New Publication Alert! 🚨
We are pleased to share that the research “Cambodia’s Cash Transfer Programs: Impacts and Policy Lessons”, presented by Ari Perdana @ari_ap at FKP on 21 March 2024, has been published in The Journal of Development Studies https://t.co/Ubob50Do9k
New Publication Alert! 🚨
We are pleased to share that the research “Cambodia’s Cash Transfer Programs: Impacts and Policy Lessons”, presented by Ari Perdana @ari_ap at FKP on 21 March 2024, has been published in The Journal of Development Studies https://t.co/Ubob50Do9k
Jumat malem skimming 3 tulisan FI. Komentar:
1) selalu apresiasi kalau ada yang menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan (panjang)
2) ada yang saranin kirim ke jurnal. 3 dokumen itu belum level jurnal. bukan dimissive, tapi realitasinya mayoritas artikel akan desk-rejected
ya kira2, sebagai research paper, 3 topiknya menjanjikan. tapi eksekusinya belum. maka ya tentunya belum bisa jadi 'masukan kebijakan' kalau itu tujuannya. kalau tujuannya adalah public discourse, sekali lagi litmus testnya adalah pembaca. paham nggak dengan yang disajikan
sama halnya dengan artikel soal cost-effectiveness MBG. judulnya CE analysis, tapi dibuka dengan targeting reform. jadi kayak kita masuk teater buat nonton film A, tapi yang diputar film B. selebihnya sama, pemaparannya nggak langsung bikin kita paham apa tujuan/kesimpulannya
Presiden Prabowo menginstruksikan agar semua tingkatan sekolah di Indonesia mulai mempelajari bahasa Prancis.
Kebijakan ini disampaikan langsung oleh beliau di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee, Paris, pada 28 Mei 2026.
Source: https://t.co/Rnq1CoKirF
Grup Djarum sering dipertanyakan soal komitmen mereka terhadap sepak bola Indonesia. Salah satu kritik yang paling sering muncul adalah kenapa Como nggak pernah mengorbitkan pemain Indonesia.
Jawabannya simpel: mereka terhalang regulasi.
Serie A punya aturan ketat soal pemain non-EU. Setiap klub hanya boleh mendaftarkan maksimal 2 pemain non-EU per musim, di semua kelompok umur. Mirwan Suwarso sendiri ngasih gambaran yang cukup jelas soal dilema ini:
“Let’s say Como ambil anak Indonesia umur 16 tahun, maka jatah yang tersisa untuk slot non-EU di tim utama tinggal 1, yang biasanya diisi pemain Brasil, Argentina, Uruguay atau Afrika yang secara pengalaman sudah terbukti.”
Artinya, kalau Como pakai satu slot buat pemain muda Indonesia, mereka harus rela mengorbankan satu slot untuk pemain berpengalaman yang bisa langsung berkontribusi di Serie A. Buat klub yang lagi berjuang membangun reputasi di level tertinggi Italia, itu bukan trade-off yang mudah.
Yang menarik, Mirwan juga meluruskan satu hal. Meski slot pemain non-EU jadi penghalang, bukan berarti Como menutup pintu buat orang Indonesia sama sekali. Justru sebaliknya, Grup Djarum melalui Mirwan Suwarso memilih jalur lain: mengorbitkan pelatih muda, analis, dan staf profesional Indonesia ke dalam struktur klub.
“Kita lebih memilih untuk memberikan banyak kesempatan pada pelatih dan analis. Ada salah satu analis kita orang Indonesia, anak Bandung. Kurniawan juga pernah jadi asisten pelatih di sini. Dari tim media sosial dan tim produksi juga banyak dari Indonesia, kurang lebih ada 11 orang anak Indonesia yang saat ini berada dalam tubuh tim.”
Jadi bukan nggak ada kontribusi untuk Indonesia. Jalurnya beda aja, bukan lewat lapangan, tapi lewat ruang analisis, ruang pelatihan, dan balik layar.
Jadi sebelum nuduh Group Djarum nggak cinta Indonesia, mungkin worth it buat pahami dulu sistemnya. Nggak semua hal bisa diselesaikan dengan niat baik kalau regulasinya nggak mendukung.