@rapunsey Jawir medogz apa yg mau di harapkan, beda sama kita yg bahasanya campur inggris kalau ngomong, secara bahasa aja mereka itu jawa biasa cari kayu bakar masa di suruh demo, mikir makanya maksudnya gini lho org ndeso kampung lihat gedung tinggi aja mereka nunduk2 di jkt, masa demo ?
the last time me & @anyarompas saw bang saut situmorang, at his hotel the afternoon before he left for china. with the two things he loves the most in this world, poetry and meat pie.
cepetan balik bang, nanti aku bikinin south african steak and pepper pie. udah diajarin rustum!
abang juga harus balikin backpack jae bang, dia mau pake buat camping bulan depan. cepetan balik ya, please.
im too fucking distraught to write this post. buat yg ingin bantu abang tolong baca foto ke-2 dan selanjutnya dari dea anugrah.
Otokritik Internal
Menjadi bhikkhu adalah sebuah keputusan besar karena harus melepas keterikatan dengan duniawi, kesenangan, harta benda, termasuk melepas keterikatan dengan keluarga, untuk kemudian berlatih lebih keras dari umat awam dengan melaksanakan patimokkha.
Sang Buddha mengajarkan para bhikkhu untuk menyepi, menarik diri dari keramaian dunia, lebih banyak melakukan meditasi untuk mengenali fenomena jasmani dan batin dengan tujuan akhir mencapai pencerahan.
Makanya banyak bhikkhu yang berdiam di vihara bahkan masuk ke hutan atau tempat terpencil untuk bisa berlatih lebih terfokus dan minim distraksi.
Karena itu tidak semua umat Buddha sanggup menjadi bhikkhu, untuk itu mereka bisa memilih menjalani panca sila, attha sila, atau dasa sila sesuai tekad masing-masing.
Mempromosikan sebuah produk, meskipun tujuannya baik, sebaiknya biar para rama pandita saja yang melakukan, bukan bhikkhu.
Saat seorang bhikkhu ada dalam spotlight, maka potensi munculnya kekotoran batin seperti keserakahan dan kebencian karena ketenaran yang dialami dapat mengurangi manfaat latihannya selama ini.
Seorang bhikkhu memiliki kewajiban kepada diri sendiri dan kepada umat yang mesti disadari sehingga bisa terus berjalan dalam prakter kebhikkhuan.
Kewajiban untuk diri sendiri (pribadi), yaitu:
1. Menjunjung tinggi aturan disiplin monastik (Vinaya) dan Patimokkha Sila.
2. Melatih diri dan mengendalikan pikiran untuk menyingkirkan lima rintangan batin (panca nivarana).
3. Mengembangkan batin, meditasi, dan kebijaksanaan guna mencapai pembebasan dari penderitaan (dukkha).
4. Menjalani kehidupan asketis, sederhana, dan melepaskan ikatan duniawi.
Kewajiban kepada Umat Awam (Masyarakat) berdasarkan Sigalovada Sutta, terdapat enam kewajiban utama seorang bhikkhu kepada umat Buddha:
1. Mencegah umat berbuat jahat.
2. Mendorong dan menganjurkan umat untuk senantiasa berbuat baik.
3. Berpikir dan memancarkan cinta kasih (metta) kepada umat.
4. Mengajarkan ajaran Buddha (Dhamma) yang belum pernah didengar oleh umat.
5. Memperjelas dan memperdalam pemahaman Dhamma yang sudah pernah didengar.
6. Menunjukkan jalan dan membimbing menuju kebahagiaan serta kelahiran yang baik.
Entah kewajiban mana yang sedang dilakukan dengan mempromosikan sepatu ini.
Tapi kembali kepada sangha di mana beliau bernaung, apakah tindakannya ini bermanfaat atau tidak bermanfaat bagi pengembangan batin yang bersangkutan.
Anyway, bicara soal toleransi, bahkan dalam gambar ini tidak ada satu pun ada ditampilkan pemuka agama yang perempuan.
Teman2 tercinta, bahas aja buku ini, Lampuki juga, ramein, selalu relevan kok. Nanti Gramedia pasti cetul dgn kover desainer terkenal. Tanpa dukungan temen2, sy tak bisa apa2. Karya2 sy tenggelam. ♥️🙏
Bahlil Lahadalia meluncurkan 10 buku sekaligus di Jakarta. Buku tersebut berisi pemikiran, pengalaman, dan perjalanan Bahlil dalam berkontribusi bagi bangsa. #Polhuk#AdadiKompas
https://t.co/q3cTlBRmml
@BukanUshikawa Setuju. Padahal yang dibutuhkan pembaca mungkin bukan diskon 70%, melainkan kurasi 70% lebih ketat.
Kalau isinya cuma buku yang nggak laku, itu bukan book fair. Itu clearance sale.
Ada penerbit yang bicara soal “membangun ekosistem perbukuan” tapi malah menjual buku dengan harga diskon yang lebih murah daripada harga reseller.
Jadi reseller mau hidup dari mana?
Dari doa, cinta pada buku, dan keyakinan bahwa literasi adalah jalan menuju kemakmuran?