@wikoprananda22 @sarahallenss Buddha menganggap orang hetero dan homo itu SAMA, Sang Buddha juga selaku mendukung semua kegiatan yang dilakukan penganut nya tanpa memandang orientasi mereka asalkan hal itu sejalan dengan prinsip dhamma. After all, this is our religion, kenapa sok tau banget soal agama kami?
bingung sm cewe yg takut temenan sm lesbian krena takut ditaksir, perasaan kalopun beneran naksir lu kan punya hak utk nolak? perasaan lu pada jg ga kbratan tmnan sm cowok straight mskipun lu ga suka dia... bukannya soal potensi naksir tuh dua2nya sama yh...
Tidak pernah di kirab suci Tripitaka tertulis bahwa Sang Buddha mencela LGBT, bagi Sang Buddha hetero, homo, dll itu sama, sama sama mahluk hidup yang harus kita sayangi dan kasihi
Tentang LGBT dalam buddhisme oleh bhante kheminda.
Dalam vinaya pitaka, gender dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
1. Pria
2. Wanita
3. Ubhatobyanjanaka
4. Pandaka, lgbt di kelompok ini
Tidak ada dalam tripika yang menjelaskan sang buddha mencela lgbt, karena kita semua sama.
Izin ralat ya Pak Anies, di Indonesia ada agama Buddha, dan sebagai Buddhist, kami tidak pernah menentang LGBT, karena agama kami berfokus pada cinta kasih terhadap seluruh mahluk hidup, termasuk komun LGBT.
menurut gw ya jawabannya baik kok, ga ada menghakimi juga. lgbt tetap mendapatkan hak mereka dalam hidup, dilayani dalam mengurus administrasi negara, tanpa diskriminasi bahkan diperbolehkan untuk bekerja dengan baik. lagian itukan preferensi pak anies juga
Dalam kitab suci Tripitaka juga tidak pernah disebutkan bahwa Sang Buddha menolak atau menentang LGBT, asalkan kita tetap menjalankan Pancasila Buddhist dan semua Dhamma yang sudah di babarkan oleh-Nya, maka komun LGBT tidak di anggap salah dimata Sang Buddha
Sejujurnya gue gak tau ini tulisan akan mengarah ke mana, hanya pikiran random jam 2 pagi setelah melihat demo seharian tadi. If you have time silakan baca or feel free to skip.
Gue tumbuh besar di lingkungan yang sekitarnya penuh dengan kemiskinan. Gue sendiri berasal dari keluar yang biasa-biasa saja, mungkin hanya sedikit lebih beruntung dari yang lain.
Orang-orang hidup dengan serba kekurangan. Boro-boro punya tabungan atau rencana masa depan, besok pun belum tau gimana caranya dapetin makan. Segala macam cara dilakukan untuk bisa dapat uang tambahan.
Dulu kalo pagi suka ada tetangga nenek-nenek, namanya Romlah, sering datang ke rumah bawa jualan kayak jajanan kue atau gorengan, kalo siang ke sore dia lanjut pergi ke sawah. Beliau rajin banget, tapi anak-anaknya pun tetap harus putus sekolah.
Ada juga ibu-ibu tetangga yang buka jasa cuci baju, namanya Bu Sop. Orang di kampung gak punya mesin cuci jadi nyucinya masih dikucek sendiri manual. Beliau meninggal dunia karena penyakit kronis dan tidak punya biaya untuk rutin berobat.
Pengangguran ada banyak, yang putus sekolah banyak, yang sampai ke perguruan tinggi cuma sedikit sekali. Semuanya terhambat masalah ekonomi. Semuanya terjebak dalam kemiskinan struktural.
Yang hidupnya nyaman dan berkecukupan bisa dihitung jari. Gue termasuk yang berkecukupan, tapi tetap ga bisa seenak jidat minta macem-macem ke orang tua. Kalo pengen sesuatu biasanya harus nabung uang jajan sekolah dan beli sendiri.
Gue udah gak tinggal di lingkungan tersebut, tapi sampe sekarang gue selalu ingat betapa susahnya kehidupan orang-orang di sekitar gue dulu.
Sekeras apapun mereka berusaha dan bekerja mereka gak akan bisa keluar dari kemiskinan tersebut. Entah karena keterbatasan ilmu, kemampuan, atau akses ke informasi dan kesempatan.
Mereka gak punya kemampuan untuk mengubah nasib atau memperbaiki kehidupan. Mereka gak tau musti ngapain. Mereka cuma bisa pasrah. Mereka gak peduli siapa yang jadi pemimpin karena buat mereka, siapapun pemimpinnya toh hidup mereka ya begitu-begitu aja.
Di setiap masa pemilu, siapa yang bisa ngasih imbalan itulah yang akan dipilih. Mereka gak punya pilihan lain selain menerima.
Mereka adalah golongan yang rentan dimanipulasi dan dimanfaatkan.
Memang zaman sekarang orang sudah punya smartphone bahkan di daerah. Tapi teknologi tersebut tidak seimbang dengan kemampuan memilah informasi dan berpikir kritis. Belum lagi banyaknya media yang dikontrol, disensor, dan buzzer di mana-mana.
Kita, yang punya akses ke pendidikan yang lebih baik, yang mampu berpikir kritis, yang mengerti apa yang sedang terjadi di atas sana, yang bisa melihat kebohongan dan tipu muslihat, adalah wakil mereka.
Suara kita adalah suara mereka.
Perjalanan mungkin masih panjang, kita mungkin masih butuh banyak belajar, tapi gapapa pelan-pelan aja. Gue tau sangat mudah untuk merasa frustrasi dan putus asa di situasi seperti ini, tapi kita gak bisa buang harapan.
Bareng-bareng yok.
----------
Even if I have to die, I will use the only voice I have to make some noise.
#suonirei fic (au? brainrot? Idk what to call this)
When sunfei was no older than a 10 years old, he found a single marble toy. The thing was brokenโcracked to be precise. Little suo (sunfei) sure if he touches it a little bit harder, a bit firmer, its going to shattersโ
berarti abangnya paham gimana deserve nire karna pengertian, penuh kasih, tulus. lalu katakan clumsy nya nire itu nilai plus, karna we'll know dia harus di lindungi serta cintai seugal-ugalan, gimana dunia bisa lebih brengsek dan cuman nire yg bertahan buat lu
#Wb218
Maaf terkesan fokus sama nirei.. tapi rasanya jadi nirei tuh berat banget, Sakura yang down dan Suo yang pergi.Jujur amaze dia masih bisa tahan begini
Dia yang ngalamin sendiri suo ninggalin furin (dan dia) juga dia yang ngalamin downnya sakura๐ญ๐ญ