Hari ini hari dimana aku harus menyerahkan uang per 5 bulan dari biaya sewa tempat.
Bukan masalah biaya tapi diriku yang sekarang harus beradu dengan imaji akan masa lampau diantara dirinya dengan pemilik tempat ini.
Ah sudahlah! Kalau tidak nanti malay semakin di terror
@Drustawangsa Belum mendapat kesempatan untuk berpikir, terdapat rangkulan melingkar pada pinggang.
Aku pun mengikuti tarikan yang diarahkan olehmu kedalam kediaman si wira, lebih tepatnya menuju kamarnya.
Ah sudah tahu akan berakhir seperti apa yang teruni disini pun akan mengikuti
@Drustawangsa Jarak menipis membuat ku harus menelan saliva dengan cepat, wajah memanas akibat bariton rendah yang menggema di telinga.
“Baiklah— aku akan membayar perharinya?”
Ucapku mencoba menebak asal disana.
@Drustawangsa Benar saja, tidak mungkin jika hanya melakukan pembayaran kan Karina?
Tapi apa?
“Sebetulnya aku mau pinjam laptop juga, karena ada laporan ilmiah yang harus dikerjakan.”
Ada jeda dalam ucapku disana,
“Tapi laptopku masih dalam perbaikan kak, boleh ngga ya?”
@Drustawangsa Terbukanya pintu tersebut membuat pikiran tak karuan sejak tadi sirna,
“Ah ini pak— kak, aku mau bayar terusan kos.”
Ujarku seiring mengulurkan sebuah amplop disana.
Sinar mentari sudah semakin pada kejayaan begitu pun suhu membara yang kian menyala setiap detiknya, tubuh ini tak kuat mengingat terbiasa dengan sejuk dan dinginnya Negara tempat Ayahku lahir.
Menyedihkan fakta bahwa diriku harus tinggal di Negara panas seperti ini
@Drustawangsa *
Apa baru saja yang ku dengar? Apakah ucapan itu benar? Pria ini akan benar-benar bertanggung jawab?
Namun belum larut dengan lamunanku, sudah di kejutkan dengan sentuhan pada ranum ini.
“Mmm-“
Kupejamkan kembali kedua mataku, menikmati
@Drustawangsa *
Sungguh nikmat!
Kedua tanganku lingkarkan di leher sang adam takut-takut jatuh. Ku coba kembali menghirup udara dengan benar.
“Hahh— kak.. keluar didalem?”
Baru sadar apa yang hangat di bawah sana.
@Drustawangsa *
Seperti mimpi, aku terus dibawa nikmat hingga tak sanggup lagi berkata-kata selain sebuah pujian atas sentuhan mu dibawah sana.
Puncak fantasi tiba membuat tubuh ku bergetar hebat, terasa benda tumpul itu berkedut seiring cairan hangat memenuhi vaginaku.
Nikmat
@Drustawangsa *
Senang bukan main ketika keinginanku terkabul, semua sentuhan ini bak hadiah surga yang tidak terbayangkan.
“Ehh— kak Tris— ah!”
Lagi dan lagi, diriku dibawa kedalam fantasi yang begitu memikat, candu, dan terhanyut dalam setiap hentakan vaginanya
@Drustawangsa *
Bahwa ini adalah awal mula dari sebuah kesalahan?
“Lagihh kak, more and more.”
Rintihan merdu itu kulantunkan seraya pinggul yang sengaja menggoda jantan disana dengan menggerakkannya.
@Drustawangsa *
“E-eh kak! Bukan gitu maksud aku.”
Sanggahku ketika mendapati tubuhku di tegapkan kembali, belum sempat mengambil nafas disana.
“kak tristanhh emmhh—“
Panggilku pada penamaan milikmu kini terasa dalam lubang kehangatan disana, nikmat? Tentu saja namun ia tahu
@Drustawangsa *
Deru nafas masih terdengar begitu berat, bahkan ambruk disana tak peduli punggung ini sudah di lumuri cairan milikmu.
“Hahh— hahh— kayanya, seharusnya gak gini deh.”
Harusnya lebih lama apa gimana maksudnya Karina?
@Drustawangsa *
Mendengar pertanyaan yang kau ajukan membuatku menggeleng keras disana, tentu saja!
Minggu ini adalah masa suburku.
“Ja-nganhg kak sshh uhh—“.
@Drustawangsa *
Perubahan posisi cukup membuatku kewalahan, namun tetap menopang tubuhku dengan kedua lengan dan lutut.
Kembali benda keras nan tumpul itu menghujani leher rahim ku dengan begitu nikmat, tak kuasa sehingga ku gigit bibirku untuk menyalurkan rasa tak tertahankan itu