Pada akhirnya tanggal 14 Agustus yang memperingati Hari Pramuka dimana dulu sangat ditunggu-tunggu karena euphorianya, kini menjadi hari biasa, menjalani rutinitas biasa, dan seakan tidak ada hari spesial di dalamnya 🙂
Temenku Edo, dipuji banyak orang karena berani resign dari BUMN, buat buka toko kue sesuai passionnya.
Di Instagram, hidupnya keliatan aesthetic dan bahagia. Foto-foto kue cantik, caption inspiratif soal "berani ambil risiko demi passion."
Tapi kemarin,
@eLAmaravati Kak, kamu keren bgt, selain mengajarkan intrgritas dan kejujuran kepada anak sejak dini, juga memberikan penjelasan yg mudah dimengerti kepada anak, bukan malah dijawab "pokoknya gaboleh!" Seperti mungkin orang tua lain di luar sana 🥹
Pas Mbak Dian Sastro nyebut channel Predictive History (Profesor Jiang) waktu podcast sama Raditya Dika, gue langsung pengen cek.
Terus gue buka cek videonya yang Game Theory #3: Rich Dad, Poor Dad.
Gila, otak gue kayak kena reboot setelah nonton. Dia breakdown pake logika Game Theory kenapa yang kaya makin tajir terus, sementara yang miskin susah banget naik kelas. Bukan cuma ngomong doang.
Halooo aku, nanaa.
Lulusan hubungan internasional yg sekarang bekerja di bidang finance 😆.
Kalo kamu berteman dengan akunku, akunku berisi tentang excel, admin, finance dan aku sering banget bagiin soal soal latihan excel secara GRATISSSS di link bio aku, kalian bisa langsung download 😍😍😍.
Dan tidak lupa juga, aku juga ada channel WA dan biasanya aku share banyak loker disana 😍
Adik gue lulus S1 tahun lalu.
IPK 3,8. Cumlaude.
Udah 11 bulan nganggur.
Yang nerima dia kerja pertama kali?
Warung kopi depan rumah.
Gajinya Rp1,2 juta.
Gue gak nulis ini buat nyalahin dirinya.
Atau nyalahin kampusnya.
Gue nulis ini karena gue tau ada jutaan "adik gue" di luar sana.
Yang dibesarkan dengan satu keyakinan:
"Kuliah yang bener, nanti hidupmu terjamin."
Dan sekarang mereka bingung janji itu ke mana?
Gue bukan anti kuliah.
Tapi gue mulai curiga.
Gelar itu dulu pintu masuk.
Sekarang?
Gelar cuma tiket antre.
Semua orang pegang tiket yang sama.
Yang beda adalah apa yang ada di balik tiket itu.
HRD temen gue cerita jujur:
"Dari 200 lamaran yang masuk, 190 punya gelar S1."
"Yang gue panggil? Yang CV-nya beda."
"Portfolio. Project. Pengalaman nyata. Bahkan konten."
"Gelar? Gue liat belakangan."
Itu bukan pengecualian.
Itu udah jadi standar baru.
Adik gue habiskan 4 tahun belajar teori.
Skripsinya 80 halaman.
Tapi pas interview pertama ditanya:
"Pernah handle project apa?"
Dia diem.
Bukan karena dia bodoh.
Tapi karena 4 tahun itu gak ada yang ngajarin dia bikin sesuatu yang nyata.
Yang perusahaan cari sekarang bukan yang paling pintar.
Tapi yang paling siap.
Siap problem solving.
Siap komunikasi.
Siap deliver hasil bukan cuma tugas.
Skill itu gak ada di mata kuliah manapun yang pernah adik gue ambil.
Gue akhirnya kasih adik gue satu hal yang gue nyesel gak tau dari dulu.
Bukan buku kampus. Bukan modul.
Tapi cara berpikir yang beneran dibutuhin dunia kerja sekarang.
Sebulan setelah itu, dia udah punya 2 project freelance.
Tapi tunggu dulu ini belum selesai.
Ada bagian yang lebih bikin gue marah.
Yang bikin gue paling geram bukan sistemnya.
Tapi narasinya.
Orang tua kita masih bilang:
"Kuliah dulu yang bener, jangan kebanyakan kegiatan."
Padahal kegiatan itulah yang dicari HRD.
Kita dilarang melakukan hal yang justru menyelamatkan kita.
Gue gak bilang kuliah itu buang waktu.
Gue bilang kuliah aja gak cukup.
Bedain dua hal itu.
Gelar itu fondasi.
Tapi rumahnya lo yang harus bangun sendiri.
Dan kampus gak pernah ngajarin cara bangun rumahnya.
Adik gue sekarang udah kerja.
Bukan karena gelarnya.
Tapi karena dia akhirnya berhenti nunggu gelar itu bekerja.
Dia mulai bikin portfolio.
Dia mulai belajar skill yang beneran dibutuhin.
Dia mulai kelihatan di tengah 190 orang yang cuma pegang tiket yang sama.
Kalau lo atau adik lo lagi di titik ini
Gelar udah di tangan tapi jalan masih buntu
Jangan tunggu sistem berubah.
Sistemnya gak akan berubah secepat yang lo butuhin.
Mulailah dari apa yang bisa lo kerjakan hari ini.
Bangun portfolio.
Cari pengalaman.
Belajar skill yang memang dibutuhkan.
Karena pada akhirnya, yang membedakan lo dari ratusan pelamar lain bukan cuma gelar yang lo punya, tapi apa yang bisa lo tunjukkan dan kerjakan.
Menurut kalian, di zaman sekarang yang lebih menentukan dapat kerja itu gelar, pengalaman, atau koneksi?
sc:threadssarikuesari
1
Hari ini wayahe ganti oli sama ganti gearbox speedometer karena dah gak muter. Ada 1 hal yg ternotice, harga oli motor naik. Terakhir ganti oli 2 bulan lalu harganya masih 50 ribu sekian, hari ini dah 70 ribu sekian. Bener-bener sepengaruh itu ges 🥺
7 hal yang perlu dibahas sebelum nikah:
1. Financial (HR. Muslim)
2. Tempat tinggal (At-Thalaq : 6)
3. Keluarga dan mertua (An-Nisa' : 31)
4. Pembagian peran (An-Nisa' : 34)
5. Komunikasi (An-Nisa' : 19)
6. Rencana & masa depan (Al-Furqon : 74)
7. Nilai & keyakinan (At-Tahrim : 6)
@18fesss Di luar konteks ciuman sama orang yang pakek behel ya kak, kelamaan tidak kontrol itu membuat progress gigi mu makin lama kak, ayo segera kontrol 😭
@KapudS640 Urusannya sama Allah nanti itu kak, ngeri di dunia dan akhirat 😭 bahkan kalau semisal case nya si suami meninggal, keluarga dari pihak laki laki wajib menafkahi kebutuhan anaknya lho kak 😭😭😭
Mau cerita lagi, proses saya bisa yakin buat ngajakin nikah doi.
Sebelum ketemu doi, saya memang beberapa kali nyoba pdkt sm cewe, tapi gak ada yg bener2 cocok. Entah dari komunikasi atau karakternya.
Entah kenapa ada perasaan gak nyaman dan gak jadi diri sendiri. Tiap ngobrol, kayak masi jaim dan gak bisa lepas. Atau, karaykternya yg ternyata terlalu dominan/pasif bagi saya.
Nah, pas ketemu dan ngobrol sm doi, saya ngerasa lebih nyaman, gak jaim, jokes nyambung, dan yg paling penting jadi diri sendiri. Dia jg bukan tipe yg terlalu dominan/pasif, tau kapan menempatkan diri.
Bagi saya, salah satu syarat utk nyari jodoh ya ngobrolnya bisa nyambung. Sebab, pernikahan kan isinya komunikasi. Kalo dari awal gak cocok, kemungkinan pas nanti ngadepin masalah bisa cekcok.
Kalo kata Gus Baha', "Kalo sudah berani menikah itu, harus berani mula'abah. Artinya ngobrolin hal2 yg gak penting, main2, atau sering bercanda. Karena seninya nikah itu ya mula'abah, ngomong yg rileks dan asyik. Sebab, bisa tertawa bareng istri itu mewah sekali."