hidup enak, anak orang kaya, nanti lulus dari ui bisa kerja lewat relasi orang tua… but they just had to be ‘boys’ and ruin everything for themselves. the joke wrote itself
@tanyakanrl Klo lu muslim, ada konsep indah namanya nafkah Imta' disitu dianjurkan kalau suami baiknya mempertahankan standar hidup calon istri biar gak anjlok dari kebiasaannya sebelum nikah. Lagian lu wiraswasta nder dibuat flexible ajaa klo masih mau usahain 👍
Terlepas dari gaji cewenya besar atau engga, gue mau menekankan sesuatu disini… cowo tuh kadang (or most of the time) suka lupa (atau simply ignorant aja) kalo manusia yg mau dijadikan pasangan hidupnya itu bukan “entitas kosong”.
Ada kultur, pendidikan, pengalaman, keluarga, lingkungan sosial, dll yg ngebentuk si cewe shg lu bisa ketemu dia dan memutuskan utk menikahi dia skrg.
Lu gabisa meremehkan itu. It takes her lifetime supaya dia bisa jadi versinya skrg.
Consider it as a reminder to you. Good luck.
Tau ngga? “Unpaid labours” yang dilakukan wanita dirumah tangga, kalo dihentikan sehari aja, bisa bikin dunia berhenti bergerak.
25 Oktober 1975, wanita di Iceland kompak berhenti ngurus rumah, ngurus anak, bahkan wanita pekerja juga berhenti dateng ke kantor.
Seharian itu, sekolah sekolah daycare, sampe pabrik pada tutup gara gara pekerja cewenya pada ga ada.
Nasib rumah tangga gimana tanpa peran ibu dan istri sehari aja?
Suami harus bawa anaknya kerja, di supermarket makanan cepat saji kaya nugget, sosis langsung ludes habis, karena banyak cowok yang gabisa dan gapunya waktu buat masak dengan penuh hati kaya cewe biasanya.
Dinamain “The Women’s Day Off” gerakan ini berhasil nunjukin, kalo tanpa sosok yang katanya “cuma numpang dirumah suami” itu, suami yang awalnya cuma fokus kerja, harus sekaligus ngurus anak dan masak makanannya sendiri.
Saking susahnya, gerakan ini berhasil bikin Iceland lolosin banyak undang undang yang menjamin hak perempuan.
Beneran, dunia ini ga berjalan kalo kontribusi tiap hari wanita melakukan pekerjaan rumah tuh ga dihargain.