Allahumma inni as’aluka dapet kerja di bulan agustus, kerja kantoran, sesuai minat, kerja santai, weekend libur, masuk jam 9-5 sore, lingkungannya baik, bisa deket sama temen kantor, gaji gede, ga beban aamiin🥹🙏
DON’T STOP TALKING ABOUT ACEH!🚨
siapa bilang Aceh sudah pulih dan ditangani secara merata?
BELUM PULIH!
sedihnya, mereka masih sekolah di tenda yang panas banget kalo siang hari
mata pencaharian merekapun hilang, karena sawah mereka hilang dan tersapu oleh banjir kemarin💔
semenjak post tentang Aceh, banyak akun bodong mengatasnamakan ABAH (ayahku) dan dia follow semua orang terdekatku
heran banget ya garagara post sesuatu yang real ya emang Aceh belum pulih tapi malah diserang buzzer lol aneh bgt
Dulu waktu masih tunangan, aku pernah becanda ke dia,
"Kalau nanti kerja, aku minta 30 juta ya..."
Padahal waktu itu dia cuma punya uang 1 juta di tabungan, kerja pun belum tetap.
Dia cuma senyum, ga bilang "ngawur", tapi jawab pelan,
"Iya... doain aja ya, semoga Allah mampukan."
Aku lupa sama omongan itu.
Buatku cuma candaan biasa.
Sampai 3 tahun kemudian...
Dia datang bawa kabar,
rezekinya naik pelan-pelan... dari 2 juta, 5 juta sampai akhirnya suatu hari dia kasih aku 30 juta.
Aku kaget.
Dia cuma bilang,
"Dulu kamu pernah minta... aku cuma berusaha, Allah yang kabulkan."
Dari situ aku sadar...
kadang ucapan ringan kita, bisa jadi doa yang benar-benar didengar.
(Kisah nyata)
Effort banget, karena lo bisa tidur/makan/diem aja di rumah, tapi lo memilih buat jemput gue, for the sake of jemput, gapeduli mau jauh atau dekat.
Semuanya perlu dihargai. 🤗
Chat dengan driver ini menyadarkanku bahwa kami adalah satu generasi yang mengusahakan hidup dengan cara berbeda.
Dulu waktu kecil, lihat driver, penjaga toko, petugas keamanan, orang kantoran itu sebagai orang dewasa.
Here we are, anak kecil yang sekarang juga udah dewasa.
Gue punya tetangga yang bikin gue mikir lama.
Lulusan S2 Teknik UI.
Pernah kerja 5 tahun di salah satu power plant terbesar di Asia Tenggara.
Perempuan yang dari luar keliatan punya segalanya pendidikan, karir, penghasilan.
Terus dia resign.
Bukan karena dipecat.
Bukan karena nggak mampu.
Tapi karena suaminya harus pindah-pindah kota karena kerjaan, dan mereka udah LDR 2 tahun.
Dia yang milih ikut.
Waktu dia cerita ini ke gue, gue nggak langsung ngerti kenapa.
"Lo nggak sayang karir lo?" gue tanya.
Dia senyum.
Sayang Banget sih
Tapi ada yang lebih gue sayangin yaitu anak gw
Dan ternyata keputusan itu nggak semudah kelihatannya.
Masa transisi dari perempuan yang tiap hari rapat, ngitung data, dan punya kontribusi yang keliatan nyata ke perempuan yang tiap hari di rumah, ngurusin anak, dan nggak punya penghasilan sendiri itu berat banget.
Dia cerita ke gue soal itu dengan jujur.
Kehilangan teman-teman kerja.
Kehilangan ruang diskusi yang dulu bikin otaknya terus jalan.
Kehilangan kebebasan finansial yang selama ini bikin dia ngerasa punya kendali atas hidupnya sendiri.
Dan yang paling nyesek komentar orang-orang sekitar yang nggak diminta tapi terus dateng.
Sayang banget S2-nya.
Kok mau sih jadi IRT doang?
Buang-buang pendidikan.
Tapi kemudian sesuatu berubah.
Dia nemuin hal-hal baru yang ternyata dia suka dunia literasi, ecoprinting, komunitas-komunitas yang nggak pernah dia sempet eksplor waktu sibuk kerja.
Dia baca lebih banyak buku.
Dia punya waktu buat beneran mikirin cara mendidik anaknya bukan sekadar nitip ke orang lain.
Dan dari rumah, dia masih bisa freelance bantu project penelitian dan keperluan akademik.
Yang bikin gue respek bukan keputusannya karena itu hak dia sepenuhnya.
Yang bikin gue respek adalah cara dia ngejalaninnya.
Dia nggak berhenti tumbuh cuma karena berhenti kerja kantoran.
Dia buktiin bahwa perempuan berpendidikan tinggi yang milih jadi ibu rumah tangga bukan berarti menyia-nyiakan pendidikannya justru dia pakai semua ilmunya buat hal yang menurut dia paling penting.
Sekarang dia mulai belajar affilate di tiktok dan shoppe
malah akun tiktok dia udah capai 50 rb followers
dan mulai ada endoresan masuk
Dan ini yang gue pikir sering salah kaprah di Indonesia
Kita terlalu sering ngukur nilai seorang perempuan dari jabatannya, gajinya, atau seberapa sibuk dia keliatan dari luar.
Padahal ibu yang cerdas, yang terus belajar, yang bisa jadi teman diskusi buat suami dan guru pertama buat anaknya itu kontribusi yang dampaknya jauh lebih panjang dari apapun yang bisa dilihat di CV.
Balik ke pertanyaan awal kalau lo udah punya karir impian terus calon suami minta jadi IRT penuh?
Jawabannya nggak hitam putih.
Yang penting bukan pilihan mana yang lo ambil.
Tapi apakah pilihan itu beneran lo yang mutusin bukan karena dipaksa, bukan karena takut, tapi karena lo sendiri yakin itu yang terbaik buat hidup lo.
Karena pada akhirnya, yang harus nanggung konsekuensinya lo sendiri.
Lo tau kenapa banyak orang Indonesia susah nabung?
Bukan cuma karena boros. Tapi karena dari awal kita kebiasa hidup “bareng-bareng”.
Uang yang lo punya sering dianggap bukan cuma punya lo, tapi juga buat keluarga.
Jadi bukan lo nggak bisa nabung,
tapi tabungan lo sering kepake buat kebutuhan yang nggak cuma lo doang.