"Yasudah ayo kita bereskan." Begitulah malam hari ini mereka habiskan dengan beberes kerusakan di sana sini.
Semoga saja. Semoga grand opening kedainya nanti berjalan lancar.
- End.
Hela napas panjang berhembus begitu saja usai dapati kondisi kedainya yang berantakan. Belum juga buka tapi sudah porak poranda. Ia mendelik tuk tatap Haru.
"Ck, lihat ulah kalian!" Reiji berkacak pinggang. Meski begitu tak akan tega ia marah pada si kesayangan.
Langkahnya terhenti beberapa meter di belakang Haru, ia cukup dibuat terkejut dengan ulahnya. Apa-apaan anak itu punya senjata yang berbahaya begitu, decakan Reiji terasa cukup kuat untuk minta penjelasan lebih lanjut. “Kau dapat darimana benda berbahaya itu?”
@youikitsune
Tangannya kembali direntangkan ke depan sejurus kemudian ia hempaskan ke samping dan ajaibnya kabut yang halangi jarak pandang Haru pun ikut menyingkir. Bagi seorang Kuraokami, hujan, kabut bahkan salju adalah hal yang bisa ia kendalikan sesuka hati.
“Dia youkai.” Satu kalimat singkat keluar dari Reiji, ia memilih untuk kembali menyeruput udonnya.
“Bisa tolong berikan satu porsi Udon ini untuknya, Haru?” tanya sang dewa sembari menyodorkan semangkuk Udon yang belum mereka sentuh.
@youikitsune
Senyum si wanita menyeringai semakin lebar buat Reiji hanya menghela napas lelah.
“Wakatta, tunggu sebentar ya nona.”
Reiji kembali ke dapur. Ia menepuk pundak Haru lalu menyilangkan tangannya dengan helaan napas jengah.