momen ahli MBG kena skakmat hakim:
Ahli MBG DPR (Parulian): Yang Mulia, di Finlandia dan Swedia, makan siang gratis itu hak subjektif setiap siswa, didanai penuh oleh pajak. Di Inggris hanya untuk kelompok penerima manfaat tertentu. Prancis dan Italia mengombinasikan subsidi negara dengan iuran orang tua dan standar gizi ketat. Bahkan di Jepang, makan siang jadi bagian kurikulum pendidikan lewat Gakkou Kyushoku. Brasil mencantumkan hak atas makan dalam konstitusinya, India lewat putusan MA sebagai hak dasar hidup.
Hakim MK (Saldi Isra): Saya singkat saja, tapi dijawab langsung ya, Pak Doktor Parulian. Dari negara-negara yang tadi Bapak jadikan komparasi, ada enggak di konstitusinya yang menentukan mandatory spending 20 persen untuk pendidikan? Tolong dijawab, Pak.
Ahli MBG DPR (Parulian): Tidak ada, Prof.
Hakim MK (Saldi Isra): Oke, terima kasih, saya tidak melanjutkan pertanyaan saya.
Intinya Saldi menskakmat dengan satu pertanyaan perbandingan Parulian dianggap tidak setara karena Indonesia punya kewajiban konstitusional 20% anggaran pendidikan yang tak dimiliki negara-negara pembanding tersebut.
MBG mau distop libur sekolah.
Yang gak marah:
- Murid ❌
- Orang tua siswa ❌
- Guru ❌
- Ibu hamil dan menyusui ❌
Yang marah:
- Presiden ✅
- BGN ✅
- Yayasan yang punya SPPG ✅
- Parjo, parcok, parpol yang punya yayasan ✅
- "Relawan" SPPG ✅
- Pengusaha MBG ✅
JAWA-BALI TERANCAM REAL KEGELAPAN !!!
BUKAN KARENA BATUBARA INDONESIA SUDAH HABIS,
BUKAN KARENA SEMUA BATUBARA DI EKSPOR
TAPI KARNA TIDAK LAIN DAN TIDAK BUKAN,
KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG AMBURADUL
- RKAB DIPOTONG 60% (VOLUME BATUBARA TURUN JAUH)
- HARGA DMO YANG HAMPIR 50% DIBAWAH HARGA PASAR
- KEBIJAKAN YANG BERUBAH-UBAH
LALU, DARI CERITA INI ADA PERTANYAAN JUGA
APAKAH INI SERANGAN PARA KONGLO BATUBARA?
PLTU Pacitan, salah satu tulang punggung kelistrikan Jawa-Bali, dilaporkan hanya memiliki stok batubara untuk dua hari operasi. Bukan cuma Pacitan.
Sejumlah PLTU besar di sistem Jamali (Jawa-Madura-Bali) sudah masuk lampu merah, termasuk Paiton, Rembang, Indramayu, Tanjung Awar-Awar, Cilacap, hingga Celukan Bawang.
Standar aman PLN itu 26 hari operasi (HOP). Kenyataannya, banyak PLTU hanya punya stok 11-12 hari,
bahkan ada yang tinggal 2 hari.
Pertanyaannya: Kenapa bisa sampai separah ini?
Pertama, DMO harga murah diabaikan produsen.
Batubara untuk PLTU dijual dengan harga DMO hanya USD 70 per ton. Sementara untuk pabrik semen, harganya USD 90 per ton. Untuk smelter dan ekspor, harga pasar jauh lebih tinggi.
Jelas, produsen lebih pilih jual ke luar negeri atau ke industri lain ketimbang pasok PLTU.
Akibatnya, pembangkit listrik jadi "pelanggan prioritas terakhir" para produsen.
Kedua, RKAB batubara dipangkas drastis. Di awal 2026, pemerintah memotong kuota produksi batubara nasional dari 790 juta ton (realisasi 2025) menjadi hanya 600 juta ton, alias dipangkas hampir 24%. Beberapa perusahaan tambang bahkan kena potong 40% hingga 70% dari kuota yang mereka ajukan. Alasannya stabilisasi harga global dan efisiensi SDA.
Volume batubara yang tersedia untuk pasokan dalam negeri ikut menyusut.
Ketiga, persetujuan RKAB lambat dan berlarut-larut. Di awal tahun 2026, banyak perusahaan tambang belum mengantongi persetujuan RKAB dari Kementerian ESDM. Artinya mereka tidak bisa produksi penuh.
Pasokan batubara ke PLTU pun ikut tersendat.
Keempat, royalti batubara dinaikkan progresif. Sejak April 2025, berlaku PP No. 18/2025 yang menaikkan royalti batubara secara progresif berdasarkan harga acuan (HBA). Jika HBA di bawah USD 70 per ton, royalti 15%. Jika HBA mencapai USD 180 per ton ke atas, royalti bisa sampai 28%. Bagi produsen kecil dan menengah, beban ini sangat berat, sehingga banyak yang memilih kurangi produksi atau alihkan pasokan ke sektor yang lebih menguntungkan.
Kelima, ekspor batubara kini wajib lewat Danantara.
Pemerintah menetapkan bahwa mulai Juni 2026, semua ekspor batubara harus disalurkan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Sistem satu pintu ini masih dalam transisi dan memunculkan ketidakpastian bagi eksportir. Di tengah masa peralihan ini, rantai distribusi batubara domestik ikut terganggu.
Ada narasi yang beredar, krisis stok batubara ini sengaja diciptakan untuk menekan pemerintah agar mencabut atau melunak soal kebijakan DMO, RKAB, royalti, dan DSI.
Logikanya, jika listrik padam, pemerintah panik, dan akhirnya produsen batubara bisa "negosiasi ulang" syarat yang lebih menguntungkan mereka.
Kalau dilihat, nama-nama besar di balik tambang batubara Indonesia memang bukan orang sembarangan. Grup Bakrie (BUMI), Grup Indika (INDY), Grup Barito (PTRO), hingga pemain PKP2B lama lainnya punya pengaruh politik dan ekonomi yang sangat besar.
Ketika RKAB dipangkas hingga 70%, wajar jika ada tekanan balik.
Tapi apakah ini benar-benar "serangan terkoordinasi"?
Belum ada bukti eksplisit.
Yang jelas, kombinasi kebijakan yang menghantam semua sisi produksi dibatasi, royalti dinaikkan, ekspor diatur ulang membuat produsen enggan prioritaskan pasokan dalam negeri yang harganya paling murah.
Lampu listrik yang redup di Jawa-Bali bukan sekadar soal stok batubara. Ini cerminan dari tarik-menarik kepentingan antara negara, konglomerat tambang, dan kebutuhan rakyat akan energi yang murah dan andal.
Kebijakan dengan implementasinya kacau dan rantai pasok tidak dijaga, rakyatlah yang paling merasakan
rill anjirr, gue ngeluh salah jurusan sampe lulus kuliah, terus dibilang "berarti pas SMA dulu mikirnya ga mateng" like wtf bro??? you wanted me to be mature enough at the age of 15-17??? mind you, gue yang sekarang otw 23 aja masih hilang arah 😂😂✌🏻✌🏻
Guys, ada analisis dari Rocky Gerung yang menurut gue paling tajam dan paling berani tentang dua hal yang terjadi bersamaan minggu ini penangkapan kepala BGN dan kondisi Indonesia di tengah tekanan geopolitik global.
Dan yang menarik:
Rocky bicara ini langsung dari depan White House di Washington DC.
Bukan kebetulan karena konteks globalnya sangat relevan dengan apa yang sedang terjadi di dalam negeri.
Pertama tentang penangkapan kepala BGN yang Rocky langsung komentari:
"Korupsi di MBG itu betul-betul memperlihatkan bahwa kepekaan terhadap orang miskin bahkan diabaikan hanya karena keserakahan.
Astraekonomiks itu ada di sekitar kiri kanan muka belakang dari Prabowo."
Rocky menggunakan istilah astraekonomiks merujuk pada lingkaran orang-orang serakah di sekitar presiden yang justru Prabowo sendiri sering sebut sebagai musuh yang harus diberantas.
Dan dia menambahkan dengan kalimat yang menurut gue paling menohok:
"Prabowo bilang akan kejar koruptor sampai Antartika. Sekarang yang dikejar ada di sekitar kita sendiri lebih baik ke 'antara kita' dulu sebelum ke Antartika, Pak Presiden."
Dan ini tentang apakah penangkapan ini tanda keseriusan Prabowo:
Rocky memberi analisis yang tidak hitam putih dan ini yang paling jujur dari seluruh komentarnya.
Dia mengakui ada yang positif:
ada konsistensi Prabowo mendengarkan tekanan publik. Penangkapan kepala BGN.
Kasus Andre Yunus yang dikembalikan ke peradilan umum setelah tekanan masyarakat sipil.
Tom Lembong yang mendapat perhatian.
Tapi Rocky menekankan satu hal yang sangat penting:
"Kalau enggak ada tekanan publik Presiden
tidak akan bereaksi radikal.
Ini kemenangan masyarakat sipil
bukan inisiatif presiden."
Artinya: penangkapan ini bukan bukti bahwa sistem sudah berjalan dengan sendirinya.
Ini bukti bahwa tekanan dari luar masih menjadi faktor penentu apakah presiden bergerak atau tidak.
Dan selama itu masih menjadi pola maka harapan itu ada tapi sangat bergantung pada seberapa keras suara publik terus berbunyi.
Dan ini tentang masalah struktural terbesar yang Rocky identifikasi:
Rocky melihat ada gap yang sangat berbahaya antara presiden dan kabinetnya.
Prabowo terbang ke sana sini bertemu Putin, Xi Jinping, Trump. Bermain di level geopolitik internasional yang sangat tinggi. Itu sah dan bahkan diperlukan.
Tapi di dalam negeri kabinetnya tidak beroperasi pada level yang sama.
Menterinya bicara semau-maunya tanpa koordinasi. Kebijakannya tumpang tindih.
Dan yang paling parah:
setiap kali ada kekacauan dari kebijakan menteri yang harus turun tangan membatalkan adalah presiden sendiri.
"Ada jarak antara kecerdasan dan kecerdikan presiden yang bolak-balik ke luar negeri dengan yang tidak dipahami oleh lingkungan di sekitarnya."
Dan solusi Rocky sangat tegas:
"Presiden harus ubah 75% kabinet.
Radical break. Karena tanpa itu semua momentum internasional yang dibangun presiden akan terus dirusak dari dalam."
Dan ini tentang konteks global yang membuat situasi Indonesia makin berat:
Rocky berbicara dari Washington bukan kebetulan. Karena keputusan yang dibuat di White House dan di Wall Street langsung terasa di Jakarta.
Selat Hormuz pintu lewatnya hampir separuh minyak dunia dan 25% konsumsi energi Asia sedang dalam ketegangan. Kalau Hormuz terganggu harga minyak melonjak. Rupiah makin tertekan.
Indonesia yang 100% impor energi langsung kena dampaknya.
Dan bersamaan dengan itu:
Moody's sudah menurunkan outlook Indonesia.
MSCI sudah mencoret saham-saham Indonesia. Investor asing sudah keluar dalam jumlah besar.
Rocky menyebut ini sebagai kondisi di mana MBG dan geopolitik bertabrakan:
"Level ekonomi kita diturunkan oleh Moody's dan MBG jadi masalah. MBG artinya Moody's Broke the Game. Game dari mereka yang enggak ngerti."
Maksudnya: korupsi di program paling flagship presiden di saat yang bersamaan dengan tekanan eksternal dari lembaga rating internasional menciptakan double blow yang sangat merusak kepercayaan.
Dan ini tentang fenomena politik yang paling menarik dari analisis Rocky:
Rocky menyebut kita sedang hidup di era hiperpolitik kebalikan dari era antipolitik sebelumnya.
Dulu orang tidak mau bicara politik. Sekarang semua orang bicara politik setiap hari, setiap jam, di semua platform.
Tapi ironisnya: semakin banyak orang bicara politik semakin tidak efektif suara itu disalurkan. Partai oposisi tidak berfungsi.
'
Gerakan buruh terbatas.
Satu-satunya saluran yang tersisa adalah media sosial dan tekanan publik langsung.
Dan itu yang terbukti bekerja dalam kasus MBG ini.
"Ini paradoks politik global sibuk bicara politik tapi suara publik ditutupi oleh aktivitas intelijen dan deep state. Yang masih bisa menembus adalah tekanan sipil yang konsisten dan tidak berhenti."
Rocky melihat ada harapan kecil tapi harapan itu sangat kondisional. Prabowo terbukti bisa bergerak ketika tekanan publik cukup kuat. Itu berarti masyarakat sipil punya pengaruh nyata.
Tapi selama kabinet tidak dirombak secara fundamental setiap langkah maju presiden akan terus disabotase dari dalam oleh mereka yang tidak satu visi dengannya.
Dan di tengah tekanan dari Selat Hormuz, dari Wall Street, dari Moody's, dari MSCI Indonesia tidak punya banyak waktu untuk terus menggunakan energi presiden buat membatalkan kebijakan menteri-menterinya sendiri.
"Lebih baik ke antara kita dulu sebelum ke Antartika, Pak Presiden."