Pantes anak pns kena ukt tinggi soalnya orang2 mikirnya gini. Pegawai bumn gaji rata gede. Pns gaji rata gede. Padahal kroco2 yg gajinya umr itu jg buanyak bgt
Kapan indon maju kalo orang2 pd bitter sm gaji 11jt tanggungan 4 orang instead of sm mereka yg beneran vv wealthy
Pak Prabowo mending km bikin program kayak negaraku, setiap IC (KTP) dpt uang sekitar RM100 untuk beli bahan pokok dan setiap anak yang masih sekolah berhak mendapatkan uang untuk membeli buku setiap bulan nya, jauh lebih berguna daripada mbg mbg an 🤷🏻♀️
gw gak suka narasi sejenis ini, kesannya nyudutin rakyat LAGI. rakyat bisa apa sih? dihemat-hemat juga ga ngubah apa-apa. that’s government’s responsibility.
yang ada tuh rakyat stress ama keadaan negara jadi bentuk stress relievernya (bagi yang mampu) ya konseran, event
@yappingfess Padahal kalo liat dari teks di videonya, katanya dia anjing patuh, nurut, dan sigap. Bisa dijadiin pemburu atau penjaga rumah, kenapa mau dijadiin rica-rica ya... kasian ih. Emang daging ayam, sapi, babi, even kelinci gak cukup kah buat mereka??
Marty Natalegawa, mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, adalah sosok diplomat yang memancarkan wibawa luar biasa di panggung internasional.
Dengan suara tenang namun tegas, ia membawa Indonesia bukan hanya sebagai negara berkembang, melainkan sebagai aktor kunci yang mampu menjembatani perbedaan dan membangun perdamaian.
Gaya diplomasinya yang elegan, penuh visi, dan berpegang teguh pada prinsip, kerap membuat lawan bicaranya terkesan sekaligus menghormati.
Lahir dari latar belakang pendidikan kelas dunia, Marty menempuh studi di London School of Economics (BSc), University of Cambridge (MPhil), dan meraih gelar Doktor di Australian National University.
Pengalaman karirnya pun luar biasa: dari Duta Besar untuk Inggris dan Irlandia, Perwakilan Tetap Indonesia di PBB, hingga memimpin Kementerian Luar Negeri di masa Indonesia memegang keketuaan ASEAN.
Ia berperan penting dalam mendorong ASEAN Community, inisiatif East Asia Summit, serta berbagai upaya resolusi damai di kawasan.
Menyaksikan kiprahnya, hati ini terharu dan bangga. Marty Natalegawa membuktikan bahwa anak bangsa Indonesia mampu bersanding setara dengan para pemimpin dunia, membawa nama harum Tanah Air dengan integritas dan kecerdasannya.
Beliau adalah inspirasi bagi generasi muda bahwa diplomasi bukan sekadar negosiasi, melainkan perwujudan martabat bangsa.
Indonesia patut berbangga memiliki putra terbaik seperti Marty Natalegawa 🇮🇩
2026 FIFTY FIFTY Asia Fancon Tour [Still LoBubble]
FIFTY FIFTY is coming to meet TWENY across Asia! 🫧
📍 JAKARTA, Indonesia — July 11, 2026
📍 KUALA LUMPUR, Malaysia — July 19, 2026
📍 MANILA, Philippines — July 25, 2026
📍 SEOUL, Korea — August 1, 2026
🔜 GA Tickets and VIP Upgrades will be available soon via each local ticketing platform!
💖 Add-ons will be announced soon, exclusively via @hellolivetv@we_fiftyfifty
#FIFTYFIFTY #피프티피프티
#Still_LoBubble #Like_a_Bubble
#FIFTYFIFTY_StillLoBubble
#FIFTYFIFTY_AsiaFanconTour
Tina Talisa : mantan presenter TV, lulusan dokter gigi , ditunjuk Gibran jadi Stafsus Wapres bidang UMKM, digitalisasi, stunting, dan ekonomi syariah.
Tidak ada rekam jejak substansif di bidang2 itu. Tapi rupanya jabatan itu memang bukan tujuan akhir.
7 bulan kemudian, sambil masih menjabat Stafsus, dia resmi jadi Komisaris PT Pertamina Patra Niaga , anak usaha BUMN energi terbesar Indonesia.
Dua jabatan. Dua sumber penghasilan dari uang negara. Dijalankan bersamaan.
Ini bukan pertama kali. Sebelumnya dia juga Stafsus + Jubir di Kementerian Investasi era Bahlil selama 4 tahun. Artinya ini bukan kebetulan. Ini pola yang berulang, dari rezim ke rezim.
Yang menarik: UU BUMN melarang rangkap jabatan untuk menteri dan wamen.
Tapi untuk Stafsus? Abu-abu. Dan keabuan itu dimanfaatkan dengan sempurna.
Sementara di luar sana:
a. Pelaku UMKM antre KUR berbulan-bulan, ditolak karena tidak punya agunan.
b. Bayi-bayi lahir stunting karena ibunya tidak punya akses gizi yang layak.
c. Rakyat bayar pajak, yang sebagian mengalir ke gaji dua jabatan sekaligus untuk satu orang yang tugasnya "mengawal" mereka.
Banyak negara dengan tata kelola serius melarang keras rangkap seperti ini karena satu alasan sederhana: kamu tidak bisa mengawasi kepentingan rakyat sambil duduk di kursi korporasi yang diawasi oleh atasanmu sendiri.
Tapi di sini, itu disebut karir yang cemerlang.
Yang dikawal bukan UMKM. Yang dikawal adalah posisi.
Kalian tau ga sih, Pak SBY dulu pas jaman
krisis global mau naikin bensin
400 PERAK doank aja dia pidato loh Live di TV2..
beliau minta maaf ke rakyat dengan wajah yg sedih.
Minta maaf berkali2 harus ambil keputusan itu.
Dia juga banyak kekurangannya, tapi sumpah gw kangen dengan pemimpin kek gitu, yg bertanggung jawab, yg punya empati ke rakyat!
Bukan malah denial bilang rupiah lemah ga ngaruh! Rakyat cuma butuh makan, ga mimpi jadi kaya! 4jg 4jg
cc:threadris_kaanisya
ada bule lg liburan di jogja, terus beli kue dari mba-mba yg nawarin gitu (umkm), dia kasih uang lebih karena dia tau kalo negara ini full of c*rruption :(
Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, ada satu kelompok yang bisa sangat tertekan.
Bukan orang miskin.
Bukan juga orang kaya.
Tapi kelas menengah.
Kelompok yang "terlalu kaya" untuk dibantu tapi "belum cukup kaya" untuk terlindungi.
Mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal sedang menopang semua bebannya sendiri.
Cicilan rumah, sekolah anak, orangtua yang mulai menua, dan standar hidup yang harus terus dipertahankan.
Masalahnya, selama bertahun-tahun banyak yang mengira mereka sedang membangun kekayaan.
Padahal yang dibangun baru kehidupan yang lebih mahal.
Penghasilan naik, tapi cicilan ikut naik.
Penghasilan naik, tapi kebutuhan ikut naik.
Penghasilan naik tapi rasa aman tidak ikut naik
Itulah mengapa banyak keluarga merasa:
“Gaji saya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, tapi kenapa hidup terasa lebih berat?”
Kalau dolar benar-benar menuju Rp. 20.000, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma kursnya, tapi kenyataan bahwa banyak keluarga akan baru sadar:
selama ini mereka hidup nyaman bukan karena keuangannya yg kuat, melainkan karena kondisi ekonomi masih cukup baik untuk menopangnya.
dan ketika kondisi itu berubah…
yang bertahan bukan siapa yang bergaji besar tapi siapa yang punya bantalan finansial.