It’s hard, maybe even unfair… but I’m grateful this is happening to me here, among you. I’m not alone. Your strength and your love will be my driving force. See you again soon, Anfield ❤️
"Khairunnas anfauhum linnas".
(Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama).
Sabda Rasulullah SAW tersebut merupakan anjuran kepada umatnya untuk selalu berbuat baik terhadap sesama. Eksistensi manusia ditentukan oleh bagaimana dia bisa memberi manfaat untuk orang lain sebab itulah indikator sejati seorang mukmin.
Nama Mo Salah begitu masyhur sebagai pesepakbola yang perilakunya layak diteladani. Dia menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan yang diimaninya.
Ada banyak narasi kehebatan Salah, baik saat membela Liverpool maupun Timnas Mesir, yang bisa diceritakan. Namun kisahnya sebagai manusia seutuhnya justru yang paling menyentuh hati saya.
Semenjak bergabung dengan Liverpool, Salah punya peran besar melunturkan kultur islamophobia di sana. Ujaran-ujaran kebencian terhadap Islam di media sosial maupun kehidupan nyata alami penurunan.
Selebrasi sujud & menengadahkan tangan ke langit usai mencetak gol jadi gestur sederhana yang dikagumi publik. Presensi Salah serta gestur tersebut bikin publik Liverpool lebih terbuka melihat Islam.
Salah juga dikenal sebagai sosok dermawan & punya banyak kontribusi untuk perkembangan serta pembangunan di tanah kelahirannya, Nagrig.
Ketika negara Mesir diguncang prahara politik yang merongrong soliditas Timnas Mesir. Salah memilih jalan tengah alih-alih menunjukkan keberpihakan pada faksi yang berseteru. Hal itu menjaga rasa persatuan di skuad Mesir.
Salah menjadi wujud sesungguhnya sabda Rasulullah SAW. Ya, Salah lebih dari sekadar pesepakbola. Segenap perilaku apiknya bikin dia jadi panutan.
Perginya Salah akan meninggalkan lubang bagi Liverpool, dalam aspek sepakbola maupun kehidupan sehari-hari.
Semoga kebaikan-kebaikan yang sudah dia contohkan, di dalam maupun luar lapangan, bisa terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Guys Iran baru saja publish peta semua pembangkit listrik di Teluk Persia sebagai target potensial.
Dengan satu kalimat say goodbye to electricity.
Konteksnya langsung. Trump ultimatum 48 jam buka Hormuz atau Amerika hancurkan pembangkit listrik Iran.
Iran jawab dengan peta.
70 sampai 80 persen pembangkit listrik besar di kawasan Teluk ada di sepanjang pantai Persia. Semua dalam jangkauan rudal Iran.
Artinya satu serangan ke infrastruktur listrik Iran bisa dibalas dengan memadamkan seluruh kawasan Teluk.
Saudi. UAE. Qatar. Kuwait. Bahrain. Dalam kegelapan bersamaan.
Dan ini bukan sekadar ketidaknyamanan.
Tanpa listrik pabrik desalinasi yang sudah diancam Iran berhenti. Air minum habis. Rumah sakit pakai generator darurat yang kapasitasnya terbatas. Sistem komunikasi down. Bandara tutup. Rantai pasok pangan kolaps.
Seluruh kawasan yang mengelola hampir sepertiga minyak dunia bisa lumpuh total dalam hitungan jam.
Dan ini yang paling perlu dicermati.
Iran tidak ngomong kalau kami diserang kami balas serang militer. Mereka ngomong kalau infrastruktur kami diserang seluruh kawasan gelap.
Bukan perang militer lawan militer. Tapi perang infrastruktur lawan infrastruktur.
Yang paling menderita bukan tentara di garis depan. Tapi warga sipil di 40 derajat celcius tanpa listrik tanpa air minum.
Trump kasih ultimatum 48 jam.
Iran jawab dengan peta dan koordinat.
Sekarang bola ada di tangan Trump.
Como 1907 is deeply saddened by the passing of Michael Bambang Hartono.
We extend our sincere condolences to the Hartono family and to all at the Djarum Group.
Under the family’s leadership, the Club has entered a new chapter in its history, and we remember him with gratitude and respect.