PHK massal. 34 orang, termasuk aku, dipanggil ke ruang meeting jam 9 pagi, dikasih tau lewat 1 slide power point yang judulnya "Efisiensi Organisasi".
Gak ada yang nangis di ruangan itu. Semua diem, saking kagetnya.
Setelah pengumuman, HR ngasih penjelasan cepet soal hak-hak kita: pesangon, JHT, sama JKP alias Jaminan Kehilangan Pekerjaan.
Penjelasannya buru-buru banget, kayak lagi baca dari kertas contekan. Aku sampe harus nulis di HP sendiri biar gak lupa istilahnya.
Aku pikir, oke, minimal ada kejelasan. Ternyata itu baru awal dari ribetnya.
Aku coba klaim JKP lewat aplikasi seminggu setelah PHK, sesuai yang disaranin.
Statusnya "ditolak", tanpa alasan jelas di layar. Aku telpon call center, nunggu 40 menit, akhirnya dikasih tau: laporan PHK dari perusahaan belum masuk sistem BPJS Ketenagakerjaan.
Jadi aku yang harus balik lagi ke kantor lama, minta HR ngelaporin, padahal mereka yang PHK aku duluan.
Aku cerita ke temen seangkatan PHK, namanya Fikri. Masalah dia beda lagi: JHT-nya ketahan karena nama di KTP sama di data BPJS beda satu huruf, typo dari HR waktu daftar dulu.
Dia harus urus surat keterangan ke Disdukcapil dulu sebelum bisa klaim.
Dua masalah beda, tapi sama-sama bikin capek: yang salah bukan kita, yang harus benerin, ya kita.
cc : leunira3fhlumumba
Wajah Maling yang nyuri di jalan AMD X Petukangan Utara Jaksel 28 juli 2026
Hallo Ajad Sufriyadi 18/01/87 Jl Kapuk Muara Blok A no 51 RW 004 RT 011 Penjaringan Jakarta Utara
Kamu kok vangsat banget ya..
Share keras agar segera tertangkap
Kalo ada konten demo lewat diberanda kalian langsung like dan posting ulang!
Jika itupun kalo Kalian peduli dengan kecemasan negara saat ini, dengan melakukan itu secara tidak langsung kita membantu perjuangan temen" yg disana melalui sosial media, karena media terbungkam!
X DO YOUR MAGIC
MASA KITA KALAH SAMA ALGO⏳️
Buktikan post ini bisa sampai kepada semua penghuni X wak.
Pemerintah bungkam kita lawan
X membungkam kita makin gaungkan lebih kencang
Dukung suara rakyat sampai kezaliman tumbang 🙌✊️
Ssshh,
jangan berisik!
Jurnalis lokal dilarang liputan demo sendiri.
Kamera disita,
ruang siar diancam ditutup.
Katanya demi stabilitas nasional yg rapuh itu.
Tapi tunggu dulu…
Karpet merah langsung digelar buat jurnalis asing.
BBC,
CNN,
Reuters silakan masuk,
silakan foto!
Pemerintah haus validasi internasional,
tapi alergi kritik rakyat sendiri.
Logika jenius penguasa kita, Rakyat sendiri dianggap bodoh & gampang terprovokasi.
Kalau bule yg nulis,
baru dianggap keren & berkelas.
Sedih ya, Saat rakyat turun ke jalan, layar TV nasional terasa biasa saja. Tapi media Korea Selatan justru ikut menyoroti apa yang terjadi di Indonesia, bahkan membahas program MBG.
Bukan soal setuju atau tidak. Yang dipertanyakan adalah, kenapa suara dari luar terdengar lebih lantang daripada suara dari dalam negeri?
Enzo Fernandez'in İspanyol oyuncu Cubarsi'ye yaptığı faul sonrası kırmızı kart görmesi Arjantinli taraftarların hiç hoşuna gitmedi.
Enzo şu an ülkesi Arjantin'de finali sattığı gerekçesiyle eleştiriliyor.