Biasanya, sepulang kerja, saya punya kebiasaan kecil. Yaitu, mampir di warung-warung kopi pinggir jalan.
Saya tidak tau sejak kapan saya menyukai hal-hal yg menurut saya di beberapa tahun lalu adalah hal yg aneh. Duduk sambil menghisap 234, atau marlboro kretek murah, dan satu gelas kopi jagung seharga 3000 rupiah.
Tapi, justru di tempat inilah saya menemukan banyak hal unik. Sesuatu yg dulu kerap saya lewatkan selepas lelah pulang bekerja.
Di tempat ini, saya bisa melihat gigih kerja keras orang2 yg selama ini selalu terlewatkan di mata saya. Mereka yg sebenarnya bisa tiba2 berubah menjadi seperti seorang karib lama hanya dari berbagi sebatang kretek.
Mereka yg berbagi masalah hidupnya sendiri, lalu menertawakannya; Seakan bagi mereka hidup ini hanyalah tentang bahagia, sedih, dan di sela-selanya diisi dengan numpang mampir minum kopi.
Di tempat ini, saya jarang sekali melihat keangkuhan, rasa ingin pamer jabatan, atau juga permintaan puji-pujian atas segala pencapaian di sela2 topik pembicaraan.
Di tempat ini, mereka justru membicarakan banyak hal yg jauh lebih menarik. Tentang kabar angin satpol PP yg akan razia di akhir pekan, tentang obrolan politik sekelas RT/RW, tentang sulitnya mengurus berkas di kelurahan, tentang customer ojek online yg kepalang keparat, dan masih banyak lagi.
Garis besarnya, mereka membicarakan tentang hidup mereka yg rasanya luar biasa keras jika dibandingkan dengan hidup saya. Namun mereka tampak sudah begitu terbiasa.
"Soal seragam, mungkin kita beda, Bang. Tapi soal kemampuan mencari nafkah, saya berani di-adu dengan abang."
Kata salah satu bapak tua yg duduk di sebelah karung besarnya yang berisi botol-botol pelastik, kepada saya.
Saya sangat senang mendengar kisah2 mereka yg tampak asing di hidup saya. Sebab, ketika mendengar cerita2 mereka, saya jadi semakin yakin bahwa sebenarnya kami semua ini sama. Hanya pelumas dari roda-roda bergigi yg bergerak tanpa henti di sebuah kota yg bernama, Jakarta.
Hanya robot yg bekerja tanpa henti demi bisa hidup satu hari lagi-- setiap hari.
Saya mungkin bukan motivator handal. Tapi jika suatu saat hidupmu sedang terasa kepalang keparat, cobalah berhenti sebentar, lalu mampirlah di warung-warung kopi pinggir jalan.
Duduk, lalu coba nikmatilah bagaimana cara kota ini bernapas di sela-sela keriuhannya.
@briankhrisna Feel the same with you Bang, kadang dapat cerita perselingkuhan juga.. cuma bisa ngakak.. 😁
Jakarta dengan keriweuhannya tetap memiliki wisata antropologi yang bisa didapatkan setiap saat tanpa perlu kocek dalam-dalam.
Malam itu, di Jakarta, selepas lembur saya memutuskan pulang kantor.
Teman saya sudah pada menikah. Saya juga tak terlalu punya teman akrab di kantor. Kalaupun ada, ya seperti kalimat pertama, dia sudah menikah.
Setelah kerja, mereka akan pulang ke keluarganya masing2. Sedangkan saya yang tidak punya siapa-siapa ini, sekarang masih duduk di parkiran mobil yang sudah lengang dengan sebotol bir dingin di tangan kanan saya.
Tidak ada yang menanti saya di rumah. Di kota yang penuh gegap gempita ini, entah kenapa, saya merasa sepi sekali.
Hari-hari monoton dan ditutup dengan kesendirian, tampaknya lambat laun mulai membuat hidup tak lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan buat saya.
Bir saya sudah mulai tidak dingin.
Malam semakin malam. Dan tampaknya saya akan menghabiskan malam ini sendirian lagi.
Dulu, saya tidak pernah menyangka, kalau ternyata kesepian bisa semembunuh ini.
Kota ini sudah memperdaya saya.