Kemaren sisa kuota sy masih 3GB. Kemaren pula batas akhir masa berlakunya. Tadi pagi setelah sy cek ternyata udah hangus. Jadi keputusan MK cuma dianggap angin lalu oleh provider celluler? Menyedihkan!
Negara mengambil 100 dari kantong rakyat, mengembalikan 10, lalu menuntut rakyat berterimakasih.
Padahal yang 90 dipakai bancakan kroni2 penguasa.
Sadarilah.
Rakyat sudah di titik jenuh, turun ke jalan karena keadilan makin sekarat !
Lucunya, di saat Jakarta memanas begini, TIDAK ADA SATUPUN stasiun TV nasional yang berani menyiarkan.
Pemerintah pura-pura buta
Media dipaksa tuli dan bisu dari aspirasi mahasiswa
Sengaja dibungkam atau gimana ??? 🙄🤔
Biar dianggap Indonesia baik-baik saja 😎
Biarlah netizen yang bergerak 💪
Biar medsos yang jadi saksi !!!
#ReformasiDikorupsi
#MosiTidakPercaya
Bayangin, tanganmu diborgol, kakimu diiket, terus kamu diceburin ke waduk. Ngga ada yang liat seberapa tersiksanya kamu waktu air mulai penuhin paru paru. Ngga ada yang liat seberapa putus asanya kamu waktu matamu masih bisa natap matahari dan langit biru, tapi kamu sadar, kamu ngga bisa ngapa ngapain. Alm Bapak Sumarna, security Waduk Jatiluhur yang meninggal. Dia meninggal karena berupaya membubarkan kerumunan anak muda tapi dia dilakban dan diceburkan ke waduk. Jasadnya baru ditemukan jam 11.00 Katanya para pelaku masih SMP
semoga seluruh pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. @prabowo@ListyoSigitP@DivHumas_Polri@DediMulyadi71 bantu di followup bang budi @BudiBukanIntel
• nanik s deyang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala BGN.
• hotman paris mengundurkan diri dari kuasa hukum eks jampidsus, febrie.
• nevi rizal mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Asisten I Pemkab Gayo Lues.
• Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI
Dan kamu masih merasa pesimis bahwa pekik suaramu di medsos tidak akan menghasilkan apa-apa? Jangan!
Teruslah berisik. Teruslah berisik mengkritisi embege, teruslah berisik mengkritisi advokat nakal yang membela penjahat, teruslah berisik mengkritisi pejabat publik yang pribadi atau anak-anaknya terang-terangan pamer kekayaan.
Teruslah berisik tentang keadaan pasar dan ekonomi kita yang jauh dari baik-baik saja. Kita semua bisa menghantam mereka. Kita semua bisa mempengaruhi psikologis orang-orang berkuasa.
Berisiknya kita bisa mempengaruhi kebijakan politik para penyelenggara negara!
Negaramu mampu membiayai 80.000 koperasi desa, 20-24 triliun utk 2 truk/unit, 1,8 triliun utk kipas angin
30.000 SPPG dengan operasional 1 triliun/hari, 30 triliun utk 2 mobil & motor/unit, 6 milyar utk kaos kaki
Dan terakhir, mampu menciptakan universitas baru (URI), dengan 10 kampus yang kisaran anggarannya 80-200 triliun
Tapi negaramu tidak mampu menghapus pajak buku, tidak mampu membiayai perpustakaan, tidak mampu menggaji guru yang layak, dan TIDAK MAMPU MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN!
kepada siapa mereka ini berpihak? yang jelas bukan kepada RAKYAT 🥲💔
Di negara kayak Indonesia, peran Fatimah Zahra ini dilindungi undang”. Memberi masukan ke pemerintah, kritik pemerintah, kasih sudut pandang lain kebijakan pemerintah.
Ngelihat panjang lebar sesi debat, Kepala Bakom sama sekali gak ada respect dengan lawannya. Gestur sikap duduk, mendengarkan argumen, sama sekali gak ada respect. Dari sikap aja gak mau nerima, dimana argumennya lawan akan diterima.
Di forum ini memang membahas substansi yg didebatkan tpi secara person gak berimbang. Gak akan dapat solusi.
Harusnya posisi Fatimah didampingi oleh temen” DPR karena memang perwakilan rakyat untuk pantau program pemerintah. Tpi seolah” DPR pun juga juru bicara pemerintah.
Ironis bagi negera demokrasi.
Wapres sudah TERBUKTI melakukan tindak PENYUAPAN terhadap mahasiswa.
Berarti ini sudah sesuai dengan Pasal 7A UUD 1945.
Berarti sudah SAH dan harus DI BERHENTIKAN sesuai dengan hukum dan UU yang berlaku 🔥🔥
Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
“EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah
DARITADI NANGISIN INI😭😭,
“saya butuh makan”😭
“rumah saya dibekasi pa”😭
“anak saya sekolah” 😭
“saya butuh makan pak”😭
“tolong pak” “tolong”😭
“Saya minta tolong pak”😭😭😭😭
Driver ojol ini motornya diangkut dishub dia habis ambil orderan customer di pisang goreng bu nanik. Dan sekarang pihak bu nanik pun minta tolong buat yang kenal dengan drivernya. Tolong bantu viralkan ya!!!😭😭😭
Guys ini namanya Ketika hati nurani sudah tidak ada lagi nggak sih?🥲
Ntah kepada siapa lagi kita berharap😭
sc:threadsyetyhandayanii
Guys, di tengah situasi di mana hampir semua partai politik sudah masuk ke koalisi pemerintah, di mana oposisi formal praktis tidak ada, di mana DPR sudah tidak bisa diharapkan untuk jadi pengawas yang jujur muncul satu pertanyaan yang serius:
siapa yang masih berani bicara jujur soal kondisi negara ini?
Dan jawabannya yang paling mengejutkan justru datang dari seorang mahasiswa filsafat semester akhir yang bahkan tidak punya ijazah SMA formal.
Namanya Tiyo Ardianto.
Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada.
Latar belakangnya sendiri sudah luar biasa.
Tiyo bukan lulusan SMA negeri favorit.
Dia lulusan pendidikan nonformal paket C dari sekolah alternatif di Kudus.
Tapi dengan ijazah itu dia berhasil masuk Fakultas Filsafat UGM dan bertengger di peringkat 100 besar terbaik saat seleksi masuk.
Sebelum jadi aktivis, dia sudah jadi penyair yang karyanya masuk buku antologi se-Asia Tenggara, menjadi sutradara teater sejak usia 16 tahun, menang lomba baca puisi nasional mengalahkan lebih dari 4.000 peserta,
dan pernah dipuji langsung oleh istri WS Rendra karena karakter suaranya yang mengingatkan pada si Burung Merak.
Kemampuan berbicara di depan massa, kemampuan merangkai kata, kemampuan membaca situasi semua itu bukan kebetulan.
Itu dilatih selama bertahun-tahun sebelum dia naik ke panggung politik kampus.
Ketika terpilih sebagai Ketua BEM KM UGM pada Januari 2025, hal pertama yang dia lakukan adalah memutuskan BEM UGM keluar dari Aliansi BEM Seluruh Indonesia.
Alasannya sederhana tapi menohok:
forum mahasiswa nasional itu sudah disusupi kepentingan politik.
Ada menteri, ada kapolda, ada kepala BIN daerah yang hadir di dalam forum yang seharusnya independen.
Bahkan ada karangan bunga dari Kepala BIN Daerah Sumatera Barat terpajang di depan ruang sidang.
Bagi Tiyo itu bukan sekadar hiasan.
Itu simbol bahwa kekuasaan sedang mencoba menjinakkan daya kritis mahasiswa sebelum mereka sempat bergerak.
Dan alih-alih ikut diam dan menikmati "perlindungan" itu Tiyo memilih keluar.
Kalimatnya yang viral waktu itu:
"Kami memilih jalan sunyi tapi bercahaya setia bersama rakyat Indonesia."
Dari situ kritiknya tidak berhenti.
Justru makin keras dan makin spesifik.
Soal MBG:
dia mempertanyakan kenapa anggaran pendidikan 20% yang seharusnya wajib justru dipotong untuk membiayai program makan gratis.
Menurutnya, uang Rp225 triliun itu kalau dipakai dengan benar bisa menggratiskan seluruh biaya kuliah di PTN se-Indonesia.
Dia juga menuding ada data keracunan MBG yang sengaja ditutupi supaya programnya terlihat sukses di mata presiden.
Soal BBM:
dia menyebut kenaikan Pertamax sebagai bukti nyata kegagalan pemerintah mengelola anggaran sementara efisiensi di kabinet yang gemuk dan biaya perjalanan dinas pejabat ke luar negeri tidak pernah disentuh sama sekali.
Soal Kepala BGN:
dia mempertanyakan kenapa posisi sepenting itu diisi bukan berdasarkan kompetensi di bidang gizi, tapi berdasarkan kesetiaan politik.
Dan dia menyebut kalimat yang paling keras tapi paling jujur: "Semua rakyat boleh menderita pejabatnya tidak boleh."
Reaksi pemerintah?
Predictable.
Gerakan black campaign langsung dilancarkan secara terorganisir.
Akun-akun anonim menyebarkan fitnah bahwa Tiyo menggelapkan dana beasiswa KIP.
Pesan WhatsApp berisi berita palsu dikirim langsung ke nomor handphone ibunya di kampung.
Dua puluh sampai tiga puluh pengurus BEM UGM lain juga menerima ancaman serupa di ponsel masing-masing.
Ada yang mengikutinya secara fisik.
Ada teror digital berupa ancaman penculikan dari nomor luar negeri.
Tapi fitnah soal beasiswa itu runtuh sendiri begitu diperiksa.
BEM UGM secara aturan kampus tidak memegang uang, tidak punya akses ke dana beasiswa, dan tidak punya kewenangan apapun soal KIP.
Yang terjadi justru sebaliknya BEM UGM menggalang dana sosial secara terbuka untuk membantu mahasiswa penerima KIP yang sempat terlantar karena pencairannya terlambat dari pemerintah.
Itulah yang diputarbalikkan menjadi tuduhan korupsi.
Dan kemudian datang kontroversi yang menggerus sebagian simpati publik terhadap Tiyo.
Dalam sebuah diksi terbuka, dia membuat perumpamaan seekor kucing gemuk yang kepalanya dipenuhi jamur scabies sampai tidak bisa melihat lalu menyebut nama kucing itu "Prabodoh Subiantol."
Sebuah plesetan nama presiden yang langsung memantik kemarahan luar biasa dari berbagai kalangan, termasuk dari orang-orang yang sebelumnya mendukung gerakannya.
Ini bagian yang perlu dilihat dengan jujur dari dua sisi.
Di satu sisi dalam tradisi sastra dan teater, perumpamaan hewan untuk menyindir penguasa adalah hal yang sangat lazim.
Dari Aesop sampai George Orwell, satir menggunakan fabel adalah senjata kritik yang sudah diakui sepanjang sejarah.
Dan frustrasi yang menumpuk dari seorang aktivis yang keluarganya diteror, yang kawan-kawannya diancam, yang gerakannya difitnah itu bisa membuat kalimat meledak tanpa filter.
Di sisi lain panggung politik Indonesia bukan panggung teater.
Ketika batas antara kritik kebijakan dan serangan personal dilanggar terlalu jauh di ruang publik simpati publik yang susah payah dibangun bisa runtuh dalam hitungan menit.
Dan itulah yang terjadi.
Tapi ada yang jauh lebih penting dari kontroversi kalimat itu yang harus diperhatikan.
Ketika seorang mahasiswa semester akhir yang tidak punya partai, tidak punya anggaran, tidak punya perlindungan institusional yang kuat berani mengkritik program senilai Rp335 triliun, berani menyurati UNICEF, berani menarik keluar organisasinya dari forum yang sudah disusupi kepentingan
dan kemudian dibalas bukan dengan debat substansi tapi dengan teror ke ibunya dan ancaman penculikan dari nomor luar negeri
maka yang sebenarnya diperlihatkan oleh pemerintah bukan kewibawaan.
Yang diperlihatkan adalah ketakutan.
Karena kalau kritiknya tidak ada bobotnya tidak perlu segitu besarnya upaya untuk membungkamnya.
Dan inilah konteks yang paling penting:
Tiyo muncul bukan dalam situasi normal.
Dia muncul di tengah situasi di mana semua partai sudah bergabung ke koalisi, di mana DPR sudah tidak bisa diharapkan mengawasi eksekutif secara jujur,
di mana media mainstream sudah semakin berhati-hati, dan di mana orang-orang yang berani berbicara keras satu per satu menghadapi konsekuensi hukum atau tekanan sosial yang berat.
Di ruang kosong itulah seorang mahasiswa filsafat dengan ijazah paket C mengisi posisi yang seharusnya diisi oleh oposisi formal yang sudah tidak ada.
Tiyo Ardianto bukan sempurna.
Kontroversi kalimat kucing scabies itu adalah pelajaran mahal tentang betapa berbahayanya kalau kritik yang tajam kehilangan kontrol dan melewati batas yang tidak perlu dilewati.
Kritik kebijakan yang berbasis data dan argumen jauh lebih sulit dibungkam dibanding ejekan personal yang mudah dijadikan senjata balik.
Tapi di luar kesalahan itu yang dia lakukan selama ini adalah fungsi yang seharusnya dijalankan oleh oposisi yang sehat: mengawasi, mempertanyakan, dan menuntut pertanggungjawaban atas uang rakyat.
Dan fakta bahwa pemerintah merespons dengan teror ke ibunya alih-alih dengan debat substansi itu sendiri sudah menjawab pertanyaan siapa yang sebenarnya ketakutan dalam cerita ini.
Entah mengapa, peristiwa pengusiran acara ini yg dihadiri Sudaryono, Nusron, dan Budiman Sudjatmiko, menurut gw akan menjadi sejarah.
Semakin ditekan, semakin melawan.
Panjang Umur Perlawanan 🔥
Buat Klean dan jajaran yang dipilih sebagai pelayan setiap 5 tahun
Hentikan logika Klean untuk menyalahkan Rakyat
.
.
.
Orasi Menggetarkan dari Mahasiswa
👇Realitanya, semua harus tau...
- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Lucu rasanya. Pasukan lengkap TNI-Polisi dikerahkan untuk menghadang barisan orang muda tanpa senjata yang hendak menyuarakan haknya. Mengingat berkali-kali menyaksikan negara begitu “softspoken” sama penjahat perang macam Trump dan Netanyahu. Tapi berlaga sangat galak kepada rakyatnya sendiri. Republik anomali