@Elsa_Hamukti blm tauu gimana solusinya kak, udah chat PRITA sm telfon 14044 juga gak menghasilkan solusi. mungkin nunggu dulu atau besok bisa ke cs kantor cabang ajaa
Ada hot takes menarik dari pidato Pak Anies dan menjawab pertanyaan saya tentang “gimana cara survive di sistem yang jelek?”
PNS dan CPNS, apa kabar kalian? Masih kuat ga di rezim yg awikwok ini 👀
Jadi kata Pak Anies, bikin lah 3 jangkar supaya kita gak larut dalam sistem yg jelek
1. Jaga lingkar sahabat terdekat sebagai cermin. Kalo cermin ga ada kita kehilangan pengetauan tentang rupa kita sendiri.
2. Jaga waktu untuk membaca supaya tau dunia yg ada di luar kantor kita. Baca itu cara paling gampang dan murah buat “jalan-jalan”
3. Ingat alasan dulu masuk ke sistem itu karena apa. Tulis di kertas. Posisi bisa berubah tp prinsip hrs dipegang terus lintas waktu.
Semua solusinya emang personal. Tapi ya that’s the best we can do sambil berdoa semoga suatu saat semua sistem berjalan sesuai idealnya.
normalize ngeliat pejabat sbg warga biasa, bukan manusia terhormat /punya level lebih tinggi.
lagi di resto mall terus ada anggota dewan berikut gerombolannya lewat, bbrp orang disitu langsung ngasi salam, nunduk, senyum sapa hangat sampe ngasih tempat duduknya
jujur, ngapain dh?? aneh banget.
IT’S ACTUALLY MORE TERRIFYING KNOWING HE’S NOT STUPID. with that kind of education & background, he knows exactly how the global market works. jadi kalo sampe keluar statement gini artinya dia secara sadar lagi MENGERDILKAN KRISIS demi menina-bobokan rakyat PAKE PEMBODOHAN PUBLIK
adegan paling menguras energi di tempat kerja bukan kerjanya, tapi harus bersikap normal dengan orang orang yang sebenernya pengen kita sleding kepalanya
Liat anak kecil trantrum di mall krn dia minta Cinnamon Roll ama ibunya dikasih roti kayu manis.
Sambil nanges dia teriak "DIA TEMANNYA KUROMI... BUKAN ROTII"
dulu pas mahasiswa mau beli buku aja mikir 2 kali, sekarang udah kerja juga kalau bukunya di atas 100k ya mikir dua 2 kali juga.. hidup susah banget punya hobi di negara ini 😓
barusan di Tiktok lewat VT ada dapur swasta yg supply makanan ke dapur2 MBG di daerah sekitaran Blitar, Tulungangung dll. makanannya ya olahan kaya nugget, chicken cordon bleu, fish cake, dimsum dll. isi komennya pada bilang “nah bagus ini SPPGnya”. mereka pada gak paham kalo itu akun dapur swasta yg supply ke beberapa dapur MBG. aku liatnya aja langsung mikir “lah kalo kaya gitu ngapain itu dibangun dapur2 ampe milyaran kalo cuma buat jadi distributor?”. gendeng.
🚨 Pernyataan Sikap Kami atas Video ini 🚨
Kawan-kawan, Handai Tolan. Coba perhatikan mulai dari menit 5:41. Kacau ini presiden. Mental dendamnya kentel banget. Kemampuannya dalam mencerna kritik sangat buruk. Amat sangat buruk.
"Berarti kamu butuh MBG ya? Soalnya katanya MBG gak penting. Banyak orang-orang pintar di Jakarta yang bilang kalau MBG gak penting. Buang-buang anggaran."
Woy, Gendut. Kalau sedari awal 'blueprint' MBG itu menyasar anak-anak sekolah yang nasibnya seperti Yamisa, KAMI JAMIN, gelombang kritik dan protes ngga akan semasif seperti sekarang. Nilai gizi perporsi bakalan lebih bagus, anggaran yang dipakai juga nggak bakalan setekor sekarang.
Masalahnya adalah, den, presiden, MBG udah berjalan setahun lebih, sektor yang dikorbankan sudah banyak, anggaran udah kebuang triliunan rupiah, tapi pendistribusiannya masih sangat carut marut. Masih banyak siswa/i kayak Yamisa yang belum kebagian, tapi di lain sisi siswa/i yang ortunya mampu, yang biaya SPP sekolahnya ada di level menengah sampai mahal, malah kebagian, dan bentuk menu yang disajikan terkesan melecehkan kemampuan ekonomi mereka.
Mosok koyok ngono rak paham sih, Ndut?
Tolong hentikan narasi dan berbicara pada khalayak publik perihal banyak orang pintar yang menolak MBG. Tidak ada yang menolak MBG apabila program ini berlandaskan kajian dan riset yang kuat, roadmap yang mateng, dan target kategori penerima manfaat yang sangat jelas. Dengan terus-menerus menarasikan kritik terhadap MBG sebagai bentuk penolakan, maka bukan tidak mungkin kalau kami mengecap presiden sebagai dalang konflik warga vs warga, rakyat vs rakyat.
"Ya kan untuk bisa merata kami perlu waktu."
Alah, omong kosong. Kalau pelaksana program sedari awal mau untuk melakukan riset yang lebih dalam terlebih dahulu, mengizinkan para ahli untuk turut terlibat, waktu dan biaya tidak akan banyak terbuang seperti sekarang. Dan tidak akan ada anak-anak sekolah seperti Yamisa, yang terlambat mendapatkan haknya.