Salah satu bentuk menghargai diri sendiri adalah berani melepaskan.
Melepaskan kebiasaan yang merugikan, lingkungan yang membuatmu terus merasa kecil, atau seseorang yang kehadirannya lebih banyak membawa luka daripada ketenangan.
Tidak semua yang sudah lama bersama kita harus dipertahankan. Tidak semua yang pernah membuat kita bahagia layak dibawa sampai masa depan. Kadang, sesuatu harus berakhir agar kita memiliki ruang untuk bertumbuh.
Normalisasikan untuk jadi “nggak selalu ada” itu penting, terutama saat kondisi mental lagi berantakan. Nggak semua pesan harus dibalas cepat, nggak semua ajakan harus dipenuhi, dan nggak semua orang harus selalu punya akses ke kamu setiap saat. Kadang, hal paling sehat yang bisa kamu lakukan justru menarik diri sebentar, bukan karena kamu cuek atau berubah, tapi karena kamu lagi butuh ruang buat beresin isi kepala sendiri.
Aku pernah membaca satu fakta tentang perasaan seseorang:
1. Orang yang pernah trauma dan menyimpan luka yang dalam, sering kali justru terlihat indah dan menawan di mata orang lain.
2. Orang yang paling kesepian adalah mereka yang paling ramah pada semua orang.
3. Orang yang paling hebat dalam mengerti, memahami, dan mendengarkan, biasanya adalah mereka yang memeluk kesakitannya sendiri dalam diam.
bukan difase ngebet nikah, tapi difase :
— tidak menerima love bombing
— tidak mau hts-an
— tidak mau buang-buang waktu
— tidak mau jadi second choice
— tidak mau merespon drama orang gamon sama mantan
@GoodRecom Seberapa besar permintaan mahar dari seorang perempuan, berarti itu menunjukan seberapa besar perempuan tersebut tidak menginginkanmu.
Keinginan dia dari kamu ya cuma uangnya, bukan kamu. Kalo gak sanggup, mending mundur aja