Israel isn't happy.
They lobbied Washington for years to attack Iran.
The US finally did it. Struck Iranian nuclear sites. Deployed the Navy. Lost American lives.
Israel's contribution? Minimal, then almost nothing. They left the US to fight alone and used the war to distract from people noticing that they were illegally taking more of Lebanon's land.
Israel now occupies 770 square miles of Lebanon. Nearly one-fifth of the country. And they have announced they're not giving it back.
They wanted the war with Iran. They didn't fight it. They used it as a cover to invade Lebanon. And now they're angry the war with Iran is ending.
What do you think about that?
Kalo narsum 3 org sejenis & dr kubu yg sama semua, dgn host yg punya track record bias ke kelompok yg sama, itu namanya bukan diskusi, tapi product marketing. Pelakunya biasanya disebut sales.
Pak Guru Iman Zanatul Haeri curhat di Mahkamah Konstitusi:
"Polisi Punya SPPG, Tentara Punya SPPG, Anggota DPR Punya SPPG. Kepada siapa lagi kami harus melapor?"
***
Upaya yang kami lakukan secara konstitusional ini adalah upaya yang paling mendasar, jika boleh menyebut, upaya terakhir.
Karena akses untuk mengevaluasi agar anggaran kesejahteraan guru dalam anggaran pendidikan tidak diambil oleh MBG, tidak ada salurannya.
Jujur saja.
Kami mau melapor ke polisi, Polisi punya dapur SPPG.
Kami mau melapor kepada Tentara Nasional Indonesia, tentara punya dapur SPPG.
Kami mau melapor ke DPR RI, anggota DPR banyak yang punya dapur SPPG.
Jadi memang ini jalan terakhir untuk kami, mengadu kepada siapa lagi?
Kepada konstitusilah kami berharap, kalau enggak punya dapur ya.
Majelis Hakim Yang Mulia,
Saya sadar kedudukan saya sebagai saksi — saya menyaksikan, melihat, membaca, menerima laporan-laporan dari para guru.
Karena saya guru sejarah, saya juga merasa perlu mencari jawaban di masa lalu.
(hakim: waktunya sudah cukup, nanti...)
Mungkin yang terakhir — perlu diingat bahwa ketika amandemen keempat tahun 2002 disampaikan, seperti dalam PowerPoint, kita lihat bahwa anggaran sekurang-kurangnya 20% itu memang cita-citanya untuk kesejahteraan guru.
Jadi kami berharap ini memang untuk guru, dan tidak semestinya diambil oleh MBG.
Ngikutin sidang MK tempo hari.
Sakit hati pas menyadari bahwa program MBG yang memangkas anggaran pendidikan itu sebenarnya bisa banget untuk
- gaji guru yang layak
- UKT yang lebih terjangkau
Yg paling menyesakkan saat pak @zanatul_91 cerita kalau pengembangan karier guru tuh gelap. Tidak ada pembukaan PNS untuk guru. Sebagian guru akhirnya memilih mengundurkan diri.
Yg membuat geram adalah perwakilan pemerintah yg mempertentangkan antara hak pangan vs hak pendidikan. Padahal, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Yg harus dilihat adalah sektor mana yg pemenuhannya masih kurang, itulah yg harus dinaikkan.
Ga pantes lu jadi anggota dewan, woi Nana!
Ga pantes lu sebagai perempuan pejabat malah body shaming rakyat perempuan yang kritis & pemberani kayak gitu, woi Nana!
Adu debat substansi kayaknya lu juga kalah sama Mak Denok, makanya hanya bisa menghina fisik 🤬
Demo di Sudirman-Thamrin itu jenius bgt btw..
Pantes polisi dan pemerintah panik mampus.
Playground luas, berpotensi shut down industri seharian, kalo ada apa2 banyak celah bisa masuk gedung perkantoran dan banyak gang,
dilihat langsung sama asing terutama investor, bisa membuat orang kantoran yg biasanya tak acuh untuk turun ke jalan.
Sebelum2nya Senayan-Slipi terlalu terpojok, bahaya, ladang cul1k aktivis.
Dan banyak wifi dari atas gedung perkantoran, sehingga live report warga tetap lancar.
cc:threaddikuh
Tadi siang, di Mahkamah Konstitusi, Mas Iman @zanatul_91 bilang,
"Majelis Hakim Yang Mulia, upaya yang kami lakukan secara konstitusional ini adalah upaya yang paling mendasar, jika boleh menyebut, UPAYA TERAKHIR.
Karena akses untuk mengevaluasi agar anggaran kesejahteraan guru dalam anggaran pendidikan tidak diambil oleh MBG, tidak ada salurannya. Jujur saja. Kami mau melapor ke Polisi, Polisi punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke Tentara Nasional Indonesia, tentara punya dapur SPPG. Kami mau mau melapor ke DPR RI, anggota DPR banyak yang punya dapur SPPG.
Jadi memang ini jalan terakhir untuk kami mengadu. Kepada siapa lagi? Kepada konstitusilah kami berharap. (Itu pun) kalo (MK) ngga punya dapur ya."
Sebelum menutup paparannya, Mas Iman bilang,
"Sekali lagi, Majelis Hakim. Kami para guru di sini hadir untuk memberikan peringatan dan kesaksian. Bahwa kita sudah sampai pada masa kebodohan merajalela. Ketika MBG dibela, keracunan dianggap biasa, mempertontonkan keserakahan, dan membiarkan negeri ini dalam malapetaka.
Saya bersaksi, siapapun yang merampok anggaran pendidikan, di dunia DIPENJARA. Di akhirat dia masuk NERAKA."
Ini adalah bukan hanya keluhan, curhat, dan keresahan Mas Iman Zanatul Haeri, seorang Guru Sejarah di Jakarta. Tapi ini juga keresahan saya, Achmad Anwar Sanusi, seorang guru di Pandeglang, Banten. Juga keresahan guru-guru lain di Jawa, di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, hingga Papua. Keresahan seluruh guru di pelosok Indonesia terkait MBG ini.
Terima kasih, Mas Iman. Salam hormat!
Stigma PENJILAT melekat karena dulu dia mencaci Prabowo sampe mentok, sekarang memuji setinggi langit. Udah gitu gayanya sengak, bicara "macam betul". Padahal dia sudah bukan lagi role model bagi anak muda. Dicibir khalayak. Ironis, orangnya gak mau nyadar. Ya, kisruh jadinya.
mahasiswa UGM bukan membubarkan diskusi, mereka sedang membersihkan kampus dari sampah rezim otoriter, sebab itulah kewajiban yg harus dijunjung mereka sebagai bagian komunitas akademik en berpikir sehat