti aku daripada pasangan sendiri.โ
Di titik itu, masalahnya bukan lagi jam kerja.
Masalahnya adalah batas emosional yang mulai kabur.๏ฟผ
Selingkuh di kantor itu seringnya tidak dimulai dari hal besar.
Tidak langsung dari ajakan ketemu diam-diam.
Tidak langsung dari pegangan tangan.
Seringnya dimulai dari batas kecil yang awalnya terlihat biasa.๏ฟผ
Soal elpidipi lah beyumenen lah mentri lah semua disuruh retret ke ginian, orang2 pada overtingking. Padahal semua bermuara pada duit. Retret = easy money.
Semua bermuara pada revenue untuk mil*iter, terutama utk kaum non-jend*ral.
Soal pembentukan badan baru yg akomodir ekspor komoditas pendapatku setuju.
Sebenernya ini udah lumrah di berbagai negara, cina ada cofco, Malaysia mpob, dll. Yang buat respon market negatif menurutku:
- buat margin company turun
- fleksibilitas berkurang
- tambahan aturan birokrasi
Tapi kalau ini berhasil ada manfaat yang didapat:
- devisa naik
- harga komoditas terkontrol
- punya bargaining power di international trade
- mata uang bisa lebih stabil
Dalam pidato pak Presiden juga singgung ada kerugian negara dari under invoice.
Dari pov asing tidak suka karena harga sawit, nikel bisa jadi lebih mahal karena Indonesia bargaining power.