Guys, Purbaya baru bilang sesuatu
yang menurut gue adalah pengakuan
paling gamblang sekaligus paling mengerikan
tentang kondisi birokrasi Indonesia yang pernah
keluar dari mulut seorang menteri.
"Dikasih tahu, di depan bilang 'Siap Pak'
ternyata tidak dikerjakan sampai tiga bulan.
Dikasih tahu lagi, tidak dikerjakan lagi.
Ketika digeser baru nangis-nangis."
Berhenti sebentar dan biarkan kalimat itu meresap.
Ini bukan cerita tentang satu pegawai malas.
Ini adalah gambaran sistemik tentang bagaimana birokrasi Indonesia bekerja atau lebih tepatnya tidak bekerja dari perspektif orang yang ada di dalamnya dan mencoba mengubahnya.
Seorang Menteri Keuangan salah satu posisi paling powerful di kabinet memberikan arahan.
Pegawainya bilang siap.
Dan selama tiga bulan
tidak ada yang dikerjakan.
Tiga bulan.
Bukan tiga hari.
Bukan tiga minggu.
Tiga bulan.
Dan ini yang paling mengejutkan:
Purbaya bilang dia harus mengingatkan lagi setelah tiga bulan. Dan setelah diingatkan masih tidak dikerjakan.
Baru ketika orang itu digeser dari jabatannya baru nangis.
Bukan nangis karena merasa bersalah tidak mengerjakan tugasnya.
Nangis karena kehilangan jabatannya.
Itu adalah cerminan yang sangat telanjang tentang motivasi sebagian birokrat kita: bukan untuk bekerja. Tapi untuk mempertahankan posisi.
Konteks yang membuat ini semakin berat:
Ini bukan terjadi di kementerian kecil yang tidak punya sumber daya.
Ini terjadi di Kementerian Keuangan institusi yang mengelola anggaran negara ratusan triliun rupiah.
Yang dipercaya investor global.
Yang S&P kasih rating stable.
Kalau di Kemenkeu saja kementerian yang paling disorot, paling diawasi, paling diperhatikan investor internasional masih ada pegawai yang bisa mengabaikan arahan menteri selama tiga bulan tanpa konsekuensi langsung
Bayangkan kondisi di kementerian lain yang tidak mendapat sorotan sebesar itu.
atau emang semua kementrian seperti ini???
Soal bocor yang diakui Purbaya:
"Saya perbaiki tax collection, saya lindungi market dari barang ilegal.
Sudah mulai jalan, tapi masih bocor sana sini.
Orang di lapangan masih bocor."
Ini adalah pengakuan yang sangat penting secara fiskal.
Kebocoran pajak bukan hanya soal wajib pajak yang tidak jujur.
Tapi juga soal oknum di dalam sistem yang menjadi fasilitator yang sudah gue bahas sebelumnya soal 40 perusahaan China yang tidak bayar pajak semestinya dan ada indikasi dilindungi dari dalam.
Dan Purbaya mengakui upaya menutup kebocoran itu masih belum selesai.
Ancaman Purbaya dan gue mau nilai ini secara jujur:
"Kalau tidak, siap-siap saja angkat koper."
Ancaman ini terdengar tegas.
Dan gue appreciate keberaniannya untuk mengucapkannya secara publik.
Tapi ada pertanyaan yang lebih penting dari sekadar ancaman:
Sistem apa yang memungkinkan pegawai mengabaikan arahan menteri selama tiga bulan tanpa ada konsekuensi otomatis?
Kalau sistem sudah benar tidak perlu menteri mengancam satu per satu.
Konsekuensinya sudah built-in.
Tidak kerjakan tugas tiga bulan otomatis ada evaluasi.
Tidak ada perlu nunggu diingatkan dua kali.
Fakta bahwa Purbaya harus secara personal mengancam pegawainya menunjukkan bahwa sistem akuntabilitas internal di Kemenkeu belum cukup kuat untuk berjalan sendiri tanpa intervensi langsung dari pucuk pimpinan.
Dan ini yang paling relate dengan semua yang sudah kita bahas:
Dokumen kebijakan pajak beredar dengan tanda tangan elektronik Purbaya tanpa Purbaya tahu. Karena staf yang bilang "sudah aman Pak."
Dua Dirjen dicopot karena dianggap bocorkan informasi menyesatkan ke pasar.
Karena tidak ada yang lapor ke Purbaya sebelum informasi itu tersebar.
40 perusahaan China tidak bayar pajak ada indikasi dilindungi oknum dari dalam.
Dan sekarang: pegawai bilang "Siap Pak" tapi tidak dikerjakan tiga bulan.
Pola yang sama.
Berulang.
Di berbagai level.
Di satu kementerian.
Soal generasi birokrat dan ini yang paling dalam:
Ini bukan soal satu generasi yang perlu diganti.
Ini adalah soal sistem insentif yang sudah salah sejak lama.
Selama naik jabatan lebih ditentukan oleh loyalitas dan kedekatan daripada kinerja perilaku "siap pak tapi tidak dikerjakan" akan terus ada.
Selama tidak ada konsekuensi otomatis yang cepat dan proporsional ancaman "angkat koper" hanya efektif selama menterinya masih ingat dan masih mau follow up satu per satu.
Selama penilaian kinerja hanya formalitas yang semua orang tahu bisa "diatur" tidak ada yang takut dengan evaluasi.
Purbaya mengungkap sesuatu yang semua orang di birokrasi Indonesia sudah tahu tapi jarang diakui secara publik oleh pejabat setingkat menteri:
Bilang "siap" itu mudah.
Mengerjakan itu pilihan.
Dan selama konsekuensinya tidak cepat dan tidak pasti pilihan yang paling aman bagi banyak birokrat adalah menunggu sampai lupa atau diganti.
Dan kalau itu terjadi di Kemenkeu kementerian yang paling diawasi maka pertanyaan soal MBG yang programnya tidak jelas siapa penanggung jawabnya, Kopdes yang tidak ada yang tahu siapa bayar gajinya, SPPG yang terus bertambah lewat jalur tidak transparan
Semua itu tidak lagi mengejutkan.
Karena sistemnya memang belum dirancang untuk akuntabel.
Sistemnya masih dirancang untuk bertahan.
Kalo sekelas bendahara negara kek gini
jangan heran dengan kementrrian yang lain
pasti gk jauh jauh bedanya
bisa jadi lebih parah
separah yang tidak pernah kita bayangkan
GUys ini sakit sih......
Lu pada ingat gak kemarin ada dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot tanpa penjelasan resmi,
tanpa konferensi pers,
tanpa pernyataan apapun dari kementerian?
Semua pejabat Kemenkeu kompak bungkam.
Tidak ada yang mau menjelaskan kenapa.
Nah sekarang setelah konpers Purbaya mulai kelihatan gambarannya.
Dan ini jauh lebih dalam dari sekadar rotasi biasa.
Ternyata ada sabotase dari dalam.
Purbaya di konpers ini mengakui secara eksplisit ada informasi yang sengaja bocor dari internal Kemenkeu untuk merusak kepercayaan pasar.
Bocoran pertama:
kas pemerintah hanya cukup 3 minggu.
Bocoran kedua:
uang negara tinggal 120 triliun dan hampir habis.
Bocoran ketiga :
dan ini yang paling gila: ada yang dari internal bilang ke investor asing:
Jangan bawa Menteri Keuangan ini ke temu investor. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan akan mengacaukan.
Itu dari internal, kata Purbaya secara langsung.
Bukan dari oposisi.
Bukan dari pengamat.
Dari dalam Kemenkeu sendiri.
Dampaknya nyata ke pasar.
Tiga informasi itu meskipun tidak akurat sudah terlanjur membentuk ekspektasi negatif di pasar.
Rupiah tertekan sebagian karena sentimen yang dibentuk oleh bocoran-bocoran itu.
Dan Purbaya harus terbang ke luar negeri,
ketemu investor satu per satu
menjelaskan bahwa kondisi fiskal kita tidak separah yang disebarkan.
Bule-bule itu bilang clear.
Investor-investor besar juga tidak menanyakan itu lagi.
Tapi kerusakan sentimen sudah terlanjur terjadi di dalam negeri.
Soal pencopotan dua Dirjen jawaban Purbaya sangat mengejutkan:
Ketika wartawan bertanya langsung apakah pencopotan itu ada hubungannya dengan bocoran-bocoran itu Purbaya menjawab:
Iya dan tidak. Ada sedikit.
Tapi ada yang lain-lain juga.
Ini adalah pengakuan implisit yang sangat jelas.
Ada sedikit hubungannya tapi bukan satu-satunya alasan.
Artinya ada akumulasi masalah yang akhirnya sampai di titik Purbaya memutuskan harus ada pergantian di level Dirjen.
Dan ada tiga masalah lain yang terungkap bersamaan:
Pertama
40 perusahaan asing tidak bayar pajak semestinya.
Mayoritas perusahaan China.
Under invoicing ekspor melaporkan nilai ekspor lebih kecil dari yang sebenarnya untuk memperkecil pajak dan bea keluar.
Dua sudah dikejar dan berjanji membayar.
Tapi 38 yang lain masih berjalan normal.
Tebakan mereka benar kita tidak akan berubah.
Dan yang lebih mengkhawatirkan Purbaya mengindikasikan ada kemungkinan oknum di Dirjen Pajak yang melindungi perusahaan-perusahaan itu:
Kalau dikasih ke orang pajak yang di situ aja sepertinya dilindungin juga kelihatannya.
Makanya rencananya membentuk tim khusus langsung di bawah Irjen atau Sekjen bukan Dirjen Pajak.
Kedua
dokumen pajak jalan tol dan pajak orang kaya yang Purbaya sendiri tidak tahu ada.
Wartawan tanya soal dokumen rencana pajak baru yang beredar pajak jalan tol, pajak orang kaya.
Jawaban Purbaya:
Pajak orang kaya saya baru dengar kemarin.
Pajak jalan tol sama, baru tahu kemarin."
Wartawan bilang dokumen itu ada tanda tangan elektronik Purbaya.
Oh, tanda tangan elektronik ada loh.
Kadang mereka bilang 'sudah aman Pak' saya tanda tangan."
Seorang Menteri Keuangan tidak tahu ada kebijakan yang beredar atas namanya karena terlalu percaya ke staf yang bilang "sudah aman."
Ketiga
sistem IT SPT pajak yang masih bermasalah.
Wajib pajak yang sudah mengisi SPT badan datanya bisa hilang begitu saja setelah server dimatikan 15 menit untuk maintenance.
Semua isian dari awal lagi.
Purbaya bilang sudah ada yang sengaja menghidupkan lagi akses yang sudah dimatikan:
Ada orang dalam yang ngidupin lagi gitu.
Gambar besarnya dan ini yang paling mengkhawatirkan:
Kemenkeu adalah kementerian yang secara eksternal paling dipercaya investor global saat ini. S&P bilang stable. IMF bilang bright spot.
Tapi di dalam:
Ada Dirjen yang diduga aktif sabotase kepercayaan pasar terhadap Menkeu-nya sendiri.
Ada 40 perusahaan asing yang tidak bayar pajak semestinya dengan indikasi ada yang melindungi dari dalam Dirjen Pajak.
Ada kebijakan yang ditandatangani Menteri tanpa Menteri benar-benar tahu isinya.
Ada sistem IT yang masih bisa disabotase dari dalam.
Dan Menkeu yang paling dipercaya investor global ini masih harus berperang melawan sistemnya sendiri dari dalam.
Kalau Kemenkeu saja masih seperti ini bayangkan kondisi di kementerian lain yang tidak mendapat sorotan sebesar ini.
sungguh sakit ini negeri kita
Kenapa ya rumah2 di Indonesia kurang populer penggunaan peredam panas matahari ?
Padahal keuntungannya cukup signifikan terutama di iklim Indonesia.
Jika kamu pakai AC bisa hemat listrik, krn AC ngga kerja terlalu berat.
Kalopun ngga pake AC, suhu dalam rumah bisa lebih rendah, dan kipas angin ngga perlu muter 24 jam.
Dinding ruangan yang menghadap matahari ngga panas kalo diraba, tidur malam hari jadi lebih nyaman.
[Jadwal CPNS 2026]
PREDIKSI tanggal CPNS 2026 berdasar hisab:
Pengumuman Seleksi : 20 Juli 2026
Pelaksanaan SKD : 5 September 2026
Pelaksanaan SKB : 10 Oktober 2026
dasar perhitungan:
Pengumuman 111 hari deadline penyusunan
Pelaksanaan SKD 55 hari dari pengumuman
Pelaksanaan SKB non CAT 35 hari dari SKD
dasar perhitungan ini hanya menyamakan dengan time line dari CPNS sebelumnya.
Jadi, jika jadwalnya sama dengan CPNS sebelumnya, sebenarnya masih cukup banyak waktu untuk belajar.
Atau yang sudah belajar, masih banyak waktu untuk memperbaiki nilai.
Tapi kalau kamu belum puas dgn nilai kamu,
Kalau kamu belum mulai belajar,
atau bingung mau mulai dari mana,
atau hanya pingin lihat bagaimana soal CPNS,
atau ga sanggup bayar tryout (seperti ratusan followers kami yang lulus di CPNS sebelumnya tanpa tryout)
atau stuck dan belum bisa mengerjakan 110 soal SKD di bawah 90 menit (karena test aslinya 100 menit)
maka kamu harus ke https://t.co/HG9uJmAX7s
karena belajar pemetaan pola soal disitu bisa buat kamu ngerjakan 110 soal SKD CPNS, dari platform apapun, dalam 45-50 menit.
CARA NGE-HACK OTAK KAMU
1. DOPAMIN (hormon bikin happy)
* Selesain kerjaan/tugas
* Makan enak
* Rayain pencapaian kecil
* Me time / rawat diri
2 OKSITOSIN (hormon cinta & bonding)
* Main sama bayi
* Main sama hewan peliharaan
* Ngasih pujian ke orang
* Pelukan sama pasangan/keluarga
3. SEROTONIN (hormon penenang mood)
* Main & having fun
* Berjemur kena matahari
* Jogging/lari
* Gowes atau berenang
4. MELATONIN (hormon tidur nyenyak)
* Redupin lampu pas malem
* Kurangin screen time dimalam hari
* Makan sehat
* Lakuin hal-hal yang bikin tenang