Se retiró a hacer sus últimos años en paz y felicidad jugando en un equipito de la MLS, pero vuelve para un mundial y toda la fauna de la sabana se da cuenta con asombro de que no se "ablandó" sino que tiene los colmillos tan afilados como siempre y el hambre intacto, de que sigue siendo el rey de ese lugar.
Creo que Messi, más allá de ídolo entre la gente, es principalmente entre jugadores. Total objeto de admiración hasta el descreimiento, todos querrían ser él, la bestia definitiva que se retira y vuelve, como si la eternidad fuera posible.
Istrinya masak tiap hari. Pagi, siang, malam. 3x sehari. 365 hari setahun. Selama 5 tahun nikah.
Gak pernah libur. Gak ada THR. Gak ada cuti tahunan.
Suatu malam istri capek. Bapak itu pesen GoFood. Nasi ayam geprek 2 porsi. Rp 47.000.
Sambil nunggu driver, Bapak itu iseng buka kalkulator HP. "Kalau tiap kali istri masak, aku bayar dia pakai tarif jasa catering rumahan PALING MURAH, berapa total selama 8 tahun?"
Angka yang keluar bikin dia naruh HP pelan-pelan di meja.
@dimarsasongko98 ya karena misi mereka gajian, dapet uang, anak bisa sekolah di luar negeri, eksis di kancah nasional 😁 disuruh mikirin hidup orang, hidup mereka sendiri aja belum selesai 🤣
Ini sudah keterlaluan.
PP terbaru Danantara (PP 19/2026 Pasal 31A) buka jalan APBN suntik modal ke holding Danantara lewat pintu belakang.
Dividen BUMN hilang dari APBN,
tapi Danantara boleh minta injeksi dana negara seenaknya.
Negara gak boleh dapat duit dari BUMN, tapi Danantara boleh minta duit negara?
Udah gila bener ini negara. Uang pajak rakyat diputar untuk kepentingan apa?
https://t.co/bBwHo9hQGy
@garistengah_id mosquera udah kartu kuning dan habis kasi penalty, mau duel one on one lagi dgn kvara, si arteta yg ga sanggup ngeliatnya 😁
arsenal strateginya counter, wajar odegard yg dituker sama gyokeres, kai lebih fleksibel, peluang bikin gol nya lebih besar dibanding tetap dgn odegard
@garistengah_id bukan arsenal yang berubah pendekatannya dengan ganti pemain, ganti pemain kan setelah kebobolan.
babak kedua PSG yg berubah pendekatannya, kombinasi passing ga cukup untuk nembus pertahanan arsenal, mereka ganti jadi running with ball dan baru deh arsenal bikin kesalahan.
Guys, ada satu pertanyaan yang menurut gue paling sering ditanyakan tapi paling jarang dijawab dengan jujur.
Kenapa China yang dulu miskin dan tertinggal
dulu mereka sangat jauh di indonesia tetapi
sekarang menjadi negara yang paling ditakuti secara ekonomi di dunia?
Dan setelah mendengar langsung dari orang yang 10 tahun tinggal dan kerja di China jawabannya jauh lebih mengejutkan dari yang gue bayangkan.
Mulai dari sekolah karena semua dimulai dari sini:
Di China, anak kelas 1 SD sudah di-brainwash oleh gurunya: "Sepuluh tahun lagi kita semua akan masuk Peking University atau Tsinghua University."
Nilai 90 di China itu jelek.
Minimal harus 95-98.
Dan gengsi orang tua sangat besar.
Kalau nilai anakmu 80 sementara nilai
anak tetangga 95 itu memalukan.
Bukan biasa-biasa saja.
Hasilnya: daya kompetisi dan daya juang sudah terbentuk dari usia 6-7 tahun.
Dan kebiasaan itu terbawa terus sampai dewasa ke tempat kerja, ke bisnis, ke inovasi.
Di Indonesia?
Yang penting nilai 60.
Yang penting lulus.
Bersyukur saja sudah dapat segitu.
Dan ini tentang etos kerja yang paling mengejutkan:
Di pabrik manufaktur China pukul 07:55 pagi, pekerja sudah pakai sarung tangan dan mulai ngelap mesin.
Jam 08.00 tepat mesin dihidupkan.
Tidak ada yang turun beli kopi dulu.
Tidak ada yang sebat dulu.
Jam 12.00 siang mesin dimatikan tepat.
Makan. Tidur siang.
Jam 13.00 kerja lagi. Jam 17.00 pulang.
Tapi untuk white collar knowledge worker berlaku 996: kerja jam 09.00 pagi sampai 21.00 malam, enam hari seminggu.
Bukan karena diwajibkan.
Tapi karena kalau kamu tidak melakukan itu kamu kalah bersaing dengan yang melakukannya.
Dan performance dinilai dari situ.
Ini bukan kebijakan perusahaan.
Ini adalah kebiasaan massal budaya yang sudah mengakar begitu dalam sampai tidak terasa seperti pilihan lagi.
Dan ini tentang sistem hukum yang paling mengerikan dan paling efektif:
CCTV ada di mana-mana di China. Face ID.
Database nasional yang terhubung.
Semua tercatat.
Tapi yang paling mengerikan bukan kameranya.
Yang paling mengerikan adalah konsekuensinya kalau ketahuan berbuat salah.
Kalau kamu mencuri kamu dapat criminal record.
Dan criminal record itu berdampak
bukan hanya ke kamu.
Anakmu tidak bisa masuk SMP.
Anakmu tidak bisa masuk SMA.
Efek jera sampai tiga turunan.
Hasilnya: tamu yang ketinggalan koper isi laptop dan uang cash di bandara Chengdu baru sadar setelah sudah di pesawat menuju Jakarta koper itu ditemukan utuh tidak ada yang menyentuhnya.
Bukan karena orang China lebih jujur secara moral.
Tapi karena sistemnya membuat risiko mencuri jauh lebih besar dari apapun yang bisa didapatkan.
Dan ini tentang subsidi negara yang paling mengejutkan kenapa barang China bisa sangat murah:
Selama ini semua orang berpikir barang China murah karena tenaga kerjanya murah dan pabriknya efisien.
Itu benar.
Tapi bukan itu satu-satunya alasan.
Setiap barang yang diekspor dari China mendapat tax refund sebesar 13% dari pemerintah.
Artinya kalau modalmu Rp10.000 kamu bisa jual Rp8.700 dan tetap untung karena ada tax refund Rp1.300.
Dan untuk industri yang dianggap strategis secara geopolitik dan geoekonomi subsidinya bisa jauh lebih besar.
Ada indikasi setiap mobil BYD yang diekspor ke luar negeri pemerintah China menanggung sekitar 60% biayanya.
Itulah kenapa BYD bisa masuk ke mana pun dan langsung menghancurkan kompetitornya.
Bukan karena teknologinya paling canggih.
Tapi karena mereka bermain dengan uang negara yang tidak perlu balik modal dengan cara yang sama seperti perusahaan swasta biasa.
Dan ini pelajaran paling penting yang relevan untuk Indonesia:
China punya 16 paten teknologi baru per bulan. Indonesia belum tentu punya satu per tahun.
China mengirim orang-orang terbaiknya kuliah ke luar negeri dan mereka kembali membangun negaranya. Indonesia juga punya LPDP tapi sebagian yang sudah sekolah tidak mau kembali.
China memproses kelapa dari Indonesia mengambil batok kelapanya, membakarnya menjadi arang dan mengekspor produk bernilai tinggi. Indonesia? Mengekspor buah kelapanya mentah-mentah. Dan merasa bangga sudah ekspor.
Itulah yang disebut Dutch disease negara yang kaya sumber daya alam tapi lebih suka jual mentah karena duitnya cepat masuk dan akhirnya tidak pernah membangun industrinya sendiri.
Hilirisasi yang selalu digembar-gemborkan Jokowi dulu dan Prabowo sekarang sebenarnya adalah respons terhadap penyakit ini. Konsepnya benar. Tapi eksekusinya adalah pertanyaan lain.
Dan ini yang paling pedas untuk kita renungkan:
China yang dulu lebih miskin dari Indonesia di tahun 1980-an sekarang menjadi negara kedua terbesar ekonominya di dunia.
Mayoritas researcher AI terbaik di dunia bermuka China.
Robot China sudah bisa bersalto.
Pabrik mereka sudah berjalan tanpa satu pun manusia di dalamnya.
Sementara Indonesia masih berdebat kenapa guru honorer digaji Rp250.000 per bulan.
Masih mengimpor gula, garam, dan beras padahal kita negara agraris.
Masih mengekspor kelapa mentah ke China yang kemudian dijual balik ke kita dalam bentuk produk jadi dengan harga sepuluh kali lipat.
Dan perbedaan fundamentalnya bukan soal sumber daya. Indonesia punya lebih banyak sumber daya alam dari China.
Perbedaannya ada di tiga hal: sistem yang konsisten, investasi jangka panjang di pendidikan dan inovasi, dan efek jera yang nyata bagi yang tidak menjalankan sistem dengan benar.
Ketiga hal itu sampai hari ini belum kita bangun dengan serius.
China bukan menang karena curang. China menang karena mereka membangun sistem yang membuat seluruh rakyatnya bekerja lebih keras, berinovasi lebih cepat,
dan menanggung konsekuensi yang nyata kalau tidak melakukannya sementara negara memback-up dengan subsidi dan perlindungan yang membuat industri mereka kompetitif di mana pun di dunia.
Indonesia punya semua bahan yang dibutuhkan untuk melakukan hal yang sama.
Yang tidak kita punya adalah konsistensi dan keberanian untuk membangun sistemnya dari awal sampai akhir tanpa terganggu oleh kepentingan jangka pendek dan pergantian pemerintahan setiap lima tahun.
Guys, ada putusan hukum dari lembaga peradilan tertinggi Indonesia yang sudah diabaikan selama satu tahun penuh oleh pemerintah dan hampir tidak ada yang membicarakannya.
27 Mei 2025 Mahkamah Konstitusi memutuskan: negara wajib membiayai pendidikan dasar tanpa dipungut biaya di sekolah negeri MAUPUN swasta.
Hari ini sudah 27 Mei 2026.
Tepat satu tahun.
Dan putusan itu belum dijalankan.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh situasi ini:
Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menyebut ini bukan lagi kelalaian administrasi biasa.
Ini adalah tindakan inkonstitusional yang disengaja.
"Jika seorang Presiden bisa mengabaikan putusan lembaga peradilan tertinggi di negara ini tanpa konsekuensi apapun maka kita tidak sedang dipimpin oleh hukum.
Melainkan sedang tunduk pada kekuasaan absolut yang menggunakan hukum sekadar sebagai instrumen stempel kekuasaan."
Ini bukan kalimat aktivis jalanan.
Ini adalah analisis konstitusional yang sangat serius bahwa membiarkan putusan MK mangkrak selama satu tahun adalah pelanggaran sumpah jabatan presiden secara nyata dan terukur.
Dan ini tentang anggaran yang paling mengejutkan:
Pemerintah selalu berdalih tidak ada ruang fiskal untuk membiayai sekolah swasta gratis.
Tapi di saat yang sama hampir 30% dari fungsi anggaran pendidikan 20% tersedot ke program MBG.
Bukan untuk membangun sekolah.
Bukan untuk memperbaiki gedung sekolah yang rusak.
Bukan untuk menggaji guru honorer dengan layak.
Tapi untuk membiayai dapur SPPG dan logistik makanan.
JPPI menyebutnya dengan sangat tepat:
kanibalisme anggaran.
Anggaran yang seharusnya untuk pendidikan dimakan oleh program lain yang kemudian diklaim sebagai anggaran pendidikan agar memenuhi kewajiban 20% konstitusional.
Dan Ubaid menyebutnya lebih keras lagi:
kebohongan statistik.
Pemerintah bangga mengklaim sudah memenuhi Pasal 31 ayat 4 UUD 1945 soal 20% anggaran pendidikan.
Tapi secara substansi uang itu dipakai untuk hal yang bukan pendidikan inti.
Dan ini yang paling menyakitkan yang langsung dirasakan rakyat sekarang:
SPMB 2026 sedang berjalan.
Ribuan anak tidak lolos masuk sekolah negeri karena kuota terbatas.
Dan orang tua dipaksa mencari sekolah swasta dengan biaya yang harus ditanggung sendiri.
Padahal putusan MK sudah sangat jelas:
kalau anak tidak tertampung di sekolah negeri pemerintah daerah wajib secara aktif menyalurkan dan membiayai anak itu di sekolah swasta.
Bukan orang tua yang harus pusing.
Bukan orang tua yang harus cari pinjaman.
Negara yang wajib.
Tapi yang terjadi:
pemerintah daerah membiarkan orang tua berjuang sendiri.
Dan tidak ada konsekuensi apapun untuk itu.
JPPI menyebutnya pemerasan struktural oleh negara. Rakyat dipaksa cari jalan keluar sendiri padahal konstitusi memerintahkan negara yang harus memfasilitasi.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh situasi:
Pemerintah bisa dengan cepat membiayai infrastruktur dapur SPPG MBG di seluruh Indonesia.
Bisa dengan cepat mensejahterakan karyawan SPPG.
Bisa dengan cepat mengumumkan Kopdes Merah Putih Rp240 triliun.
Bisa dengan cepat membeli sapi kurban Rp100 miliar dari APBN.
Tapi untuk mengeluarkan Perpres atau PP yang mengimplementasikan putusan MK soal pendidikan gratis butuh lebih dari satu tahun dan sampai sekarang belum ada.
Sementara itu Prabowo dari Paris mengumumkan Bahasa Prancis wajib diajarkan di semua sekolah. Tanpa roadmap.
Tanpa anggaran guru.
Tanpa kajian kesiapan implementasi.
Sekolah yang rusak tetap rusak.
Guru honorer tetap dapat Rp250.000.
Putusan MK tetap diabaikan.
Dan instruksi bahasa baru terus bertambah dari setiap kunjungan diplomatik.
Indonesia punya Mahkamah Konstitusi.
Punya putusan yang sudah mengikat.
Punya konstitusi yang menjamin pendidikan dasar gratis.
Punya presiden yang bersumpah menjaga dan menjalankan konstitusi.
Tapi satu tahun setelah putusan paling fundamental tentang hak pendidikan anak Indonesia tidak ada Perpres.
Tidak ada PP.
Tidak ada implementasi.
Tidak ada konsekuensi untuk yang mengabaikannya.
Putusan MK diabaikan selama satu tahun oleh presiden yang bersumpah menjaga konstitusi dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
Kalau putusan lembaga peradilan tertinggi bisa diabaikan begitu saja tanpa konsekuensi lalu apa gunanya seluruh sistem hukum yang kita punya?
Istrinya gak pernah marah.
7 tahun nikah. Gak pernah teriak. Gak pernah banting pintu. Gak pernah nangis di depan dia.
Tiap ada masalah, dia cuma bilang: "Ya udah."
Tiap dia lupa anniversary, istrinya bilang: "Gak apa-apa."
Tiap akhir pekan dia main futsal dan istrinya sendirian sama anak,
jawabannya tetap: "Santai aja."
Dia bangga. "Istri gue tuh kalem. Gak ribet. Gak drama."
Dia cerita itu ke temen-temennya kayak prestasi.
Sampai suatu malam, dia nemuin sesuatu di HP istrinya.
Guys, episode ini direkam waktu rupiah masih di Rp17.683. Lima hari kemudian hari ini rupiah sudah di Rp17.845. Bergerak ke arah yang sama setiap hari.
Tapi yang tidak berubah:
pesan resmi dari pemerintah bahwa semuanya baik-baik saja.
Dan tiga ekonom Awalil Rizki, Yanwar Rizki, dan David Adrison dari UI akhirnya buka-bukaan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Dan ini analogi yang paling tepat untuk memahami kondisi kita sekarang:
Kita sakit.
Tapi kita bilang kita sehat.
Kita tidak punya uang.
Tapi kita bilang kita kaya.
Rupiah melemah itu bukan penyakitnya itu gejalanya.
Seperti demam pada orang yang kena infeksi.
Demamnya bukan masalahnya.
Infeksinya yang masalah.
Dan kalau kamu cuma minum paracetamol tanpa mengobati infeksinya demamnya akan terus kembali.
Pertanyaannya: apa infeksinya?
Dan ini diagnosis paling jujur dari tiga ekonom itu:
Masalah pertama denial yang sistematis.
Yanwar Rizki yang sudah di pasar modal sejak krisis 97-98 bilang satu hal yang sangat penting:
kebanyakan negara lain yang mengalami kesulitan mereka mengakuinya.
Mereka menyatakan sense of crisis.
PM Singapura Lawrence Wong langsung ngomong ke rakyatnya:
kita akan menghadapi masa
yang lebih buruk dari tahun 2000.
Bersiap-siaplah.
Indonesia?
Pejabat kita bilang ekonomi tumbuh 5,61%. Fundamental bagus.
Tidak ada masalah.
Purbaya tersenyum sambil bilang rupiah akan ke Rp15.000 dalam 30 hari.
Dan pasar membaca semua itu.
Pasar tidak bisa dibohongi dengan senyuman.
Masalah kedua — fiskal yang bocor dari segala arah.
David Adrison dari UI menyebut angka yang paling mengerikan: 23% dari penerimaan pajak kita habis hanya untuk cicilan bunga utang.
Bukan pokoknya.
Bukan investasi.
Bukan infrastruktur.
Hanya bunga.
Analoginya: kepala keluarga yang gajinya UMR tapi hampir seperempat gajinya langsung keluar untuk bayar bunga pinjaman sebelum bisa beli beras.
Dan keluarga ini masih terus makan di luar, bangun ini-itu yang tidak produktif, dan beli barang-barang yang tidak menghasilkan.
Dan kemampuan Indonesia mengonversi pertumbuhan ekonomi menjadi pajak tax ratio kita hanya sekitar 8-9%.
Artinya dari setiap Rp10 juta aktivitas ekonomi yang terjadi, hanya Rp900.000 yang bisa jadi pajak.
Ini sangat rendah.
Dan terus melemah.
Masalah ketiga — data yang tidak bisa dipercaya.
Ini yang paling mengejutkan.
Awalil Rizki menyebut sesuatu yang sangat fundamental: pertumbuhan ekonomi 5,61% diklaim tapi pajak kontraksi 10%.
Industri manufaktur diklaim tumbuh di atas 5% tapi konsumsi listrik turun hampir 1%.
Secara logika ekonomi dasar ini tidak mungkin.
Manufaktur yang tumbuh pasti
memakai lebih banyak listrik.
Ekonomi yang tumbuh pasti
menghasilkan lebih banyak pajak.
Kalau keduanya tidak terjadi salah satu
angkanya tidak benar.
Dan investor asing punya analis yang jauh lebih canggih dari pejabat kita.
Mereka membaca inkonsistensi ini. Dan mereka pergi.
Dan ini tentang kenapa rupiah melemah bukan karena Soros, bukan karena asing:
Yanwar Rizki yang hadir langsung saat krisis 97-98 — menjelaskan sesuatu yang sangat penting tentang mekanisme tekanan mata uang.
Waktu 1997 Soros menyerang mata uang Asia karena dia melihat perbankan Asia over-exposure.
Dia melihat celahnya dan masuk.
Tapi yang membuat celah itu ada bukan Soros tapi kondisi internal ekonomi Asia sendiri yang sudah bermasalah.
Sekarang 2026 yang menekan rupiah bukan hedge fund asing.
Yang menekan rupiah adalah kepercayaan yang terus turun dari dalam negeri sendiri.
Buktinya: dana pihak ketiga di perbankan yang naik justru dalam bentuk valuta asing.
Artinya orang Indonesia sendiri yang hidup di sini,
yang kerja di sini sudah mulai
menukar rupiah mereka ke dolar.
Bukan orang asing yang melarikan uang.
Tapi rakyat Indonesia sendiri yang tidak lagi percaya pada mata uang negaranya sendiri.
Dan ketika kepercayaan dari dalam sudah mulai goyah kepercayaan dari luar akan jauh lebih cepat hilang.
Dan ini perbedaan paling mendasar antara krisis 1998 dan kondisi 2026:
Tahun 1998 masalahnya ada di sektor swasta. Perbankan dan konglomerat yang over-exposure dengan utang valuta asing tanpa hedging.
Pemerintah dan fiskal saat itu masih relatif bersih.
Sri Mulyani saat itu masih di UI dan para teknokrat bisa meyakinkan dunia bahwa pemerintah bisa dipercaya.
Tahun 2026 masalahnya justru ada di fiskal pemerintah sendiri. Sektor swasta relatif baik.
Tapi ketika masalahnya ada di pemerintah siapa yang akan dipercaya untuk memperbaikinya?
Tidak ada pihak ketiga yang bisa masuk melalui pemerintah seperti 1998.
Karena justru pemerintahlah sumber masalahnya.
Dan ini yang paling miris paralel dengan Argentina:
David Adrison menyebut Argentina 1980-an.
Rasio utang terhadap PDB Argentina waktu itu hanya 33% jauh di bawah standar berbahaya.
Tapi Argentina gagal bayar.
Indonesia sekarang: rasio utang terhadap PDB 40%.
Pemerintah terus bilang ini aman karena jauh di bawah 60%.
Tapi yang menentukan apakah kita bisa bayar bukan rasio utang terhadap PDB.
Yang menentukan adalah kemampuan membayar dari penerimaan pajak.
Dan debt service ratio kita cicilan bunga utang terhadap penerimaan pajak sudah di 23%.
Bandingkan dengan India yang debt to GDP-nya 80% tapi debt service ratio-nya jauh lebih rendah karena tax ratio mereka jauh lebih tinggi.
India bisa bayar.
Indonesia makin tertekan membayar.
Dan ini sinyal paling mengerikan yang sudah muncul di jalanan:
Yanwar Rizki menyebut sesuatu yang sangat penting yang dia pelajari dari koleganya di BIN pada krisis 2008:
"Kalau kriminalitas naik artinya krisisnya sudah menyentuh rakyat biasa.
Tidak cuma di bursa."
Sekarang buka FYP. Penuh begal.
TNI ikut memburu begal yang kata mantan jenderal Tubagus Hasanuddin adalah hal yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Indonesia.
Itu bukan kebetulan.
Itu adalah sinyal yang sangat jelas bahwa tekanan ekonomi sudah menyentuh lapisan yang paling bawah.
Dan orang yang tidak punya pilihan lain mulai mencari jalan lain.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh diskusi itu:
Awalil Rizki bilang:
tidak ada yang menyelamatkan Indonesia dari krisis-krisis sebelumnya adalah kebijakan pemerintah yang sempurna.
Yang menyelamatkan adalah modal sosial solidaritas rakyat.
Waktu COVID penerimaan Baznas naik lima kali lipat.
Orang yang penghasilannya berkurang masih tetap berbagi.
Orang-orang saling menopang tanpa menunggu instruksi pemerintah.
Tapi modal sosial itu punya batas.
Pinjol sudah 103 triliun dengan NPL 5%.
Kartu kredit terus naik sejak 2024.
Tabungan masyarakat menipis.
Orang sudah tidak lagi menabung untuk masa depan mereka berhutang untuk makan hari ini.
Dan ketika batas itu terlampaui tidak ada modal sosial yang tersisa untuk menahan kejatuhan berikutnya.
Dan ini resep yang tiga ekonom itu rekomendasikan dan sangat berbeda dari yang dilakukan pemerintah sekarang:
Satu — komunikasi yang jujur.
Akui bahwa ada masalah.
Sampaikan langkah konkretnya.
Bukan denial.
Bukan sugar coating.
PM Singapura bisa melakukan ini.
Kenapa kita tidak bisa?
Dua — perbaiki fiskal segera.
Moratorium atau setidaknya evaluasi besar-besaran MBG fokus hanya pada 15% masyarakat yang benar-benar kekurangan pangan, bukan semua orang.
Tunda pembelian alutsista yang tidak urgent.
Setiap sinyal penghematan sekecil apapun akan dibaca pasar sebagai tanda keseriusan.
Tiga — jangan ganggu ekspor SDA.
Kebijakan ekspor satu pintu lewat Danantara boleh sebagai lembaga pencatatan untuk menangkap under invoicing.
Tapi kalau berubah menjadi tengkulak yang mengontrol harga itu akan membunuh penerimaan devisa kita yang paling vital.
Empat — data yang jujur.
Jangan sembunyikan angka.
Jangan sugar coat data.
Pasar tidak bisa ditipu dengan angka yang inkonsisten.
Dan setiap kali inkonsistensi data terbongkar kepercayaan yang hilang jauh lebih besar dari angka yang coba disembunyikan.
Rupiah melemah terus bukan karena Trump.
Bukan karena Soros.
Bukan karena tekanan eksternal semata.
Rupiah melemah karena pasar baik asing maupun dalam negeri sudah tidak percaya bahwa fiskal kita dikelola dengan benar.
Tidak percaya bahwa datanya akurat.
Tidak percaya bahwa komunikasi pejabatnya jujur.
Tidak percaya bahwa ada penjaga fiskal yang benar-benar independen ketika Menteri Keuangan sendiri bilang dia hanya alat dari kemauan presiden.
Dan kepercayaan tidak bisa dikembalikan dengan senyuman di kamera.
Tidak bisa dikembalikan dengan klaim pertumbuhan 5,61% yang tidak match dengan data pajak dan listrik.
Tidak bisa dikembalikan dengan janji rupiah ke Rp15.000 dalam 30 hari yang probabilitasnya 3-5%.
Kepercayaan hanya bisa dikembalikan dengan kejujuran.
Dengan data yang benar.
Dengan kebijakan yang konsisten.
Dengan pemimpin yang berani bilang:
kita sedang dalam kesulitan dan ini langkah konkret yang akan kita ambil.
Sampai itu terjadi rupiah akan terus bergerak ke arah yang sama.
La ánecdota de JERMAIN DEFOE vale la pena leerla 😢
"Recuerdo que durante mi segunda temporada en Sunderland, Louise Wanless, la chica de prensa, me dijo un día: “Hay un niño que quiere conocerte”. Me explicó que Bradley Lowery tenía neuroblastoma y que yo era su jugador favorito. Yo estaba como, “Está bien, por supuesto. Sin preocupaciones." Pero no tenía ni idea de cómo sería él. Asumí por su descripción que sería súper tímido y callado.
Pero tan pronto como entró en el vestuario, corrió directamente hacia mí, saltó sobre mi regazo y me abrazó con una gran sonrisa en su rostro. Después de esa primera reunión, le pedí a Louise que me pusiera en contacto con la familia para poder ir a verlo al hospital. Al principio iba con otros jugadores, pero luego seguí yendo solo. Quería pasar el mayor tiempo posible con él. Teníamos esta conexión natural, este vínculo. Todavía no sé cómo explicarlo. Me acostumbré tanto a que él estuviera en Sunderland que realmente luché después de que se fue.
Me enseñó a apreciar mucho más la vida y las personas que me rodean. Él me cambió, toda mi perspectiva".
Guys, Bahlil Lahadalia Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri ESDM baru curhat di depan ribuan kader SOKSI tentang betapa beratnya jadi pemimpin partai.
Dan ada beberapa hal yang dia bilang yang menurut gue sangat menarik untuk dibahas bukan karena isinya inspiratif, tapi karena konteksnya yang sangat ironis.
Apa yang Bahlil bilang:
"Kalian pikir jadi ketum partai ini enak?
Kalau seorang ketua umum mau jadikan partai untuk kepentingan pribadinya, mungkin enak.
Tapi kalau betul-betul bekerja untuk partai pasti bebannya luar biasa."
"Waktu jadi menteri, banyak tamu,
tidurnya masih terukur.
Jadi ketum partai Lailahaillallah."
Gue mau berhenti sejenak di sini.
Bahlil curhat tentang beratnya memimpin.
Tapi mari kita lihat konteksnya:
Bahlil adalah Menteri ESDM.
Di bawah kepemimpinannya royalti pertambangan dinaikkan secara mendadak sampai pengusaha tambang pakai kata Prof. Ferry Latuhihin kaing-kaing.
Investor yang sudah masuk tidak tahu apakah aturan besok akan berubah lagi atau tidak.
Bahlil juga pernah jadi Menteri Investasi.
Di masa jabatannya investasi yang masuk tidak selalu berbanding lurus dengan lapangan kerja yang tercipta.
Dan sekarang dia Ketua Umum Golkar partai dengan 102 anggota DPR yang menurut Bahlil sendiri terasa "bukan 102."
"Kok kayak bukan 102 gitu."
Dia bilang itu sendiri.
Kritik internal yang sangat jujur 102 kursi DPR tapi tidak terasa seperti kekuatan yang signifikan.
Soal beratnya jadi ketum dan gue perlu jujur soal ini:
Bahlil bilang dia tidak tidur terukur sejak jadi ketum. Bebannya luar biasa.
Tapi di luar sana ada guru honorer yang sudah tidak tidur bertahun-tahun karena gajinya Rp300.000 sebulan.
Ada ibu driver ojol yang harus bekerja pagi sampai malam untuk beli alat bantu dengar anaknya.
Ada 1.199 orang yang meninggal dalam bencana Sumatera November 2025 karena tidak ada antisipasi dari pemerintah pusat yang sibuk agenda lain.
Beban memimpin partai dengan 102 kursi DPR dan jabatan menteri aktif dibandingkan dengan beban rakyat yang hidup di bawah kebijakan yang dihasilkan oleh partai dengan 102 kursi DPR itu adalah dua hal yang sangat berbeda skalanya.
Yang paling menggelikan dari seluruh pidato ini:
Bahlil bercerita soal satu kejadian di masa lalu ketika dia jadi Bendahara Golkar Papua Golkar kalah pilkada, dia dimusdalupkan (dicopot lewat musyawarah luar biasa) meski tidak ada pelanggaran apapun.
"Enggak ada pelanggaran.
Ketua Golkar Papua kalah dalam Pilkada, belum selesai putus di MK, langsung dimusdalupkan duluan."
Dia bilang itu dengan nada mempertanyakan. Seolah itu adalah ketidakadilan.
Tapi tunggu. Hari ini Prabowo bilang "kalau tidak beres, copot, sederhana." Dan Bahlil adalah bagian dari kabinet Prabowo.
Bagian dari sistem yang sama.
Apakah Bahlil sadar bahwa logika "copot kalau kalah" yang pernah menimpanya dulu adalah logika yang sama yang sekarang berlaku untuk orang-orang lain di bawah sistem yang dia ikuti?
Dan soal visi besar SOKSI yang Bahlil gaungkan:
Bahlil bilang SOKSI harus kembali ke tujuan awal sebagai organisasi yang melawan kelompok yang ingin mengubah Pancasila menjadi ideologi komunis.
Sebagai dapur kaderisasi yang menyuplai tokoh-tokoh bangsa.
Tapi di saat yang sama tokoh-tokoh bangsa yang berani berinovasi sedang dituntut 27 tahun.
Siswi SMA yang hafal Pancasila diancam WhatsApp.
Wartawan yang melaporkan fakta ditekan oleh satu telepon dari istana.
Kalau SOKSI benar-benar mau jadi dapur pengkaderan tokoh bangsa yang berkarakter mungkin hal pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa tokoh-tokoh yang berani jujur di negeri ini dilindungi bukan dihukum.
Bahlil bilang jadi ketum partai berat. Gue percaya itu. Memimpin organisasi apapun memang berat.
Tapi yang lebih berat adalah menjadi rakyat biasa yang hidupnya ditentukan oleh keputusan-keputusan dari orang-orang yang mengaku menanggung beban berat itu sementara hasil dari keputusan mereka adalah rupiah di Rp17.600, PHK yang mengintai, dan orang-orang terbaik yang takut untuk pulang.
Kalau Bahlil benar-benar tidak tidur karena memikirkan nasib partai dan bangsa pertanyaannya satu:
kebijakan mana yang sudah berubah menjadi lebih baik karena rasa kehilangan tidur itu?
Karena rakyat tidak butuh pemimpin yang curhat tentang beratnya memimpin.
Rakyat butuh pemimpin yang hasilnya bisa mereka rasakan di kehidupan nyata mereka.