Under Armour mencuri perhatian dengan iklan cerdas setelah gol Torres di final.
542 pemain telah mengenakan sepatu Nike.
482 pemain telah mengenakan sepatu Adidas.
Hanya 9 pemain yang pernah mengenakan sepatu Under Armour.
Terkadang, bukan tentang berada di mana-mana, tetapi tentang berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.
"Sepatu juara tidak berwarna merah muda."
— Under Armour
Tahun lalu Marc Cucurella dan istrinya Claudia Rodríguez secara terbuka menceritakan ke publik mengenai kehidupan keluarga mereka yg berat dan menantang krn memiliki seorang putra penyandang autisme.
Keterbukaan Cucurella dan Claudia ini dinilai sangat positif krn membantu meningkatkan awareness mengenai autisme. Keterbukaan mereka menormalisasi diskusi tentang kesehatan mental dan tumbuh kembang anak di kalangan atlet top profesional.
Di atas lapangan, Cucurella adalah bek kiri yang agresif, punya determinasi dan fighting spirit yg tinggi. Dia seolah tak mengenal takut dalam duel2 keras.
Mentalnya luar biasa. Performa Cucurella bisa tetap stabil meski ia sempat menjadi sasaran ejekan fans krn harganya yg dinilai kelewat mahal pd awal kariernya di Chelsea.
Namun, saat dia bercerita tentang putranya, ada sisi2 humanis sangat kontras yg diperlihatkan Cucurella. Dia bisa sangat sensitif, kerap menangis, terkadang rapuh.
Di lapangan, Cucurella adl pemain yg garang. Namun sebagai orang tua biasa, dia juga menghadapi tantangan domestik yg sama beratnya dgn orang tua2 lain.
Respek kepada Claudia yg memikul beban rumah tangga yg sangat besar. Saat Cucurella harus fokus 100% pada performanya di lapangan dalam turnamen2 level tertinggi, Claudia hadir dlm menjaga keseimbangan.
Claudia memastikan Cucurella tetap bisa menampilkan permainan terbaiknya dan menjamin kebutuhan terapi sang anak terpenuhi.
Respek juga kepada Cucurella. Meski mendapatkan tekanan dan tuntutan tinggi sbg pemain top, Cucurella hadir sbg sosok ayah yg suportif bagi Claudia. Terutama dlm menghadapi dinamika parenting anak berkebutuhan khusus yg membutuhkan tingkat kesabaran dan energi sangat tinggi.
❤️
Menganulir Gol Mesir ke Gawang Argentina adalah Keputusan yang Salah
Sebuah analisis dari pakar perwasitan dan mantan wasit Premier League, Graham Scott via The Athletic.
✅Keputusan menganulir gol Mesir adl keputusan yang salah. Benturan Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dlm proses terjadinya gol Ziko pada menit ke-67 merupakan kontak fisik yang wajar dan seharusnya dinilai seperti itu, alih-alih dianggap sbg sebuah pelanggaran.
✅Insiden itu juga terjadi hampir 100 yard (sekitar 91 meter) dari gawang, dan Argentina punya setiap kesempatan untuk merapatkan barisan dan bertahan, tidak heran jika Mesir merasa dirugikan karena gol tersebut akhirnya dianulir setelah peninjauan VAR.
✅Jika kita melihat insiden tersebut, memang ada sedikit kontak, baik kaki-ke-kaki maupun tarikan baju sekilas, tetapi tidak ada pelanggaran yang cukup berat di sini hingga layak membuat VAR mengintervensi untuk membatalkan gol. (GAMBAR 1)
✅Bagi Scott, ini adalah intervensi yg sangat mencengangkan dan bentuk penyalahgunaan wewenang yang masif dari tugas VAR. Seharusnya, VAR hanya mengoreksi kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious errors).
✅VAR secara rutin memeriksa fase serangan sebelum terjadinya setiap gol dan dalam kasus ini, peninjauan akan ditarik mundur hingga momen perebutan bola (turnover of possession).
✅Agar sebuah gol dapat dibatalkan, harus ada pelanggaran yang jelas, dan hal itu tidak ada di sini. Sebagai aturan umum yang praktis, semakin lama waktu dan semakin jauh jarak antara sebuah benturan dengan terjadinya gol, maka dugaan pelanggaran tersebut harus semakin serius.
Namun, tidak ada pelanggaran yang berarti di sini, dan tidak ada hal yang mendekati ambang batas bagi VAR untuk ikut campur.
✅Dengan logika yang sama, klaim penalti Mesir atas dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah sesaat sebelum gol kemenangan Argentina, sudah tepat untuk diabaikan. Ada sedikit kontak kecil pada sepatunya, tetapi tidak cukup kuat untuk membuat Salah terjatuh. Itu bukan sebuah pelanggaran.
Kesalahan wasit adalah tidak mengecek VAR untuk dua kejadian beruntun sebelum gol ketiga Argentina
Jika di cek dan hasilnya tetap gol, mungkin akan mengurangi kontroversi kemenangan Argentina malam ini
Kan belum tentu juga ini pelanggaran, masalahnya kalau ini pelanggaran, Mesir dapat Penalti
Dilema buat ngecek VAR
Punya lini tengah semewah Vitinha, João Neves, sama Bruno Fernandes itu percuma, sama sekali nggak ada gunanya! Mau digembar-gemborkan sebagai generasi emas atau gelandang kreatif kelas dunia juga omong kosong! Nyatanya? Ngelawan Spanyol aja tetep aja gabisa menang dan mainnya kayak orang bingung. Lini tengah macet, kreativitas nol, dan kerjaannya cuma muter-muter bola nggak jelas di area sendiri!
Yang paling bikin muak dan sakit hati, mereka semua sama sekali gabisa bantu Cristiano Ronaldo buat juara Piala Dunia! Ini kesempatan terakhir sang legenda, tapi kontribusi mereka di lapangan bener-bener ampas.
Punya nama besar di klub masing-masing, tapi giliran main buat tim nasional mentalnya langsung melempem dan ciut. Bukannya ngasih umpan matang atau mutus serangan lawan, malah bikin fans makan ati tiap menit. Skuad elite, tapi mentalita semenjana!
Jika kamu harus kalah, kalahlah seperti Cape Verde.
Kalahlah seperti Valentino Rossi 2015.
Kalahlah seperti Max Verstappen 2025.
Dan jika kamu pemenang, jgn jadi pemenang seperti pasangan kosong du...
Gabriel assist, diam.
Martinelli gol kemenangan, diam.
Havertz nyetak gol penyeimbang, diam.
Quinten Timber gagal penalty :
Oalah pemain Arsenal.
Padahal Jurrien Timber lagi nyantai nonton sambil ngewteet malah dikira dia yang gagal penalty.
Lucu emang kalau hasrat membenci tinggi tidak dilengkapi dengan pengetahuan yang baik 😃