Buku dan Logika ”Kemewahannya”
Baca di https://t.co/rHBTp3tqPy
Akses Harian Kompas praktis, kapan saja, dan dari mana saja lewat aplikasi. Unduh sekarang! via @hariankompas
Buku dan Logika ”Kemewahannya”
Baca di https://t.co/rHBTp3tqPy
Akses Harian Kompas praktis, kapan saja, dan dari mana saja lewat aplikasi. Unduh sekarang! via @hariankompas
Buat yang nanya kenapa? karena opportunity cost.
Misal lo punya 30jt, terus invest di saham atau emas.
Anggaplah return realistisnya 10-15% per tahun. artinya lo dapet 3-4.5jt dalam SETAHUN. sebulan ga sampe 400rb.
Sekarang bandingin.
30jt lo pake buat invest leher keatas - beli course untuk bangun skill yang rare dan valuable, buku2, atau bayar consultant/mentor.
Skill itu naikin earning power lo.
Misal dari yang gajinya 20jt/bulan naik jadi 30jt/bulan. Itu selisih 10jt SETIAP BULAN.
Atau klo setelah itu bisa kerja remote di luar negeri, dari 20jt/bulan ke 70jt/bulan. Langsung balik modal 100% itu dari selisih kenaikan salarynya cuy.
Dan itu baru bulan pertama.
Sementara skill compound seumur hidup.
Yang lebih bahaya: waktu dan fokus lo.
Kalo cash masih kecil tapi udah sibuk mantau chart, baca analisis saham, panik pas turun dll.
Lo buang resource paling mahal yang lo punya: Attention.
Mending channel itu semua buat ningkatin value lo di market.
Saat lo udah jadi orang yang worth di-invest, baru invest uang lo ke tempat lain. Prioritas pertama selalu diri sendiri.
When you stop reading books, you start losing verbal dexterity, depth of thought and imagination.
A closed book is a closed mind.
Don't EVER stop reading.
Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*
Hey Elon, Gita Wirjawan here.
Your work at the frontier of energy, AI, and civilization has shifted the arc of what humanity believes is possible. I host Endgame podcast, a platform where Nobel laureates, regional leaders, and global thinkers help shape Southeast Asia’s long-term rise.
I’d be honored to have you in the conversation. Your perspective would inform and challenge millions across our region.
If you’re open, let’s set a date.
https://t.co/Sb1odXSOvt