Gimana sih pertolongan pertama saat emosi/marah/benci/sakit hati tapi biar ga jadi penyakit?
Nama metodenya R.A.I.N, metode ini diajarin temenku yg psikiater biar lebih mindfulness dan meredam emosi supaya ga jadi tekanan batin:
1. R - Recognize
Identifikasi perasaan kita, "aku merasa sakit hati", "aku merasa marah", dsb
2. A - Allow (or Accept)
"Wajar klo aku marah karena omongannya nyakitin banget", dsb
3. I - Investigate
Investigasi efek di diri, "Saking marahnya tenggorokanku terasa tercekat", "saking sedihnya sampe dadaku sakit"
4. N - Nurture
Sayangi diri sendiri, tenangin diri dengan segala kelebihan kita:
- "engga ko, aku tau bahwa aku ga seperti yg dia bilang, aku cerdas, baik, dsb apa yg dia omongin ga bener"
- "dia gatau aku kyk gimana, makanya ngomong seenaknya" dsb
Supaya lebih lega jg bisa dengan ditulis ya.
Jangan malah: "ih kata dia aku bego, iyani emang aku bego ga bisa apa2" itu namanya jahat ke diri sendiri, klo diterusin bisa depresi.
Jadikan diri kita orang yg paling sayang ke diri sendiri. Karena yg bisa menyelamatkan diri kita, ya kita sendiri (dan Allah tentunya).
Jika sulit mengurai harus minta bantuan psikolog/psikiater ya:
Jangan nunggu sampe depresi dulu, krn klo depresi otaknya jd berkabut (brain fog) ga bisa berpikir jernih dan malah jd repot sendiri krn jd penyakit, sedangkan orang yg dibenci malah lg menikmati hidup.
Semoga bermanfaat 😊👍
[TRYOUT GRATIS TKA 2026 PART 10] ✨
Calling out temen2 SMA/SMK/MA yang pengen belajar buat TKA 2026! Ada tryout gratis nih, yuk daftar sekarang
Cara daftarnya gampang 👇
- Like, Retweet, dan Follow @AnaliticaId
- Mention 3 teman kamu di Reply
- Login di app Analitica atau klik link ini https://t.co/6nCJD6RYlR
- Upload buktinya
- Tunggu verifikasinya
- Kerjakan tryoutnya😁
gua sedih bgt, lebih sedih dan lebih patah hati gagal dlm pertemanan dibanding percintaan. gua se-ngga worth it itu ya? apa gua yg salah ya? apa gua seboring itu jd orang? kenapa ya gua selalu jd opsi terakhir? kenapa gua yg harus reach out duluan buat mastiin gua ga invisible?
Selamat kepada orang-orang yang kemarin menyebarkan foto hoaks tentang "penyakit yang disebabkan LGBT" dan ikut-ikutan mengamplifikasi berita-berita yang bernada kebencian terhadap kaum marjinal.
Selamat, kalian sudah berhasil melanggengkan kekerasan terhadap sesama manusia.
"as a woman I have so much empathy for my mother, but as a daughter I have so much anger"
resonated deep to me karena memang hubungan ibu-anak perempuan memang kompleks sekali, rasa sayang, rasa marah, rasa ingin memperbaiki, rasa ingin pergi jauh.. tumpah ruah jadi satu
mau lu les atau nggak buat ngejar ptn jangan pernah ngeremehin usaha orang, kita gak tau gimana perjuangan dia. gak bisa disamaratakan. at the end kalo lu ngerasa usaha lu lebih ok, mending keep in ur mind deh karena lu gaakan tau habis ini lu bakal kena masalah apa di hidup lu
Pernah merasa harus menjadi “laki-laki sejati” atau “perempuan yang baik”?
Kalau iya, kamu juga pernah merasakan dampak heteronormativitas. SOGIESC membantu kita memahami bahwa identitas dan ekspresi diri tidak harus selalu mengikuti ekspektasi tersebut.
Apa itu SOGIESC? Berikut kami rangkumkan penjelasannya untuk kamu!