@tb_siswadi kebiasaan buruk > dinormalisasi orang2 di sekitar > lama kelamaan terasa normal, biasa saja, bukan hal besar. aku rasa punya prinsip kuat bisa sangat berpengaruh. kalo udah merasa ga nyaman dengan circle karena ga sesuai dengan prinsip yang dipegang, baiknya menjauh/jaga jarak
Lagi rame kasus grup wa mahasiswa UI mau berpendapat dari sisi medis khususnya psikologi, karena saya bukan polisi moral 😆
Kenapa banyak cowok bisa nyaman ngomongin perempuan secara objektifikasi di grup privat?
Karena ada yang namanya “disinhibisi online”.
Saat merasa aman, anonim, dan “cuma di grup”, otak kita jadi lebih berani ngeluarin sisi yang biasanya ditahan.
Ditambah lagi efek peer pressure.
Di otak, ini berkaitan dengan sistem reward:
• Dapet respon “haha”, “anjir”, “setuju”
• Dianggap lucu, dianggap bagian dari circle
• Dopamin naik.
Lama-lama, perilaku itu “dipelajari” sebagai sesuatu yang menyenangkan dan normal.
Masalahnya?
Kalau terus diulang, ini bisa mengarah ke desensitisasi.
Empati ke perempuan turun.
Perempuan gak lagi dilihat sebagai manusia utuh… tapi jadi objek.
Ini bukan hal sepele.
Dalam banyak studi psikologi, objektifikasi yang terus-menerus bisa jadi pintu awal ke:
• Pelecehan verbal
• Pelecehan seksual
• Bahkan kekerasan seksual
Jadi ini bukan cuma “becandaan cowok”.
Ini soal pola pikir yang dibentuk pelan-pelan… sampai batasnya jadi kabur.
Makanya penting banget buat sadar:
Kalau kalian cuma bisa bonding dengan cara merendahkan orang lain, itu bukan bonding.
Itu conditioning.
Dan kalau dibiarkan, dampaknya bukan cuma ke orang lain…
Tapi ke cara otak memandang manusia..
Contoh real case yang sering kejadian, ini agak menggelikan sih ya:
“Oppa (X-ssi) buka baju dong!” / “Take your shirt off!” di konser --> ini banyak banget kejadian dan orang normalisasi.
Ini sering dianggap bercanda/fanservice,tapi secara konsep:
Yes, ini termasuk sexualizing. 😭😭😭
Kenawhy?
Ada ekspektasi atau tekanan ke idol untuk menunjukkan tubuhnya. Fokusnya ke fisik/sexual appeal, bukan performance (dia ini penyanyi ya/performer). Kalau dibalik (misalnya ke perempuan), orang biasanya lebih cepat sadar itu gak nyaman dan trmasuk melecehkan.
Kenapa ini penting dibahas?
Banyak fans mikir:
Ah ini kan cuma bercanda / fandom culture.
Padahal kalau terus dinormalisasi:
>Bisa bikin batasan jadi kabur
>Mendorong perilaku yang makin ekstrem (sasaeng misalnya)
>Dan tetap masuk ke konsep objectification theory (melihat seseorang sebagai objek, bukan manusia utuh).
😭😭😭😭😭
Contoh real case yang sering kejadian, ini agak menggelikan sih ya:
“Oppa (X-ssi) buka baju dong!” / “Take your shirt off!” di konser --> ini banyak banget kejadian dan orang normalisasi.
Ini sering dianggap bercanda/fanservice,tapi secara konsep:
Yes, ini termasuk sexualizing. 😭😭😭
Kenawhy?
Ada ekspektasi atau tekanan ke idol untuk menunjukkan tubuhnya. Fokusnya ke fisik/sexual appeal, bukan performance (dia ini penyanyi ya/performer). Kalau dibalik (misalnya ke perempuan), orang biasanya lebih cepat sadar itu gak nyaman dan trmasuk melecehkan.
Kenapa ini penting dibahas?
Banyak fans mikir:
Ah ini kan cuma bercanda / fandom culture.
Padahal kalau terus dinormalisasi:
>Bisa bikin batasan jadi kabur
>Mendorong perilaku yang makin ekstrem (sasaeng misalnya)
>Dan tetap masuk ke konsep objectification theory (melihat seseorang sebagai objek, bukan manusia utuh).
😭😭😭😭😭
my therapist told me, "stop assuming people are mad at you. Stop attempting to read people's minds. stop trying to manage the thoughts and emotions of others. let people be in charge of themselves. if they have something to say to you they will and if they don't it is their responsibility not yours. overthinking kills happiness" and that hit me like a brick.
@sebongie99 Oh, my bad. Maybe I should’ve used the word shading instead of mention. It’s hard not to see your twt as shading since the post you quoted is doing that. I’m not asking you to stop defending them, yes they're horrible. I just want to tone down the shading part of unprovoked twt.
@Anbazhagan60007@mnwnholics I'm not completely hate them, knowing there are people like my irl friends out there. However, this kind of behavior that stirs up conflict is really disturbing, no matter what fandom I’m part of.
@Anbazhagan60007@mnwnholics I’ve met multistan-armys and become friends with them irl. Most of them are nice and acknowledge how childish their fandom behavior can be. But what I’ve seen on social media is the opposite. The only person I found sane was a former fan who quit because of the fandom itself.
Fangirlingan jgn dibikin ribet. Mau lu hype event nya doang silakan, mau lu hype projectnya doang monggo, mau lu hype momentnya aja gapapa, mau lu ngebadut doang terserah, mau lu beli merchnya aja bebas, bahkan lu cuman nulis au nya pun aman bgt, retweet doang pun ga masalah, syukur2 lu bisa ngikutin semuanya. Dan semisal ada fans baru nyemplung jgn dikatain fomo, cukup disupport dan dibimbing aja. Fans lama juga jgn merasa si paling senior. Kalo ada fans pindah fandom jgn dikatain kacang lupa kulitnya. Selama ga salty ke fave kita mah udah biarin. Pokoknya mah yok sesama fans saling support fave kita, kita hype fave kita dengan cara nyaman masing2 tanpa nyinyir. Pliss normalisasi ini ☺️
@sebongie99 I get that they’re usually the ones who start it by dragging people who have nothing to do with them. But retaliating in the same way will only keep the cycle going with no end (yk that’s what they do, smth we’re still seeing now and how people see them now a certain way)
@sebongie99 Hi! Sorry if this sounds a bit harsh, but please don't mentioning anything that might spark conflict with other fandoms. It’s okay to defend or clear misunderstandings, but doing it on unrelated posts may escalate things & could end up affecting your own fandom and even your fav
@coupseelatte@tanyarlfes Iyes memang, tapi menjawab pertanyaan diatas yaitu bbrp org mungkin risih dengan konten berbau kpop. Bisa jadi sendernya juga salah satu yg demikian, meskipun memang yg di tweetnya bukan ttg kasus/skandal. Ini cuma jelasin aja kemungkinan yg ada di otak sender & awal mulanya knp