WTS Room Hotel
📍 Grand Cordela Hotel Bandung
🗓️ Check-in 1 Agustus – Check-out 2 Agustus
🍽️ Include breakfast untuk 2 orang
💸 Rp380.000 (bisa nego)
Dijual karena ada yang ga jadi berangkat. Bagi yang berminat silakan dm ya. Thankyou!
Hari ini ada salah satu teman kerja (cewek) yang nggak masuk karena lagi demam.
Terus ada rekan kerja lain (cowok) yang komentar.
🤡: "Lemah banget sih cewek zaman sekarang. Demam dikit aja udah nggak masuk kerja. Ibu aku dulu kalau demam masih sanggup ngerjain kerjaan rumah, ke sawah, sama berkebun."
Aku udah mau nyaut, tapi keburu Ketua tim kami (cowok juga) yang jawab.
👦: "Terus kamu bangga gitu? Nggak kasihan sama ibu kamu? Lagi sakit tapi masih harus ngerjain kerjaan rumah dan ke sawah."
👦: "Berarti yang lain di rumah kamu nggak ada gunanya, sampai pas beliau sakit pun tetap nggak bisa istirahat."
Langsung satu ruangan bersorak. 🤣
Walaupun akhirnya mereka berdua tetap lanjut debat.
“Dok, kenapa sih selalu positive vibes?”
Aku cuma bisa tersenyum.
Lalu menjawab dalam hati,
Ya Karena aku paham, hidup ini seperti garis bilangan.
… -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3 …
Di tengah ada angka nol.
Di sebelah kanan, ada angka positif menuju plus tak terhingga.
Di sebelah kiri, ada angka negatif yang terus bergerak menuju minus tak terhingga.
Hidup kita juga begitu.
Ada masa kita berada jauh di sebelah kanan.
Hati bahagia.
Badan sehat.
Keluarga baik-baik saja.
Pekerjaan lancar.
Hari terasa ringan.
Namun setiap hari, dari pasien-pasienku dan dari hidupku sendiri, aku belajar satu hal:
Hidup SELALU punya cara untuk mengurangi.
Waktu mengurangi tenaga.
Kekecewaan mengurangi semangat.
Kegagalan mengurangi percaya diri.
Kehilangan mengurangi sebagian isi hati.
Masalah kadang datang satu per satu.
Kadang datang bertubi-tubi seperti sudah janjian.
Dulu aku mengenal peribahasa, 'Sudah jatuh, tertimpa tangga.'
Aku pikir itu sudah cukup buruk.
Ternyata masih ada kemungkinan tanahnya ikut ambles.
Saat seseorang berkata,
'Sepertinya ini sudah menjadi titik terburuk dalam hidupku.'
Kehidupan kadang masih menyeringai,
“Ooh tentu tidak, ini belum seberapa."
Karena itu, aku belajar untuk terus menambah.
Menambah ilmu.
Menambah iman.
Menambah kesehatan.
Menambah rasa syukur.
Menambah tabungan.
Menambah teman-teman baik.
Menambah keberanian.
Menambah ketenangan.
Sebab kita hampir selalu gagal mengendalikan apa yang akan hidup kurangi.
Namun kita masih bisa memilih apa yang kita tambahkan setiap hari.
Jadi, positive vibes aku itu bukan berarti hidupku selalu indah.
Aku juga pernah lelah.
Aku juga pernah kecewa.
Aku juga pernah merasa hampir habis.
Positive vibes adalah usaha menjaga diri agar tetap berada di sisi positif garis bilangan.
Agar saat hidup mengambil sepuluh, kita masih punya seratus.
Saat hidup mengambil seratus, kita masih tetep di atas 0 dan memiliki alasan untuk berdiri sekali lagi.
Serta tetap mampu memberikan harapan untuk banyak orang.
Jujur ya.. Jakarta itu mahal buat SEMUA orang!
Gak peduli tinggal di Senopati atau di pinggiran Jaktim. Bedanya cuma di apa yang kamu korbankan buat bisa bertahan di sini.
3 "mata uang" yang biasa dikorbankan orang Jakarta:
- Uang: bayar lebih demi waktu/kenyamanan
- Waktu: komuting jam-jaman demi ngirit sewa
- Kewarasan: tinggal numpang demi nabung, tapi bayar pakai stres
Ada yang rela komuting 4 jam PP naik angkutan umum dari Pinggiran Jkt ke kantornya di Jakarta Selatan, demi nggak perlu ngekos di tengah kota.
Ada juga yang udah 40-an tahun tapi masih tinggal di rumah orang tua, bukan karena nggak mampu ngekos, tapi karena dia hitung-hitung sendiri dan itu emang lebih masuk akal secara finansial. Cuma "bayarnya" pakai kesehatan mental.
Buat yang udah berkeluarga, mainnya beda lagi.
Kalau masih single, struggle-nya soal kos vs komuting. Tapi buat yang udah punya anak, ceritanya soal berapa persen gaji yang abis buat kebutuhan sosial anak, sekolah, kegiatan, pergaulan.
Salah satu temen bilang dia alokasiin sampai 80% gajinya ke rekening keluarga, dan tetap ngerasa kerja keras tapi nggak pernah kerasa "kaya" .. yang ada cuma mode survival terus.
Yang bikin capek bukan cuma harga, tapi rasa "kurang" yang nggak pernah abis.
Jakarta didesain buat bikin orang terus ngerasa kurang: gaji harus lebih gede, lingkungan harus lebih oke, gaya hidup yang "dikit lagi" keraih.
Makin ngejar standar orang lain (atau standar yang muncul di linimasa), makin jauh juga rasa "cukup" itu kekejar.
Jadi strategi paling realistis buat hidup di Jakarta bukan nyari cara biar nggak ngorbanin apa-apa, karena emang nggak ada caranya.
Tapi nyari tau: dari uang, waktu, atau kewarasan, mana yang paling worth buat LO korbanin?
@Jateng_Twit Menurut sy yg awam, kekayaan Indonesia jika benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat TANPA KORUPSI pasti akan lebih dari cukup dan berkembang menuju energi terbarukan, sayang negara ini dikelola oleh orang-orang yang haus dan tidak sesuai dengan bidangnya.
Teman-teman, saya ingin menjelaskan menstruasi kepada para laki-laki.
Sebagian laki-laki mengira menstruasi hanyalah beberapa hari rasa tidak nyaman, sedikit perubahan mood, lalu selesai.
Padahal, jarang sekali yang benar-benar menghitungnya.
Seorang perempuan berada dalam masa subur itu kurang lebih selama 40 tahun.
Menstruasi datang sekitar setiap 28 hari.
Artinya, dalam hidupnya, seorang perempuan mengalami sekitar 521 kali menstruasi.
Setiap menstruasi berlangsung kurang lebih 5 hari.
Jika dijumlahkan, itu sekitar 2.607 hari.
Hampir 7 tahun hidupnya dilalui dalam keadaan berdarah.
Dan bukan kiasan, dia benar-benar berdarah.
Rata-rata darah yang dikeluarkan sekitar 80 mililiter.
Jika dijumlahkan sepanjang hidup, jumlah darah terbuang mencapai sekitar 42 liter.
Rata-rata tubuh kita berisi sekitar 5 liter darah.
Empat puluh dua dibagi lima.
Artinya, sepanjang hidupnya, seorang perempuan mengeluarkan darah setara lebih dari 8x seluruh darah dalam tubuhnya sendiri,
Delapan volume darah tubuh keluar dari satu perempuan.
Dan ada bagian yang lebih jarang dibicarakan.
Ia memulai semua ini sejak usia 11 tahun.
Sebelas tahun.
Usia ketika sebagian besar dari kita masih belajar memahami tubuh sendiri.
Ia menyembunyikan pembalut di balik lengan saat berjalan ke toilet.
Berdoa agar darahnya tidak tembus ke rok.
Mencari alasan kepada guru olahraga.
Berbisik kepada teman-temannya.
Malu luar biasa jika ada anak laki-laki yang tahu trus menertawakan.
Lalu kebiasaan itu terbawa bertahun-tahun.
Menyembunyikan.
Menutupi.
Berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Di sekolah.
Di tempat kerja.
Saat bepergian.
Di ruang rapat.
Di tengah kesibukan.
Di setiap ruangan yang ia masuki.
Ia bisa sedang nyeri, lelah, tidak nyaman, bahkan cemas darahnya tembus. Namun tetap tersenyum.
Tetap bekerja.
Tetap terlihat baik-baik saja.
Tujuh tahun perdarahan.
Empat puluh tahun belajar menyembunyikannya.
Lalu sebagian laki-laki masih menyebutnya, “Ah, cuma moody sebulan sekali.”
Bahkan bikin kepanjangan baru dari PMS, "Prepare to Meet Satan."
Teman-teman,
tugas kita bukan memperbaiki semuanya.
memang tidak akan bisa.
Tugas kita adalah menjadi lebih dewasa dalam memahaminya.
Belikan pembalut tanpa merasa aneh.
Tanyakan apa yang ia butuhkan tanpa menghakimi.
Jangan memasang wajah jijik.
Jangan menjadikan menstruasi sebagai bahan candaan murahan.
Jangan bertanya, “Lagi datang bulan ya?” dengan nada yang ngenyek merendahkan.
Jangan membuat perempuan merasa tubuhnya adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Ia sudah belajar menyembunyikannya sejak usia belasan tahun.
Maka jadilah orang yang membuatnya merasa aman.
Yang membuatnya merasa nyaman
Yang membuatnya tidak perlu lagi bersembunyi.
@GiaPratamaMD MasyaAllah semoga lancar dan sehat selalu ya, dr. Gia dan seluruh jamaah🤲🏻
Izin titip doa, dok. Semoga keluarga saya selalu sehat, lancar rezeki, saya juga bisa dapat pekerjaan yg lebih baik agar bisa membahagiakan orangtua, dan bisa umrah sekeluarga🤲🏻
Terimakasih, dok🙏🏻
Dear my friend,
I hope you’re doing well. I’m writing this with a heavy heart.
Things here in Indonesia haven’t been easy lately. Day by day, life feels a bit more difficult. As someone living here, I can really feel the pressure building, not just for me, but for people all around.
The rupiah keeps weakening against the US dollar. As of early May 2026, it’s already around Rp 17,400 per dollar, and it doesn’t seem to be slowing down.
Because of that, prices are rising everywhere, imported goods, fuel, medicine, even basic daily needs.
What used to feel affordable is now becoming a burden. Many families who were doing okay before are starting to struggle just to keep up. Savings don’t last as long, and prices in traditional markets seem to go up almost every week.
At the same time, the government is spending heavily on the “Free Nutritious Meals” program. On the surface, it’s a good initiative.. helping children and mothers get proper food. But for many of us, there’s also concern.
With the currency already under pressure, it makes us wonder how sustainable this level of spending really is.
What’s hardest to see is how many people are working tirelessly but still can’t get ahead. People are putting in long hours, doing everything they can, yet life doesn’t seem to improve much.
We love this country, we really do.. but lately it feels like we’re slowly falling behind. For many families, the idea of a better future feels more distant than it used to.
I just wanted to share this with you.. not the official narrative, but what it actually feels like on the ground, day to day.
Thank you for listening. Please keep us in your thoughts.
Warm regards,
Your friend from Indonesia
@syfasscreat Mjb kak, kalau kereta jarak jauh waktu itu aku pernah digantiin, tapi yang penting harus bawa kartu identitas sesuai sama nama yg tertera di tiketnyaa karena petugasnya gak begitu ngecekin. Kalau dicancel bisa via offline atau online lewat aplikasi, cuma kena potongan 25%.
GUE DOAIN LO SEMUA DI APRIL PADA NANGIS BAHAGIA!! DAPET KERJAAN BARU, GAJI OKE & WORK HOURS, YANG ADA HUTANG PADA LUNAS, SEHAT TERUS, MAKIN RAJIN IBADAH, PUNYA TABUNGAN, GANTI HP BARU, HIDUP BAHAGIA DAN LEBIH LAMA!! 😭😭🤍❤️ Yap!
Guys gw mau jujur soal sesuatu.
Prabowo bilang dia bangun jam 2 atau jam 3 pagi buat pantau YouTube dan update berita global.
Dan gw mau bilang sesuatu yang mungkin tidak enak didengar.
Gw juga bisa bangun jam 3 pagi dan buka YouTube.
Bukan hal yang istimewa. Siapapun bisa melakukan itu.
Yang istimewa adalah setelah lu baca semua berita itu apa yang lu lakukan?
Karena kalau jawabannya cuma 'saya pantau' — itu bukan kelebihan seorang presiden. Itu kebiasaan orang yang insomnia.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi harga bahan pokok masih mencekik rakyatnya sama saja dengan tidak bangun.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi aktivis yang disiram air keras oleh intelijen militernya sendiri belum ada yang diadili sama saja dengan tidak bangun.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi 700 triliun investasi mangkrak karena izin tidak selesai-selesai sama saja dengan tidak bangun.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi kelas menengah terus menyusut sama saja dengan tidak bangun.
Satu setengah tahun menjabat. Dan yang bisa diklaim dengan data konkret masih terlalu sedikit dibanding besarnya masalah yang ada.
Gw tidak bilang tidak ada yang dikerjakan. Ada jembatan yang dibangun. Ada pupuk yang disederhanakan regulasinya. Ada efisiensi Rp308 triliun yang diklaim.
Tapi rakyat tidak butuh presiden yang impressive di depan kamera forum diskusi.
Rakyat butuh presiden yang kebijakannya terasa sebelum gajian habis di tengah bulan.
Bangun jam 3 pagi itu mudah.
Yang susah adalah memastikan bahwa semua yang lu baca jam 3 pagi itu berujung pada keputusan yang mengubah sesuatu di kehidupan nyata orang-orang yang bangun jam 4 pagi bukan untuk pantau YouTube tapi karena harus kerja shift pagi dengan upah minimum yang tidak cukup untuk bayar kontrakan.
Kalau pantau doang gw juga bisa Pak.