USUARIOS DE ANDROID, ¡LEAN ESTO!
Tu teléfono dice: “Almacenamiento lleno”.
Entonces borras fotos. Borras vídeos. Desinstalas aplicaciones. Y, aun así, el espacio libre apenas aumenta.
Eso ocurre porque los verdaderos culpables no suelen ser tus fotos ni tus aplicaciones, sino toda la basura oculta que Android almacena silenciosamente en segundo plano.
Ayer limpié mi teléfono y recuperé 35 GB sin borrar ni una sola foto, vídeo, aplicación o chat que realmente uso.
Así es exactamente como lo hice:
👇👇
Sumber :
🔵 DEWI SARTIKA — Biografi & Sakola Istri
https://t.co/0oxJUTcFBv — Profil Dewi Sartika & Sakola Kautamaan Istri
https://t.co/g8lz2xN6rM
Ensiklopedia Sejarah Indonesia (Kemdikbud) — Dewi Sartika
https://t.co/teVkg4NWpd
https://t.co/Cot0FTaLJy — Biografi Dewi Sartika + Keppres No. 252 Tahun 1966
https://t.co/ECOyFx54EI
KPU Kab. Jayawijaya — Dasar hukum Keppres No. 252 Tahun 1966
https://t.co/VuX6qazAFG
Liputan6 — Perjuangan Dewi Sartika & resistensi terhadap kooptasi Belanda
https://t.co/cQ5kqZOW3w
🔴 KARTINI & POLITIK ETIS BELANDA — Abendanon & Sensor Surat
https://t.co/j7FqU2aBX1 — Intrik Politik Orang-Orang Belanda di Belakang Perjuangan Kartini (sumber utama klaim sensor Abendanon)
https://t.co/lr0qEtOqIv
https://t.co/UFaIobjOvd — Habis Gelap Ada yang Belum Terang: Kartini & Ilusi Kolonial (sumber klaim "etalase" Politik Etis)
https://t.co/mJ1COtEFqn
https://t.co/0oxJUTcFBv — Memahami Kepahlawanan Kartini & Politik Etis
https://t.co/t2QJkTLfMv.
🟡 BIAS REPRESENTASI SEJARAH — Analisis
Kompasiana — Kartini, Dewi Sartika, dan Emansipasi yang Dipilih Sejarah (sumber klaim utama bias representasi)
https://t.co/1GigXuDqyb
UNS Pendidikan Sejarah — Mengapa Kartini Terpilih Sebagai Simbol Utama? (sudut pandang akademik)
https://t.co/5UlhACGbJy
@kangdede78 Anggaplah rakyat yg duduk di legislatif. Adakah tupoksi mereka memuji atau mengontrol eksekutif? Mengkritik itu bagian dari kontrol. Kalau beneran ada yg ngamuk sampe bilang gagal total, ya itu ekspresi. Emangnya dilarang? Jd pejabat publik hrs siap dikritik, apapun bentuknya.
@Andiarief__ Jangan2 situasi chaos itu yg dicari mengikuti adagium "bad news is good news". Buat justifikasi mshw skrg hanya pake otot tdk pake otak. Diajak diskusi baik2 malah ditolak. Pdhal banyak unsur tdk dipenuhi. Misal hadirkan tokoh2 non netral atau berseberangan agar ada dialektika.
@tempedotc0 Msh ingat waktu totpol ngundang pandji soal dinasti politik? Kedua host bilang berkelit itu tdk krn hak asasi. Darisitu aja udh kelihatan kemana keberpihakan totpol. Skrg nyoba ke kampus yg mhsw nya viral pengkritik rezim. Yg dibawa sdh pasti org2 pro rezim. Cuma cari masalah.
@BagusHartanto28@LambeSahamjja Arah kritik RG hanya ke sirkelnya, bukan pd sumbernya. Bgmnpun bagus-buruknya sirkel tergantung sumbernya. Makanya RG bisa datang ke istana acara pelantikan temennya. Pengkritik sumber pasti tak akan bisa masuk istana.
@unilubis Seperti kata saiful mujani, 80% anggota legislatif berasal dari parpol pendukung pemerintah. Dengan komposisi spt itu, bagaimana berharap kontrol kinerja pemerintah? Mirip orde baru yg selalu setuju & aklamasi dg semua prog pemerintah.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, menyerukan negara-negara Muslim untuk memperdalam kerja sama dan membentuk tatanan regional serta global baru guna melepaskan diri dari dominasi Amerika Serikat (AS).
Dalam pesan tertulis yang dirilis pada Selasa (26/5/26) bertepatan dengan Hari Arafah, Khamenei menyatakan bahwa dunia Islam kini tengah memasuki fase sejarah baru seiring dengan berubahnya realitas kawasan secara permanen dan terus melemahnya pengaruh militer Amerika.
Dikutip dari Press TV, Rabu (27/5/2026), Khamenei menegaskan bahwa umat Muslim dan bangsa-bangsa di kawasan memiliki banyak kapasitas serta kepentingan bersama yang kuat untuk membentuk tatanan baru dan arsitektur masa depan dunia.
#mojtabakhamenei #iran #geopolitik #timurtengah
@SantorinisSun Ribut krn ulah pejabat publik, saya kira harus. Perlu kontrol & kritik. Tinggal pilih argumen yg cerdas & logis. Memilah ibadah yg urusannya privat & kerancuan uang negara. Menegaskan status bukan negara agama (tertentu). Kl satu agama dibantu hari besarnya, agama lain pun sama.
@MurtadhoRoy Pertama, menkeu sbg bendahara negara tdk tau menau sapi kurban pake APBN. Kedua, Indonesia bukan negara agama tetentu. Artinya, kalau mau adil, bantuan kemasyarakatan ini jg diberikan pd acara keagamaan umat lainnya.
@cholilnafis Negara kita kan bukan berdasarkan agama tertentu. Bagusnya bantuan tdk berdasarkan agenda keagamaan spt idul adha krn akan rancu dg personal pejabat. Atau kl mau adil, bantuan kemasyarakatan ini jg pada acara2 keagamaan umat lainnya.
@ferrykoto Negara kita bukan negara agama (apapun), soal pejabat jalankan/tdk jalankan ibadah itu urusan privat. Tdk aturan dilanggar. Persoalan justru pd penggunaan APBN utk hewan qurban. Pertama, menkeu tdk tau menau. Pdhal bendahara negara. Kedua, kurban itu dari kantong pribadi.
@cholilnafis Setau saya ibadah kurban itu sifatnya personal, baik mandiri atau patungan. Dari kantong sendiri bukan kantong org lain, apalagi kantong negara. Adakah nabi, sahabat atau para khalifah pake dana baitul mal atau kas negara utk kurban?
@indoprogress Sosok oportunis paling jago akting. Pintar manfaakan isu utk citra dirinya. Soal palestina misalnya. Paling lantang mengecam isr43l. Tapi perdagangan turki-isr jalan terus. Hubungan diplomatik baik2 saja. Orang yg paham geopol pasti paham hipokritnya erdogan.
@listyantidewi Kl guru dibuat peringkat kesabaran & kemampuan adaptasinya, mnrt saya yg tertinggi ada di guru SLB & TK. Mau mengajar di kedua itu aia udh effort besar. Mengalahkan ego umumnya pingin karir bagus & gaji besar. Blm lg ngadepi murid yg beragam dan unik.
@sociotalker Ahli bidang apapun yg ada di pemerintahan, posisinya pasti ambigu. Mgkn mereka ingin jujur dg kapasitas keilmuannya. Tapi hrs kompromi dg kepentingan posisinya. Jadi pendapat mereka hrs divalidasi dg ahli lain diluar pemerintahan.
@jilulisme Warga indonesia sangat bisa sedisiplin dan setertib singapore & jepang. Tergantung pemimpin & sistemnya. Lihat budaya naik kereta api kita bbrp tahun lalu & skrg. Naik ke atap, pecahin kaca gerbong, calo tiket berkeliaran, pedagang masuk gerbong dll. Gen z gak pernah ngalamin.
Guys, ada satu kalimat dari Dr. Bagus Muljadi — dosen di University of Nottingham, PhD dari National Taiwan University, peneliti di Imperial College London yang menurut gue adalah salah satu kalimat paling jujur tentang kondisi Indonesia yang pernah gue dengar.
"Inkompetensi itu membunuh lebih banyak daripada kejahatan."
Dan dia bukan bicara tentang kebodohan.
Dia spesifik banget membedakannya.
Kebodohan bisa datang dari lahir, dari keterbatasan akses, dari kondisi yang tidak dipilih.
Tapi inkompetensi adalah kemalasan yang dijadikan kultur secara sengaja dan kebodohan yang dari lahir yang tidak dicerdaskan, padahal bisa.
Itu dua hal yang sangat berbeda. Dan Indonesia sedang hidup dengan yang kedua.
Tentang pendidikan dan ini yang paling bikin gue panas dingin:
Ada data dari Kemdikbud sendiri yang menyebut bahwa kemampuan matematika guru SD di daerah-daerah bahkan bisa di bawah kemampuan siswa SMP di Jakarta.
Bukan guru antar guru dibandingkan.
Tapi guru dibandingkan dengan muridnya sendiri yang lebih muda.
Soal pecahan konsep yang harusnya dikuasai 100% oleh seorang guru SD masih ada yang salah.
Dan orang-orang inilah yang kita harapkan bisa menginspirasi generasi berikutnya untuk jadi raksasa semikonduktor, untuk menguasai hilirisasi, untuk bersaing di dunia.
Bagus bilang dengan sangat lugas:
kalau guru SD-nya tidak punya kapasitas itu, dan kita fokus pada hal lain selain kualitas gurunya no hope.
Soal anggaran dan ini yang paling sering salah dipahami publik:
Banyak orang berpikir masalah pendidikan Indonesia selesai kalau anggarannya dinaikkan.
Naikkan gaji guru, bangun gedung baru, kasih smartboard, kasih Chromebook beres.
Bagus punya perhitungan sederhana yang membantah logika itu.
Kalau Indonesia punya 3 juta guru dan mau menggaji rata-rata Rp10 juta per bulan itu 30 triliun per bulan, atau 360 triliun per tahun.
Sementara anggaran pendidikan dari 20% APBN sekitar 400 triliun.
Hampir semua tersedot hanya untuk gaji, belum infrastruktur, belum pelatihan, belum yang lain-lain.
Artinya: anggarannya memang tidak cukup kalau hanya dilihat dari sisi angka.
Tapi yang lebih penting bahkan kalau anggarannya cukup pun, masalahnya tidak selesai.
Karena guru yang berkualitas rendah dikasih gaji tinggi tidak otomatis menjadi guru yang berkualitas tinggi.
Institusi yang mendidik guru juga harus dibenahi. Sistem rekrutmen guru harus berubah.
Kultur mengajarnya harus revolusi.
"You cannot buy yourself out of a problem."
Tentang cara mengajar yang salah dan kisah paling indah dari Taiwan:
Bagus punya pandangan yang sangat berbeda dari kebanyakan orang tentang apa itu pendidikan.
Mayoritas orang termasuk kebanyakan dosen berpikir tugas mereka adalah memindahkan pengetahuan dari mulut guru ke kepala murid.
Dicekokin.
Dihafalkan.
Dirumuskan.
Dikerjakan.
Tapi Bagus bilang pendidikan yang benar adalah memfasilitasi formasi pengetahuan yang sebenarnya sudah ada di kepala murid.
Tugas guru bukan memberi tahu tugas guru adalah melatih cara mengeluarkan pemahaman itu sendiri.
Dan dia punya cerita yang menurut gue paling memorable dari seluruh podcast ini.
Di Taiwan, ada seorang profesor yang mengajar persamaan Navier-Stokes salah satu persamaan paling kompleks dalam fisika fluida.
Di tengah menulis di papan tulis tanpa slide, tanpa PowerPoint, cuma spidol dia lupa. Dia diam. Tiga sampai lima menit diam di depan kelas.
Dan seluruh kelas ikut diam bersama dia. Ikut mikir. Tidak ada yang protes, tidak ada yang menertawakan.
"That was the most beautiful moment.
The whole class stood silent with him."
Itulah pendidikan yang benar. Ketika guru dan murid sama-sama sedang dalam proses menemukan sesuatu. Bukan murid menunggu guru mentransfer jawaban yang sudah jadi.
Kalau dosen cuma baca slide yang sama setiap tahun apa bedanya dengan AI? Kenapa harus ke kelas?
Tentang masalah yang lebih dalam identitas dan postkolonial mindset:
Ini yang paling jarang dibahas tapi menurut Bagus paling fundamental.
Orang Inggris kalau ditanya leluhurnya siapa, akan menyebut Isaac Newton, John Stuart Mill, Adam Smith orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan.
Ada rasa malu kalau tidak menghargai pendidikan.
Orang Taiwan dan Cina membawa beban bahwa mereka adalah custodian kehormatan keluarga. Mereka harus berprestasi di dunia pendidikan.
Kalau orang Sunda atau orang Bugis ditanya leluhurnya siapa apakah ada jawaban yang sama kuatnya?
Bukan karena tidak ada.
Tapi karena narasinya tidak pernah dibangun.
Bagus sudah membuktikan bahwa tradisi jurisprudensi masyarakat Sunda kuno ada dan kompleks tujuh lapisan pemecahan masalah hukum yang jauh lebih kaya dari sekadar hukum tertulis yang kita adopsi buta-buta dari Napoleon via Belanda.
Bukti longsor tanah di Bogor 2019 ternyata pola sebarannya persis seperti yang sudah diprediksi dalam manuskrip Sunda kuno warugan lemah.
Dan ilmu bumi yang Bagus nikmati di Imperial College London batu gamping yang ada di lorong gedung itu berasal dari Sumatera. Objeknya dari Nusantara, tapi pengetahuannya dihasilkan oleh Barat.
Lagaligo kitab sastra Bugis yang panjangnya 1,5 kali lipat Mahabharata baru diterjemahkan empat dari dua belas jilid.
Seorang profesor di Unhas yang mendedikasikan hidupnya untuk menerjemahkan sisanya minta dana hanya 400-500 juta untuk tiga bulan kerja tiga orang di Leiden. Tidak dapat.
Karena dianggap bukan STEM, tidak ada hilirisasinya.
Itu adalah ironi yang sangat menyakitkan.
Kita sedang membangun hilirisasi nikel sambil membiarkan hilirisasi pengetahuan leluhur kita membusuk di arsip Belanda.
Tentang berpikir cross-disipliner dan kenapa Indonesia tidak bisa:
Bagus punya cara pandang yang unik.
Dia menggunakan konsep Reynolds Number dari mekanika fluida untuk memahami perdebatan nasionalisme vs liberalisme.
Dia melihat pertarungan antara kolektivisme dan individualisme seperti pertarungan antara inertial forces dan viscous forces dalam aliran fluida.
Terlalu banyak nasionalisme kaku tanpa ruang individu turbulen, kacau.
Terlalu banyak liberalisme tanpa kohesi sosial juga tidak stabil.
Seorang engineer tidak bertanya mana yang benar. Dia bertanya mana yang optimal.
Tapi di Indonesia, orang yang berpikir lintas disiplin seperti itu justru dianggap aneh atau tidak kompeten karena keluar dari "domain"-nya.
Padahal di luar negeri, justru itulah yang membuat seseorang bisa jadi permanent academic karena dia bisa menjawab masalah dari berbagai arah.
Kalimat terakhir yang paling gue ingat:
"Berpikir itu kodratnya the Dutch colonizers, bukan kita. Kita makannya kerja."
Itu bukan kalimat yang dibuat-buat. Itu adalah warisan mental tiga ratus tahun yang masih mengalir dalam cara kita mendidik anak, cara kita merekrut guru, cara kita menghargai intelektualitas.
Sampai kita berani bilang ke dunia bahwa ilmu pengetahuan itu bukan monopoli Barat bahwa Nusantara adalah sumber,
bukan hanya objek penelitian kita tidak akan keluar dari feodalisme yang mengungkung kemampuan berpikir kritis itu.