sekarang gw baru paham knp orang-orang pengen banget punya pasangan. bukan perkara pengen romantis-romantisan. tapi sesimple we need to someone to talk, we need someone to understand what our feeling, tempat berkeluh kesah, tempat buat sharing, tempat buat cerita yang ada di isi kepala.
Polisi dipuji sukses ngurus dapur embege, soalnya kalo ngurus bandar narkoba, judol, maling, penculikan, penyekapan, pelecehan, penjambretan, kehilangan barang masyarakat sipil mereka gak sukses babar blass.
Kalau anak sampai dijadikan alat untuk membangun narasi politik, itu bukan lagi soal membela kebijakan. Itu sudah masuk ranah eksploitasi anak demi kepentingan politik. Anak bukan alat propaganda.
Dulu akh LDRan sama pacar. Aku di Jawa, dia di Sumatera. Suatu malam aku lagi stres berat, kerjaan numpuk, badan juga mulai sakit. Aku cuma chat dia, "Aku capek banget, pengen tidur aja." Jam 11 malam dia telepon. Suaranya pelan, sedikit serak. "Tidur yang nyenyak ya," katanya. "Besok cerita lagi." Besok paginya aku bangun, ada pesan suara dari dia. Panjangnya 45 menit. Di rekaman itu, dia bacain buku favoritku dari halaman pertama.
Sesekali dia berhenti, batuk pelan, atau bilang, "Maaf ngantuk, ini halaman 24 ya..." Kadang dia salah baca nama tokoh, lalu dia ulang sambil ketawa kecil. Dia bilang di akhir rekaman, "Aku nggak bisa peluk kamu dari sini. Tapi mudah-mudahan suaraku bisa jadi selimut buat kamu." Aku nangis di kamar kos jam 6 pagi.