Kehidupan teh bergairah deui nya upami persib maen nah, sok hoyong gancang-gancang konvoi.
Tah barudak link konvoi na https://t.co/T1hWV9kbxJ #PersibDay
Aku belajar dari Sal Priadi dari lagu ini untuk berusaha mendoakan, memaafkan, dan meminta maaf setulus-tulusnya. Setiap malam, agar tenang, agar lelap. Dan barangkali rezekimu mengalir bukan karena kamu sibuk bekerja siang dan malam, tapi karena kamu selalu lapang menerima apapun yang terjadi di hidupmu, tanpa balas dendam dan memilih untuk selalu mendoakan hal baik, memaafkan dan selalu meminta maaf.
Menurut psikologi, anak yang tumbuh di lingkungan dengan orang tua yang mudah marah sering belajar hidup dalam mode “siaga”. Mereka terbiasa membaca situasi, menebak-nebak suasana hati, dan berusaha tidak membuat kesalahan sekecil apa pun. Bukan karena mereka perfeksionis sejak lahir, tapi karena dulu kesalahan kecil saja bisa berujung pada kemarahan besar.
Akibatnya, saat sudah dewasa pun pola itu sering masih terbawa. Mereka jadi orang yang sangat berhati-hati, mudah merasa bersalah, dan sering overthinking sebelum bertindak. Bahkan ketika tidak ada lagi yang memarahi, tubuh dan pikirannya masih menyimpan memori lama: takut mengecewakan, takut disalahkan, takut dianggap tidak cukup baik.