Guys, ada momen di rapat DPR
seorang anggota DPR marah dan heran
Dan yang ngomong ini bukan aktivis.
Bukan pengamat.
Ini anggota DPR sendiri yang semprot Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya secara langsung di depan muka.
Pertanyaan yang paling mendasar yang dia lempar:
Kalau kita sudah punya big data
orang datang ngurus KTP
masa dimintain fotokopi KK lagi?
Gua punya KTP untuk apa?
Masih dimintai fotokopi KTP.
Kan aneh.
Surat lahir,
surat baptis masih diminta.
Wah, pusing. Negara kita kayak begini.
Ini bukan pertanyaan teknis yang butuh jawaban panjang.
Ini pertanyaan yang semua orang Indonesia pernah tanyakan dalam hati setiap kali berurusan dengan birokrasi.
Dan jawabannya tidak pernah memuaskan selama puluhan tahun.
Faktanya yang bikin makin miris perbandingan dengan Malaysia:
Indonesia punya e-KTP sejak 2011.
Ada chip NFC.
Ada data biometrik.
Teknologinya canggih.
Anggarannya triliunan rupiah.
Malaysia punya kartu yang secara teknologi identik namanya MyCAD.
Bedanya satu hal:
Malaysia benar-benar memakainya.
Di Malaysia mau isi BBM subsidi tinggal tap MyCAD di pompa bensin.
Sistem langsung cek identitas, cek kuota, kasih harga subsidi otomatis.
Tidak perlu antri.
Tidak perlu surat keterangan.
Tidak perlu aplikasi.
Tidak perlu fotokopi.
Setiap warga dapat kuota 200 liter per bulan.
Kalau kuota habis bayar harga normal.
Tidak bisa diakali.
Kalau ketahuan curang kuota diblokir permanen.
Hasilnya:
pemerintah Malaysia hemat RM600 juta per bulan.
Penjualan diesel bersubsidi turun 30%. Penyelundupan langsung terdeteksi.
Indonesia?
e-KTP yang sama teknologinya selama 15 tahun masih dipakai untuk difotokopi.
Dan ini yang paling menohok dari seluruh pidato itu:
Kita harus bilang kita lebih bodoh dari orang Malaysia kalau urusan ini.
Karena enggak pernah kelar.
Kalimat itu keras.
Tapi tidak salah.
Soal pemborosan anggaran yang berlangsung setiap tahun:
Ini yang menurut gue paling menyakitkan secara fiskal.
BNI punya data nasabah sendiri.
Pertamina buat sistem data sendiri untuk subsidi.
KPU setiap pemilu buat pendataan pemilih sendiri yang nilainya triliunan setiap siklus.
BPJS punya database sendiri.
Kemendikbud punya data sendiri.
Kemensos punya data sendiri.
Semua lembaga membangun silo data masing-masing.
Semua dengan anggaran masing-masing. Semua dengan vendor masing-masing.
Semua dengan tender masing-masing.
Dan di ujung semuanya data tetap tidak terintegrasi. Rakyat tetap diminta fotokopi KTP setiap kali berurusan.
Kita kalau urusan ngamburin uang tuh juara satu. Untuk data saja triliunan kita buang tiap tahun.
Cerita yang paling menyentuh dan ini yang paling human:
Anggota DPR ini bercerita soal kondisi di dapilnya di Kalimantan Utara.
Banyak warga dari NTT, NTB, Toraja yang kerja di Malaysia banyak secara ilegal.
Ketika mereka diusir setelah tidak digaji atau dieksploitasi paspor dan KTP mereka sudah disita oleh majikan.
Mereka pulang ke Kalimantan tanpa dokumen.
Tanpa uang.
Tanpa apa-apa.
Dan ketika mereka coba mengurus KTP baru mereka diminta KK.
Diminta fotokopi KTP lama yang sudah disita.
Diminta surat lahir yang ada di kampung di NTT yang jauh.
Untuk makan aja enggak ada. Sekarang mereka terkapar di perkebunan-perkebunan, digaji di bawah UMR, enggak punya BPJS, enggak punya apa-apa.
Dan sistem birokrasi yang seharusnya melindungi mereka justru menjadi tembok yang tidak bisa ditembus.
Makanya saya bilang KTP itu hak asasi.
Soal keamanan data ini juga perlu diangkat:
Dia menyebut setiap hari dia menerima minimal 50 WhatsApp dan telepon yang menawarkan emas, saham, investasi bodong.
Gimana keamanan data kita ini?
Siapa yang harus bertanggung jawab?
Masa kita terus diganggu hal seperti ini?
Dan tidak ada jawaban jelas apakah yang bocor itu data adminduk, data bank, atau data operator telekomunikasi.
Tidak ada institusi yang maju mengambil tanggung jawab.
Solusi yang dia minta dan ini bukan permintaan yang rumit:
Satu — sinkronisasi semua data di bawah satu gatekeeper. Kemendagri sebagai pemegang e-KTP harus jadi koordinator. Semua lembaga lain berhenti bikin database sendiri.
Dua — chip e-KTP harus diaktifkan untuk semua layanan publik. Tidak ada lagi fotokopi. Tidak ada lagi surat lahir. Cukup tap kartu.
Tiga — presiden harus turun tangan dan memerintahkan sinkronisasi ini di level ratas. Karena tanpa political will dari atas tidak ada satu lembaga pun yang akan mau menyerahkan kewenangan datanya.
"Jangan nanti KPU dibentuk, tahun berikutnya mengusulkan 2 triliun untuk identifikasi pemilih. Enggak habis-habis kalau begitu terus."
Sudah 80 tahun merdeka. Sudah 15 tahun punya e-KTP. Dan kita masih dimintai fotokopi KTP untuk mengurus KTP.
Kalau itu bukan kegagalan sistemik yang harus dipertanggungjawabkan gue tidak tahu apa lagi namanya.
@LambeSahamjja Pemerintah itu memang sekumpulan orang dungu yg diberi seragam dan gaji tetap. Kerja? Iya memang kerja, cuma ngasal yg penting terlihat kerja. Kalo dikritik malah minta solusi sama yg mengkritik. Tolol emang
kalau kita nyerahkan uang ke teller bank itu artinya sedang mempercayakan uang kepada sistem bank atau kepada personal mas/mba teller?
masa kudu nanyain, "kamu bulan depan bakal resign dan kabur gak?"
Kami persilakan pemimpin dan seluruh warga negara negara-negara lain untuk bully Indonesia, kalau sudah, tolong bully lebih keras lagi sampai para konten kreator berkedok pegawai negeri ini stop mempermalukan dan melecehkan kami
karena sungguh, kami rakyatnya sudah tidak sanggup
Guru madrasah swasta berdemonstrasi agar diangkat menjadi ASN PPPK, kemudian dicemooh karena yang menggaji guru swasta adalah yayasan, bukan kewajiban negara. Tapi negara bisa mengangkat pegawai SPPG dibawah naungan Yayasan swasta menjadi ASN PPPK.
Persoalannya, anggaran yang digunakan untuk mengangkat pegawai SPPG dibawah Yayasan/ Swasta menjadi PPPK adalah anggaran pendidikan, yang seharusnya bisa digunakan untuk mengangkat guru madrasah swasta menjadi ASN PPPK.
bukti nyata 1 langkah kecil bisa berarti besar..
meet Arief Kamaruddin
pemuda 34 tahun dari Ciliwung yang bikin gubernur Jakarta gelar rapat khusus soal ikan sapu-sapu
kenapa dia mulai gerak
> dari kecil hobi jala ikan
> dulu dapetnya udang atau lele liar
> sekarang isinya sapu-sapu semua
> spesies asli ciliwung hancur sisa 20 spesies
> sapu-sapu ini invasif dan nggak ada predator
cara kerjanya hardcore
> turun ke sungai 1-3 jam tiap hari
> kadang nyari sampe jam 2 pagi
> nyemplung ke air keruh beracun
> ngeraba akar pohon pake tangan kosong
> resiko: beling, paku, ulerdapet ikan, patahin lehernya, lalu kubur
impactnya nggak main-main
> viral sampe masuk podcast close the door
> gubernur dki langsung instruksi walikota
> dinas gelar operasi massal tiap jumat
> di jaksel kemaren tembus hampir 7 ton
> rilis warning bahaya makan sapu-sapu ciliwung
strateginya pinter
dia pake sapu-sapu cuma buat pintu masuk
tujuan utamanya nyentil isu sampah dan limbah
karena kalo bahas sampah doang publik gampang abai
dari jaring seadanya, dia sukses maksa birokrasi buat turun tangan.
di tempat kalian ada sosok
seniat ini nggak?
Mumpung isu KS lagi panas, ada baiknya kita mengingat lagi kejahatan seksual terbesar di sejarah Indonesia.
Kejahatan itu ialah Pemerkosaan Massal Mei 1998.
Pada Mei 1998, AsiaWeek melaporkan suatu mobilisasi preman yang raksasa.
Gerombolan-gerombolan preman, bandit, rampok, dan penyamun dari hutan-hutan Lampung dan Timor Timur didatangkan dalam jumlah besar pakai pesawat kargo dan kereta ke Jakarta.
Secara terencana, gerombolan preman dalam jumlah sangat besar digerakkan di seluruh wilayah Jakarta untuk menciptakan bencana kemanusiaan masif dan meluas.
Hasilnya sangat ekstrem.
Selama tiga hari nonstop, terjadi perburuan manusia di Jakarta.
Gerombolan preman dalam jumlah besar menyerbu kampung yang didiami mayoritas suku Tionghoa, mengepung gang, memasuki rumah orang random, memukuli ibu-ibu random penghuninya dengan sadis sampai mati, menelanjanginya, memerkosanya, membakarnya, membakar rumahnya, mencuri sofa dan kulkas dan TV dan lemari bajunya. Seluruh keluarga si ibu-ibu juga mati dibantai.
Kemudian gerombolan preman itu pindah ke rumah sebelah. Lalu setiap rumah di situ. Lalu ke kampung sebelah.
Ribuan orang mati dibantai.
Di jalanan Jakarta, perempuan diperkosa bergilir oleh massa dan dipukuli dengan sadis sampai mati dan rusak dengan mengerikan.
Gerombolan pencuri, penyamun, pemerkosa, dan pembunuh dalam jumlah sangat besar merongrong dan meneror seluruh wilayah Jakarta selama tiga hari nonstop.
Tidak ada aparat. Tidak ada kabar tentang apakah besok pemerkosaan massalnya sudah selesai atau masih lanjut. Soeharto lagi entah di mana di luar negeri. Orang capek.
The Rape of Jakarta.
Inilah "KS" terbesar di sejarah Indonesia. Ketika Nanking diperkosa penjajah, Jakarta malah diperkosa bangsanya sendiri, secara harfiah.
Siapapun yang bertugas melindungi Jakarta saat itu jelas gagal total.
Ternyata, di Jakarta saat itu ada tiga pasukan aktif yang besar:
1. Kostrad
2. Kodam Jaya
3. Kopassus
Pertahanan Jakarta praktis menjadi tugas mereka yang sama sekali tidak boleh gagal.
Kalau Jakarta sampai jatuh ke tangan musuh, merekalah yang tanggung jawab, karena gagal dalam tugasnya.
Kalau bukan mereka, siapa lagi yang bisa melindungi Jakarta dari musuh?
Oleh karena itu, semua anggota ketiga pasukan ini sudah bersumpah prajurit untuk melindungi rakyat tanpa gagal, bahkan jika harus mati sekalipun.
Selama tanggal 13-15 Mei 1998, ketiga pasukan ini ngapain aja?
Apa yang saat itu mereka lakukan untuk melindungi rakyat?
Selama tiga hari, para tentara ini nggak cuma gabut nontonin ratusan perempuan diperkosa bergilir dan dipukuli sampai rusak dan mati oleh massa, kan?
Tentu, tentara hanya mengikuti perintah.
Apa yang komandan-komandan ketiga pasukan lakukan selama 13-15 Mei? Apakah mereka memerintahkan pasukannya untuk melindungi rakyat?
Siapa sih komandan-komandannya saat itu?
Oh, berarti muncul 3 nama:
1. Pangkostrad saat itu
2. Pangdam Jaya saat itu
3. Pangkopassus saat itu
Tiga manusia inilah yang bertugas melindungi Jakarta selama 13-15 Mei 1998. Merekalah yang pegang pasukan.
Siapakah nama-nama ketiga orang yang spesifik itu? Tentu saja tidak boleh gw sebut.
They-Who-Must-Not-Be-Named.
Ikan busuk dari kepala. Kalau Kostrad, Kodam Jaya, dan Kopassus entah mengapa bisa-bisanya kompak gagal bersamaan, tiga orang inilah yang harus minta maaf sebagai pemimpin.
Tiga orang inilah yang harus minta maaf karena kicep gagal mencegah pemerkosaan dan pembantaian di Jakarta oleh gerombolan preman, termasuk oleh gerombolan preman dari hutan Timor Timur.
Bukti kuat bahwa negara gak kerja, gak hadir, salah pilih prioritas, bebal, culas, pongah, dan empatinya jatoh.
Kapan terakhir kali kamu liat presiden unggah konten perihal Aceh? Saat sholat ied? Saat diskusi harga sumur bor 150jt dan dianggapnya murah? Atau saat ia berkelakar di atas podium bahwa saat pemilu ia tak memenangkan suara di Sumatera, tetapi mengklaim ia dan pemerintahannya tetap 'mati-matian' untuk proses pemulihan bencana? Kapan?
Inilah Aceh saat ini, masih seperti ini.
Semoga lekas pulih, Aceh. 🥀
BESOK SIDANG DI MK MENDENGARKAN KETERANGAN PRESIDEN DAN DPR. GUGATAN NO 55 TERHADAP MBG DALAM UU APBN 2026.
Selasa, 14 April 2026.
Pukul 10.30 WIB.
MOHON DOANYA,
@penduduk_lokal_ jangan lupa kacamata item.
guys kalau mau kirim martabak dan kopi, bolehlah ke alamat MK. Satpamnya ramah-ramah kok.
WARISAN GOLONGAN DARAH "O"
1. Tidak Pernah Pingsan
2. Tidak Pernah Diinfus
3. Tensi 65 Masih Berdiri Tegak
4. Jarang Sakit
5. Kalau Sakit Rasa Mau Log out
6. Sering Kunang Kunang Dari Duduk Ke Berdiri
7. Kalau Mau Tidur Ritual Gesek-Gesek Kaki Ke Sprei
8.Rajanya Begadang
9. Paginya Kerja Jarang Sarapan
10.Satu Lagi Tidak Pernah Kesurupan Entah Kuat Imannya Atau Dia Setannya😈