Guys, di tengah semua yang sedang terjadi perang Iran, Selat Hormuz yang buka tutup, harga BBM di negara-negara Asia Tenggara yang melonjak ada satu pertanyaan yang banyak orang tanya tapi jarang dijawab dengan jelas.
Kenapa Pertalite dan Pertamax harganya tidak naik?
Ferry Irwandi baru breakdown ini dengan sangat detail dan gua mau jelaskan sejelas mungkin supaya semua orang paham apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang perlu diwaspadai ke depannya.
situasi globalnya dulu perlu dipahami bersama. Singapura sekarang harga BBM-nya sudah Rp50.000 per liter. Laos Rp30.000.
Vietnam, Kamboja, Filipina, Thailand ada di range Rp25.000 sampai Rp28.000.
Sementara Indonesia Pertalite dan Pertamax tidak naik sama sekali.
JP Morgan bahkan menyebut Indonesia sebagai negara dengan ketahanan energi peringkat ketiga dunia dengan skor 77%. Di bawah Ukraina dan Afrika Selatan. Di atas semua negara Asia Tenggara lainnya.
Ini bukan kebetulan.
Ada tiga bantalan yang bekerja bersamaan dan perlu dipahami satu per satu.
bantalan pertama adalah sistem kontrak jangka panjang dengan formula pricing.
Hampir 80-90% pembelian minyak mentah Pertamina dilakukan lewat kontrak jangka panjang bukan beli di pasar spot harian yang harganya bisa meledak kapan saja.
Cara kerjanya gampang dipahami. Misalnya kontrak menggunakan formula rata-rata tiga hari berbasis MOPS. Hari pertama harga $80, hari kedua $100, hari ketiga $120.
Kalau beli di hari ketiga tanpa formula kita bayar $120.
Tapi karena pakai formula rata-rata kita hanya bayar $100 jauh lebih murah dari harga pasar yang sedang meledak.
Jadi ketika Selat Hormuz ditutup dan harga minyak global melonjak ekstrem, Indonesia tidak langsung merasakannya karena harga pembelian kita sudah dikunci jauh sebelum perang terjadi.
bantalan kedua adalah Saldo Anggaran Lebih atau SAL. Setiap tahun APBN biasanya ada sisa.
Sisa itu dikumpulkan selama bertahun-tahun dan disimpan sebagai cadangan untuk situasi yang tidak terprediksi seperti krisis energi ini.
SAL kita saat ini ada di angka sekitar Rp420 triliun.
Uang ini yang dipakai pemerintah untuk menanggung selisih antara harga minyak yang naik dengan harga BBM yang tetap dijaga stabil untuk masyarakat. Jadi yang nanggung kenaikannya bukan konsumen — tapi pemerintah lewat SAL ini.
bantalan ketiga yang paling sering dilupakan adalah batu bara. Indonesia punya produksi batu bara sekitar 790 juta ton per tahun.
Sekitar 550 juta ton dari itu untuk kebutuhan domestik termasuk pembangkit listrik.
Karena banyak pembangkit listrik kita ditenagai batu bara ketergantungan kita pada minyak untuk listrik jauh lebih kecil dari negara lain.
Negara-negara yang tidak punya batu bara harus pakai minyak dan gas untuk listrik. Ketika minyak dan gas langka dan mahal mereka langsung kena krisis listrik sekaligus krisis BBM bersamaan. Indonesia relatif terlindungi dari skenario itu.
tapi ini yang perlu dipahami dengan sangat jelas semua bantalan itu sifatnya sementara.
Bukan solusi permanen.
kontrak jangka panjang akan habis masa berlakunya. SAL Rp420 triliun itu bukan unlimited dan semakin lama krisis berlangsung semakin cepat habisnya.
Dan batu bara adalah energi yang punya masalah lingkungan jangka panjang sendiri yang tidak bisa diabaikan.
Ferry juga memberikan beberapa kritik yang menurut gua sangat penting dan perlu didengar pemerintah.
pertama soal subsidi. Subsidi BBM kita masih bersifat universal siapa pun yang beli Pertalite dapat manfaatnya termasuk orang kaya yang harusnya tidak perlu disubsidi.
Ini boros dan tidak efisien.
Subsidi harus dibuat lebih targeted hanya untuk yang benar-benar membutuhkan sehingga ruang fiskal bisa lebih luas.
kedua soal MBG.
Di tengah ketidakpastian global seperti ini, program yang menyedot hampir Rp1 triliun per hari dengan tata kelola yang masih sangat dipertanyakan adalah beban fiskal yang sangat besar.
Ferry bahkan bilang tegas kalau dia bisa memilih program ini lebih baik dihapus.
Tapi kalau memang dipertahankan harus dijalankan dengan cara yang targeted, transparan, efisien, dan optimal.
Bukan universal seperti sekarang di mana yang menikmati lebih banyak adalah pengelola dapur dan elit dibanding anak-anak yang seharusnya jadi penerima utama.
ketiga soal cadangan energi.
Cadangan penyimpanan energi kita masih kecil.
Justru di saat bantalan masih bekerja inilah waktu yang paling tepat untuk memperbesar kapasitas penyimpanan cadangan energi.
Karena kalau situasi memburuk dan bantalan sudah habis tanpa cadangan yang cukup kita akan sangat rentan.
keempat soal teknologi. Ada dua teknologi yang sudah dimiliki Indonesia dan perlu dioptimalkan lebih agresif. IOR untuk mengeluarkan minyak yang sebelumnya tidak bisa naik ke permukaan sehingga produksi domestik bisa ditingkatkan.
Dan RFCC yang membuat kilang minyak kita jauh lebih efisien sehingga residu minyak yang tadinya terbuang bisa diolah menjadi BBM berkualitas tinggi. Kombinasi keduanya bisa secara signifikan meningkatkan kemandirian energi kita jangka menengah.
dan satu hal lagi yang perlu diluruskan supaya tidak ada narasi yang menyesatkan.
ada yang mengklaim harga BBM Indonesia stabil karena diplomasi Presiden Prabowo yang berhasil meloloskan kapal Pertamina melewati Selat Hormuz. Ferry membantah ini dengan sangat tegas.
Tidak ada kapal Pertamina yang menembus Selat Hormuz. Malaysia yang kapalnya sempat lewat pun kondisi energinya jauh lebih buruk dari Indonesia.
Jadi alasan harga BBM kita stabil bukan itu melainkan tiga bantalan tadi yang sudah disiapkan jauh sebelum krisis ini terjadi.
kita patut bersyukur dan mengapresiasi bahwa sampai hari ini bantalan-bantalan itu masih bekerja. Itu nyata dan itu tidak boleh diabaikan.
Tapi bersyukur tidak boleh membuat kita berhenti bertanya dan berhenti menuntut solusi yang lebih permanen.
Karena bantalan itu bukan obat itu hanya penahan rasa sakit.
Dan selama obatnya belum ditemukan kita masih sangat rentan kalau situasi global terus memburuk.
Ingat kasus Leony Vitria Hartanti (eks Trio Kwek Kwek)? Ayahnya meninggal 2021. Rumah sudah lunas dari dulu. PBB dibayar rajin tiap tahun. Pas Leony mau balik nama sertifikat, dia kena tagihan PULUHAN JUTA.
Reaksi Leony sama seperti semua org: "Kan bukan jual beli? Ini kan WARISAN?"
Ternyata ada prosedur yang bisa bikin biaya balik namanya jadi 0 rupiah. Tapi banyak yang gak tau. Simak screenshot cara2nya dari akun thread @nafkahnation.dx
Ada satu kalimat yang terdengar gagah, tapi runtuh begitu disentuh angka:
“𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪 70% 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘭𝘢𝘶𝘵, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 <5% 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘦𝘬𝘰𝘯𝘰𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢.”
Itu bukan keunggulan. Itu definisi 𝗸𝗲𝗴𝗮𝗴𝗮𝗹𝗮𝗻 𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘁𝘂𝗿𝗮𝗹.
Prabowo Subianto berbicara tentang Selat Hormuz seolah Indonesia punya leverage global karena posisi geografis. Masalahnya sederhana: 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪—𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘧𝘶𝘯𝘨𝘴𝘪.
𝗗𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗦𝗲𝗹𝗮𝘁 𝗠𝗮𝗹𝗮𝗸𝗮, 𝗳𝘂𝗻𝗴𝘀𝗶 𝗶𝘁𝘂 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶.
Sementara 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 berdiri sebagai “𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯”, 𝗦𝗶𝗻𝗴𝗮𝗽𝘂𝗿𝗮 menjadi 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢.
Indonesia menyediakan 𝘭𝘢𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢, Singapura menjual 𝘫𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢.
Indonesia menjaga 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢, Singapura 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘯𝘦𝘵𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢.
𝗛𝗮𝘀𝗶𝗹𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗿𝘂𝘁𝗮𝗹:
▪️Indonesia: <5% capture → USD 7–17 miliar/tahun
▪️Singapura: 70–80% capture → USD 100–250 miliar/tahun
𝘚𝘦𝘭𝘪𝘴𝘪𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘳𝘨𝘪𝘯.
𝘐𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘣𝘢𝘯 𝘦𝘬𝘰𝘯𝘰𝘮𝘪.
Masalahnya bukan kita tidak tahu.
Masalahnya kita terus salah & bangga dengan variabel yang tidak dibayar pasar.
Geografi tidak otomatis jadi geopolitik.
Kedaulatan tidak otomatis jadi kesejahteraan.
Dan pidato tidak pernah menggantikan arsitektur kebijakan.
Selama kita masih mengira bahwa:
“𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮 𝘄𝗶𝗹𝗮𝘆𝗮𝗵 = 𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝘆𝗮 𝘁𝗮𝘄𝗮𝗿”
maka yang terjadi justru sebaliknya:
>>> kita menjadi penonton premium di rumah sendiri.
🍀Riky Indrakari
HP Android lo bukan lemot karena tua dan udah waktunya diganti.
Samsung, Xiaomi, Oppo, mereka install 30+ app sampah dari pabrik. Gak bisa di-delete.
Jalan terus di belakang. Makan RAM. Makan baterai.
Lo pikir HP lo udah waktunya ganti. Padahal belum.
Gue bikin Redmi Note 10 yang udah 3 tahun kerasa kayak baru lagi pake cara simpel ini:
🚨🇦🇪🇺🇸 BREAKING: I just received a legal notice from the Attorney General of the UAE that they have BANNED my X account over allegedly violating the UAE's 'Cybercrimes Law' with intent to 'harm the national economy & disrupt public order.'
Sorry boys, I didn’t force your greasy sheikhs to blow their Mossad stipend on Dubai chocolate, porta-potty OnlyFans parties, and $800 Labubu dolls instead of actual fucking air-defense missiles.
They can ban me from their desert mall — I don't care. Allah already has a MUCH BIGGER BAN waiting for the spineless traitors helping starve Gaza.
خليك في النار يا كلب
Countries with the highest rates of prostitution in the world:
Thailand (Buddhism)
Denmark (Christianity)
Italy (Christianity)
Germany (Christianity)
France (Christianity)
Norway (Christianity)
Belgium (Christianity)
Spain (Christianity)
UK (Christianity)
Finland (Christianity)
Countries with the highest theft rates in the world:
Denmark and Finland (Christian)
Zimbabwe (Christianity)
Australia (Christianity)
Canada (Christianity)
New Zealand (Christianity)
India (Hinduism)
England and Wales (Christian)
US (Christianity)
Sweden (Christianity)
South Africa (Christianity)
Countries with the highest alcohol addiction rates in the world:
Moldova (Christian)
Belarus (Christian)
Lithuania (Christian)
Russia (Christian)
Czech Republic (Christian)
Ukraine (Christian)
Andorra (Christian)
Romania (Christian)
Serbia (Christian)
Australia (Christian)
Countries with the highest murder rates in the world:
Honduras (Christian)
Venezuela (Christian)
Belize (Christian)
El Salvador (Christian)
Guatemala (Christian)
South Africa (Christianity) . Saint Kitts and Nevis (Christian)
Bahamas (Christian)
The world's most dangerous gangs:
Yakuza (No religion)
Agberas (Christian)
Wah Sing (Christian)
Jamaica Bosses (Christian)
Primero (Christian)
The Aryan Brotherhood (Christian)
The world's biggest drug cartels:
Pablo Escobar - Colombia (Christian)
Amado Carrillo - Colombia (Christian)
Carlos Lehder Rivas (Christian)
Griselda Blanco - Colombia (Christian)
Joaquin Guzman - Mexico (Christian)
Rafael Caro Quintero - Mexico (Christian)
Yet it is said that Islam and Muslims are the cause of violence and terrorism in the world, and they want everyone to believe that.
Who started World War I?
Not Muslims...
Who started World War II?
Not Muslims...
Who killed nearly 20 million indigenous Australians?
Venezuela has 300 billion barrels of oil, the world's largest reserve, Iraq 160 billion barrels, Gaza 1 trillion cubic feet of gas and Libya 50 billion barrels.
It's not a coincidence that war is a common factor among these countries.
Western politics has always been based on the plundering of peoples, starting from exploration in the New World, during which their riches were plundered and the original inhabitants exterminated, more than 100 million redskins killed and 20 million enslaved Africans.
Subsequently, they colonized, exploited, bleed the African continent, which was the richest of the lands, and turned it into a symbol of famine, drought and backwardness, spreading their supremacy, looting gold mines, diamonds, oil etc...
What we see today, are modern wars in Iraq, Libya, Gaza and Venezuela in modern style but with the same objective, to profit everywhere there is wealth.
This is the naked and raw truth, there is no other.
Copied
Ini orang cina yang udah jadi penduduk Indonesia sendiri lho yang ngomong.Membuka Watak Asli Tiongkok masih belum percaya juga klo cina tiongkok itu kelakuannya spt yg dbilang cindo ini.. ini..hati2 jebakan cina tiongkok seperti yg disampaikan cindo ini ya..
Waspadalah‼️
Ini keputasan Kepala BPIP no. 36 2024 ttg pakaian, atribut dan tampang Paskibraka “menyunat” Peraturan BPIP RI no. 3 tahun 2022 yg pada poin 4: Ciput warna hitam (utk putri berhijab). Poin ini dihilangkan. BPIP melanggar peraturan dan konstitusi ttg kebebasan menjalankan agama
Khawatir sebagian rekan salah faham. Saya sangat menghormati Prof. Peter Carey & dedikasi luar biasa beliau meneliti Sang Pangeran. Meski tak selalu bersetuju, kami sering berkomunikasi & beliaupun mengapresiasi tulisan-tulisan saya termasuk #sangpangerandanjanissaryterakhir 😊
Jangan harap mau menurunkan kualitas beton hingga di bawah standar nasional atau bahkan standar internasional. Berpikir atau berniat pun tak sempat terlintas.
Saya sempat bertanya kepada rekan pengusaha konstruksi warga negara China bahwa apakah memang benar kualitas konstruksi di China di bawah standar? Dia hanya menjawab: "Jika saya membangun infrastruktur sedikit saja di bawah standar, saya tidak bisa bertemu denganmu hari ini. Saya mungkin sudah lama di peti mati atau dikremasi. Datang dan saksikan saja bagaimana kualitas konstruksi di negara kami."
Dan, saya kemudian datang. Masih ditemani rekan saya itu. Lalu tanpa saya tanya dia menimpali: "Jika di satu negara ada standar yg diturunkan, saya pastikan bukan salah kami (baca: China). Coba telusuri siapa di bawah kami (baca: sub-kontraktor). Telusuri juga oknum di regulator terkait permintaan 'setoran'."
Saya senyum kosong saja...
*jalan layang di Guangdong yg sudah 'double-decker'. Kebayang memang kalau kualitas betonnya diturunkan seperti yg terjadi di ...(sinyal hilang).
Ini bukan bencana longsor bebatuan. Bebatuan ini berada di tengah jalan sengaja diletakkan oleh masyarakat sipil Israel untuk menghalangi jalan agar distribusi bantuan makanan dan obat-obatan ke Gaza terhalang.
Kamp pengungsi diserang. Bantuan pun dihadang. Istilah apalagi yg cocok selain genosida?
Kita dan Perpecahan Antara Kita
Pada tahun 2003, ada dokumen studi dan rekomendasi yg dipublikasikan oleh Divisi Riset Keamanan Nasional RAND Corporation (sebuah lembaga kajian kebijakan global di Amerika Serikat yg didirikan tahun 1948 oleh Douglas Aircraft Company, perusahaan kedirgantaraan dan persenjataan, untuk membantu Angkatan Bersenjata Amerika Serikat di bidang penelitian dan analisa strategis) yg berjudul Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies. Dokumen ini kemudian disampaikan kepada Badan Keamanan Nasional AS dan juga Presiden George W. Bush secara langsung pada saat itu. Studi ini disponsori oleh Smith Richardson Foundation dan disupport oleh American Israel Public Affair Commitee (AIPAC).
Pada dokumen tersebut, disebutkan langkah strategis yg harus dilakukan untuk 'menghadapi' umat Islam saat ini (Apendix C: Strategy In Depth hal. 63). Dari sekian banyak, mari kita fokuskan kepada dua hal ini, antara lain:
"Support the traditionalists against the fundamentalists, by:
1. Publicizing traditionalist criticism of fundamentalist violence and extremism and encouraging disagreements between traditionalists and fundamentalists.
2. Preventing alliances between traditionalists and fundamentalists."
Perhatikan kalimat yg dicetak miring yakni: 'encouraging disagreements between traditionalists and fundamentalists' dan 'preventing alliances between traditionalists and fundamentalists'. Mendorong perselisihan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis dan mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan fundamentalis.
Ya, perselisihan kita ini by designed dan ke-tidak bersatu-an kita adalah by planed. Bahkan, mereka bukan saja membuat klusterisasi dan melebarkan jurang pemisah dan perpecahan umat Islam antara tradisionalis, fundamentalis, modernis atau apa pun istilahnya yg mereka gunakan, dalam dokumen tersebut ada rekomendasi untuk memecah intra-tradisionalis itu sendiri dengan diksi: "...discriminating between different sectors of traditionalism" , (diupayakan untuk) membeda-bedakan (baca: memecah belah) berbagai sektor dalam (penganut) tradisionalis (Appendix C: Strategy In Depth hal.64).
Ijinkan saya bertanya, "Relakah kita? Sampai kapan kita akan terus menjadi objek rekayasa demi kepentingan mereka?"
Jika dianalogikan umat Islam dengan segala sumber dayanya adalah kesebelasan sepak bola. Maka sejatinya masing-masing pribadi walaupun berbeda posisinya tetap satu tim, satu arena dan satu lawan. Ada yg menjadi kiper, yang bertugas untuk menjaga gawang dari serangan lawan. Ada yg pemain bertahan yg menjaga pertahanan dan mencegah lawan mencetak gol. Ada pemain tengah, yg bertugas untuk menguasai bola dan mengatur serangan. Ada pemain depan, yg bertugas untuk mencetak gol ke gawang lawan.
Seandainya klasifikasi atau klusterisasi umat Islam ini memang sebuah hal yg tidak bisa diubah lagi (tradisionalis, fundamentalis, modernis, dll), maka jadikan ini satu tim yg mempunyai tugas dakwah dan perjuangan masing-masing namun dalam bingkai satu perjuangan. Jangan masing-masing pemain justru melemahkan yg akhirnya yg kerap terjadi adalah carut marutnya tim kesebelasan ini sehingga, musuh dengan mudah mengecoh dan melakukan serangan membobol gawang kita. Lebih parahnya lagi, kita jangan-jangan bahkan lebih seringgol bunuh diri, gol ke gawang sendiri.
Sekali lagi, mau sampai kapan kita terus begini? Tak usah dijawab. Kita fokus saja memberikan bukti.