Cowok itu duduk di bangku sebelah meja kita. Nafasnya masih ngos-ngosan. Dia liat ke arah hutan yang baru ditinggalin, terus ngomong pelan kayak orang yang masih nggak percaya sama yang baru dialaminya: “Itu ambil gue… yang tinggi itu. Jari-jarinya panjang banget, dingin, kasar kayak kulit wit sing wis basah bertahun-tahun. Bau busuk manis yang bikin mau muntah campur kemenyan gosong. Gue diangkat… badan gue nggak bisa gerak sama sekali. Rasanya kayak lagi ndadi, tapi awake dewe sing nduweni. Dia bawa gue ke pohon besar. Di situ ada… mayat-mayat telanjang yang tergantung di dahan. Beberapa udah hitam lan bosok, perutnya kembung, mata cekung. Satu yang paling deket sama gue… kulitnya biru pucat, kacamatanya pecah sebelah, matane ketusuk. Kayak Iqbal Latief di koran itu. Swarae campur karo kidung lawas… ‘Sepisan iku cukup… Tenane lik… Kowe wis rawuh ing kene… sing njaga iki wis ana suwe…’ Gue nggak tau berapa lama gue di situ. Rasanya… berhari-hari. Padahal cuma dua hari. Gue ngerasa dia lagi ngecurake gue… ngecek apa gue layak diambil atau nggak.”
Cowok itu angkat lengannya yang diperban. “Goresan ini dari jarinya pas dia lepasin gue. Waktu lampu sorot tim pencarian nyala dari bawah, dia jatuhin gue lan ilang ke atas pohon. Gue nggak tau kenapa dia lepasin. Mungkin karena gue nggak ‘layak’… atau mungkin karena waktunya belum pas.” Dia liat ke arah kita. “Kalian juga liat ya? Yang bawa sesuatu tadi pagi? Yang gerakannya lambat kayak nari?”
Raka cuma angguk kecil, tapi gua liat rahangnya tegang. Dimas yang tadinya diem langsung narik napas panjang dan muter muka ke arah jendela warung, kayak nggak mau liat muka cowok itu lagi. Najmi tangannya gemeteran sampai tasbihnya hampir jatuh. Dinda yang pegang bahu cowok itu langsung peluk dia pelan dari samping, kayak takut cowok itu bakal ilang lagi kalau dilepas.
"Dunia ini lucu. Banyak yang terlihat religius tapi bicaranya menyakitkan, banyak yang terlihat pintar tapi aslinya cuma cari muka. Kadang, orang yang dianggap 'kotor' justru hidupnya jauh lebih jujur." 🙏✌️
Hal-hal yang terlihat seperti cinta:
1. Sleepcall
2. Fast respon
3. Long text
4. Kirim makan/minuman
5. Obsesi
6. Kado dan uang
Hal-hal yang sebenarnya cinta itu:
1. Respect
2. Support
3. Kepercayaan
4. Validasi
5. Komitmen
6. Memaafkan
7. Toleransi
8. Komunikasi
Apa yang terjadi setelah mengalami kebangkitan spiritual?
Ya gaada apa-apa, ga tiba-tiba jadi manusia super juga.
Yang berubah hanya cara memandang dunia. Ada celah kecil yang membedakan antara manusia yang bangun(sadar/eling) dengan yang belum bangun(autopilot).
"Celah kecil" ini adalah jarak antara stimulus (kejadian) dan respons.
Orang awam biasanya hidup dalam mode otomatis (reaktif). Bila terpapar stimulus buruk, mereka langsung marah. Contohnya ya sedang terjadi di Indonesia sekarang.
Bagi orang yang sudah mati dalam hidup atau dalam falsafah jawa "mati sajroning urip", ada celah ruang di dalam batinnya di mana ia menjadi pengamat (the observer) atas pikirannya sendiri.
Celah kecil ini tidak terlihat dari luar, tetapi mengubah seluruh dinamika internal. Kamu tidak lagi diatur oleh pikiran, melainkan kamu yang menyaksikan pikiran itu.
Ketika sudah ditahap ini, hidup sudah tidak dalam hitam putih.
Ini adalah runtuhnya dualitas. Manusia pada umumnya terjebak dalam stereotip ekstrem, benar-salah, baik-buruk, sukses-gagal, kawan-lawan.
Ketika kamu keluar dari hitam-putih, kamu mulai melihat spektrum abu-abu yang luas, atau bahkan melihat bahwa hitam dan putih adalah bagian dari satu kesatuan yang utuh (non dualitas).
Kamu memahami bahwa di balik keburukan dan kebaikan ada pelajaran. Kamu tidak lagi menghakimi dunia, tetapi memahaminya.
Ada kebijaksanaan yang dimiliki dalam pengambilan keputusan sehingga menjadi jangkar tidak terbawa arus.
Ketika badai kehidupan (masalah, konflik, tren, kepanikan massal) datang, orang-orang akan terseret arusnya. Namun, karena kamu sudah menemukan "pusat" di dalam diri kamu sendiri melalui proses mati sajroning urip, kamu tetap tenang.
Keputusan yang kamu ambil tidak lagi didasari oleh dorongan ego (keserakahan, ketakutan, atau gengsi), melainkan dari ruang yang jernih. Kamu tahu kapan harus bertindak, kapan harus diam, dan kapan harus melepaskan.
Ditahap ini kamu sudah mengalami kepasrahan total, menerima apapun yang ada dan terjadi saat ini. "Nrimo ing pandum."
Mati dalam hidup berarti keinginan-keinginan egois yang mendikte bagaimana dunia "seharusnya" berjalan telah mati.
Yang tersisa adalah kesadaran murni yang menerima realitas apa adanya saat ini, tanpa perlawanan batin.
Mengalami awakening bukanlah menjadi "lebih dari manusia", melainkan menyadari bahwa esensi manusia yang utuh adalah manusia yang sadar, bijaksana, dan selaras dengan semesta.
Selesai.
Dalam kitabnya, Imam Al-Ghazali menyebut bahwa akar dari semua keterputusan manusia dari Allah adalah satu hal: hati yang bergantung pada selain-Nya. Bukan dosa besar.
Bukan kemaksiatan terang-terangan. Tapi ketergantungan halus pada harta, ketenaran, kedudukan, dan pengakuan manusia.
.
Itulah kenapa Imam Al-Ghazali menempatkan taubat sebagai pintu pertama dari 43 tahapan perjalanan ruhani. Bukan taubat dari dosa besar saja, tapi taubat dari cara pandang.
Dari kebiasaan melihat dunia sebagai tujuan, bukan sebagai jalan. Dari mengira kesibukan adalah kemajuan.
.
Setelah taubat, Imam Al-Ghazali memandu kita ke zuhud. Tapi zuhud di sini bukan berarti miskin atau menjauhi dunia secara fisik. Zuhud adalah kondisi hati yang tidak terpikat pada apa yang dimiliki. Orang kaya bisa zuhud.
Orang yang sibuk pun bisa zuhud, selama hatinya tidak tersandera oleh itu semua.
.
Puncak dari seluruh perjalanan 43 tahap itu adalah ridha dan makrifat. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ketika hati sudah bersih, Allah menurunkan cahaya-Nya langsung ke dalam qalbu. Bukan pengetahuan dari buku.
Bukan dari ceramah. Tapi pengenalan langsung, dari dalam, yang mengubah cara seseorang memandang segalanya.
.
Maka pertanyaan Imam Al-Ghazali itu bukan soal agama saja. Itu pertanyaan paling manusiawi yang pernah ada: hidup di dunia, apa yang kau cari?
Kalau jawabanmu masih berputar di sekitar pengakuan, kenyamanan, dan rasa aman dari manusia, mungkin inilah saat yang tepat untuk mulai jujur dengan dirimu sendiri.
@kebajikanatas Ada cowo single yang punya perilaku sama seperti di atas .
Tapi laki laki seperti ini hanya lah "last choice" atau pilihan terakhir.. karna banyak yang tak sanggup menjalani hubungan bersama pria seperti ini, sebab ini sanga membosankan di mata Perempuan
BAHASA PRIA
1. Ketika dia marah: Peluk dia dengan erat.
2. Ketika dia meminta maaf tanpa ada kesalahan: Itu adalah tanda cintanya yang mengalahkan egonya.
3. Ketika dia menatap matamu: Dia melihatmu sebagai jiwa yang sangat berharga.
4. Ketika dia mengajarkanmu sesuatu: Dia ingin kamu tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.
5. Ketika dia memelukmu: Dia mendambakan dekapan yang lebih erat.
6. Ketika dia mencium keningmu: Dia sedang berkata, "Kamu adalah wanita tercantik bagiku."
belajar jadi manusia yang tenang.
dia cuma read chat? gapapa.
dia ngilang? gapapa.
dia ga ngasih penjelasan? yaudah, gapapa juga.
ga semua hal harus dicari jawabannya sampe abis.
sometimes the answer is simple.
mungkin dia lagi sibuk,
mungkin chatnya tenggelem,
atau mungkin… kamu memang bukan orang yang dia inginkan.
and that's totally okay, it's fine
ga semua orang yang datang harus berakhir jadi milik kita.
jadi daripada ngabisin waktu menebak2 isi kepala seseorang, lebih baik fokus sama orang yang memang memilih untuk hadir.
because the right person won't make you question your place in their life.
kalau bukan dia, ya udah.
let's find someone who's a better fit for you.