Malam itu aku pulang dengan taksi. Perasaanku tidak karuan. Sebagian diriku percaya bahwa apa yang baru saja aku alami adalah nyata, namun sebagian lagi menyangkalnya.
Ah, mungkin aku hanya terlalu lelah, lalu tertidur dan bermimpi.
Namun ketika membuka galeri ponsel, aku menemukan sesuatu yang tidak kuingat pernah kuambil.
Sebuah foto bagian dalam gerbong.
Semua kursi terisi.
Puluhan penumpang menatap kamera.
Kulit mereka pucat.
Mata mereka hitam.
Dan di antara mereka, aku sendiri duduk di kursi dekat jendela.Menatap lurus ke arah kamera. Dengan mata yang seluruhnya hitam.
*Penumpang Terakhir*
Kereta terakhir menuju Kota Arwana berangkat pukul 22.45.
Sebagian besar orang menghindari jadwal itu. Selain karena terlalu malam, jalur tersebut terkenal sering mengalami gangguan sinyal. Kadang kereta berhenti di tengah rel selama beberapa menit tanpa penjelasan. Kadang lampu padam. Kadang pengeras suara menyala sendiri.
Aku tidak pernah memercayai cerita-cerita seperti itu.
Tapi suatu hari...
"Dua puluh tahun lalu ada kecelakaan di terowongan sebelum Stasiun Kota. Satu gerbong hilang terbakar."
"Berapa korbannya?"
"Empat puluh tiga."
Ia berhenti.
"Termasuk dua anak."