Nggak semua usaha itu dipermudah. Ada yang jalannya mulus, ada juga yang penuh tanjakan, kerikil, dan tikungan tajam yang nggak pernah kita duga. Kadang kita sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya belum juga kelihatan. Di saat seperti itu, wajar kalau hati mulai bertanya: kenapa punyaku terasa lebih sulit dari orang lain?
Tapi kesulitan bukan berarti usahamu sia-sia. Justru di jalan yang berat itulah kita belajar banyak hal: sabar, tahan banting, dan tetap melangkah meski belum ada yang tepuk tangan. Nggak ada yang melihat jam-jam kamu begadang, kegagalan yang kamu telan sendiri, atau semangat yang kamu kumpulkan lagi setelah hampir padam. Tapi semua itu tercatat dan nggak ada yang terbuang.
Proses yang panjang sering bikin kita merasa jalan di tempat. Padahal, seperti benih yang ditanam, akar bekerja dulu di dalam tanah yang gelap sebelum ada tunas yang muncul ke permukaan. Diam bukan berarti mati. Bisa jadi, justru saat ini kamu sedang tumbuh ke arah yang belum kelihatan.
Karena itu, jangan ukur usahamu dengan kecepatan orang lain. Setiap orang punya waktu panennya masing-masing. Ada yang cepat, ada yang butuh bertahun-tahun, tapi yang bersungguh-sungguh nggak akan pernah pulang dengan tangan kosong. Hasilnya mungkin datang dalam bentuk yang beda dari bayanganmu, tapi ia pasti datang.
Jadi kalau hari ini terasa berat, teruskan saja pelan-pelan. Rawat usahamu seperti merawat tanaman: sabar, telaten, dan percaya. Suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang dan tersenyum, sebab semua lelah itu akhirnya berbuah manis.