Nirankara kata tertulis tanpa jeda
Tertuang indah namun ada rasa gundah
Bukan untuk terpaku di masa lalu
Atau bahkan terjebak oleh waktu
Nirankara kata mendekap rasa
Untuk mengingat tanpa jeda
Tidak dengan niat hati untuk kembali
Melainkan agar tetap menitih dengan hati-hati
Terkadang kita harus melepaskan apa yang sudah kita usahakan, harus merelakan apa yang semestinya diikhlaskan dan harus tunduk pada apa yang kita anggap sebuah keindahan.
Dua kata yang cukup mewakili untuk pentup 2025, “maaf” dan “Terimakasih”.
Maaf untuk segala sesuatu yang dipaksakan melebihi kapasitas diri dan Terimakasih untuk tetap bertahan melewati segalanya selama 365 hari ini.
Bila yang ku kejar ternyata sebuah kehampaan, maka biarkan aku mendekap sisa-sisa ketidakpastian. Hingga ku sandingkan sebuah kesetiaan tanpa menghadirkan sependar kesedihan.
Langkah tatihku kerapkali terhambat bayang semu dirimu, bukan untuk meromantisasi masa lalu. Tetapi untuk meneguhkan hati sudah sejauh mana aku bertahan tanpa kehadiranmu disisiku.
diantara riuhnya teriakan menginginkanmu ku selipkan bisikan tulus langsung dari sukmaku. Berharap bisa beradu diantara kalutnya pikiran dan langkahku untuk sejengkal lebih dekat denganmu. Tidak perlu menoleh cukup melirik agar ku tahu jika masih ada ruang kecil untukku di hatimu
Seandainya semesta memberiku kesempatan, ingin sekali aku berpapasan denganmu meskipun seperti dua orang asing yang bertemu di jalan, tanpa perlu sapaan cukup dengan pandangan. Bagiku itu sudah menjadi jalan pulang yang tak pernah ku pikirkan.
Terkadang jalan yg sedang di tapaki tidak selalu berujung temu, seringkali hanya mendapati jalan buntu. Akan tetapi, semua itu bukan tentang jalan melainkan harapan. Harapan untuk setiap jalan yg di tapaki mampu bertemu lalu bertamu.