Pada akhirnya, ketenangan paling tinggi datang saat kita udah ga haus untuk dimengerti, divalidasi, diapresiasi, diakui, dikagumi, atau dikasihani. We just start living mindfully and accepting life as it is. Because at that point, you finally find peace.
Relate banget sama kata kata ka enzy di podcast,
"aku ngejaga cinta aku banget. aku, dengan segala pengalaman hidupku, aku memilih siapa orang yang berhak mendapatkan cinta aku. karena aku tau, ketika aku mencintai, aku benar-benar setulus itu mencintai dia. aku gak mau menyia-nyiakan cinta aku."
jangan karena satu orang bikin lu ngerasa u don't deserve to be loved, yaaaaaa. just because someone hurt you doesn't mean you're hard to love. mungkin his love just meant for you, and that's okay. lu belum ketemu bentuk cinta yang emang ditakdirkan buat lu aja
Banyak perempuan memilih untuk memendam ceritanya sendiri.
Mereka lebih memilih tidur lebih lama, menyibukkan diri dengan pekerjaan, merawat diri, pergi jalan-jalan, atau sesekali memanjakan diri dengan makanan yang mereka suka.
Bukan karena hidup mereka selalu baik-baik saja, tapi terkadang mereka hanya ingin punya jeda dari hal-hal yang sedang melelahkan pikirannya.
Sebab tidak semua perempuan ingin bercerita saat sedang terluka.
Ada yang memilih diam dan berusaha membuat dirinya sendiri merasa lebih baik.
gara-gara trend stop the wedding
aku jadi sadar kalo ternyata mengenal seseorang untuk jadi pasangan hidup tuh gaa cukup cuma dari seberapa sayang kita sayang sama dia ataupun sebaliknya, tapi kita juga harus tau cara dia memperlakukan orang, mengendalikan emosi, menyelesaikan masalah, bertanggung jawab, sampai bagaimana caranya dia memandang masa depan
karna ya kadang hal-hal yang keliatannya sepele pas pacaran itu justru malah jadi masalah besar pas udah hidup serumah.
gue mulai sadar, ternyata selama ini gue terlalu available. terlalu gampang di-reach, terlalu gampang bilang yes, terlalu gampang luluh. they literally only come around when they need something. meanwhile, pas gue yang butuh mereka, suddenly everyone's busy.
gue mulai sadar, ternyata selama ini gue terlalu available. terlalu gampang di-reach, terlalu gampang bilang yes, terlalu gampang luluh. they literally only come around when they need something. meanwhile, pas gue yang butuh mereka, suddenly everyone's busy.
mama said:
“cowo kasar ga bakal tiba-tiba lembut karena nikah. cowo mokondo juga ga auto jadi rajin kerja, yang immature ga mendadak mature cuma karena akad.”
marry the character, not the potential. life’s too short buat nikahin seseorang dengan harapan bisa mengubah dia.
girl to girl,
kalo menikah nanti, harus sama cowo yang :
- kamu nyuci, dia yg jemur atau sebaliknya.
- kamu yg nyapu, dia yg nge-pel atau sebaliknya.
- kamu yg masak, dia yg cuci piring atau sebaliknya.
- kamu yg nyuapin anak, dia yg gendong/mandiin anak atau sebaliknya.
Intinya kalau kamu nikah sm cowo yg bisa DIAJAK KERJA SAMA
sorry, anak cowo aku nanti ga akan ku kasih izin ngasih uang bulanan ke pacarnya. bayarin makan pas jalan, anter jemput pas jalan bareng, ngasih bunga atau hadiah di hari spesial, itu semua gapapa, asalkan jangan ngasih uang bulanan.
begitu juga dengan anak cewe aku, jangan sampai dia minta uang ke cowo yg bukan suaminya. tapi kalau bisa ga usah ku izinin pacaran nanti.
"bunyi-bunyian anak perempuan pertama"
- tapi kalo kamu gabisa juga gapapa
- gausah, aku bisa sendiri kok
- gitu aja ga bisa (ucap dalam hati gemas)
- gausah ngerepotin, biar aku aja