I WANT STELLA FH UI TO BE MY LAWYER. CS TELL ME HOW DID SHE JUST GET A ZOOM RECORD KETIKA PARA PELAKU LAGI NYUSUN UCAPAN KLARIFIKASI????????
DIA TAU PERSIS KETIKAN DAN KELAKUKAN SETIAP PELAKU, SHE HAD ALL THE PROOF NEEDED????? THATS GONNA BE MY LAWYER.
Guys Netanyahu baru saja slip of the tongue yang mungkin paling jujur sepanjang konflik ini.
Dia tidak sengaja ungkap alasan sebenarnya di balik perang Iran.
Dan itu bukan soal nuklir.
Netanyahu bilang rencana sesungguhnya adalah membangun pipa minyak dari Teluk langsung ke pelabuhan-pelabuhan Israel. Memotong sepenuhnya jalur yang dikontrol oleh Arab termasuk Selat Hormuz.
Berhenti sebentar dan pahami apa artinya itu.
Selama ini narasi resminya adalah Iran harus dihentikan karena program nuklir mereka mengancam keamanan kawasan. Itu justifikasi yang dijual ke publik Amerika. Ke Kongres. Ke sekutu NATO. Ke seluruh dunia.
Tapi Netanyahu sendiri yang bocorkan bahwa ini soal kontrol jalur energi.
Pipa minyak langsung ke pelabuhan Israel itu artinya Israel tidak perlu lagi bergantung pada jalur maritim yang dikontrol negara-negara Arab. Artinya Israel punya akses independen ke sumber energi Teluk. Dan artinya siapapun yang ingin akses ke minyak Teluk harus berurusan dengan Israel sebagai titik transit.
Itu bukan keamanan nasional. Itu dominasi geopolitik atas sumber energi paling strategis di planet ini.
Dan konteks ini menjelaskan banyak hal yang selama ini terasa tidak konsisten.
Kenapa Israel menyerang South Pars ladang gas terbesar di dunia tanpa koordinasi Amerika. Kenapa fasilitas-fasilitas energi terus jadi target utama. Kenapa Hormuz menjadi pusat dari seluruh konflik ini.
Ini bukan perang untuk menghancurkan nuklir Iran.
Ini perang untuk mengubah siapa yang mengontrol aliran energi dari Teluk ke seluruh dunia.
Dan yang menanggung biayanya Qatar yang LNG-nya rusak diserang. Saudi yang kilangnya diancam. Rakyat Iran yang hidup dalam hujan hitam beracun setelah depot minyaknya dibom. Petani India yang tidak bisa dapat pupuk karena Hormuz tutup. Rakyat Indonesia yang harga BBM-nya akan naik karena semua ini.
Semua menanggung biaya dari satu rencana yang baru saja tidak sengaja diakui oleh orang yang merancangnya sendiri.
Self Reminder: Jangan Jadi Luka di Hidup Orang Lain
• Jangan pernah merasa biasa saja saat sikapmu membuat orang lain terluka.
Karena bagi kamu mungkin itu sepele, tapi bagi mereka itu bisa jadi beban yang dibawa bertahun-tahun.
• Jangan jadi penyebab seseorang kehilangan nafsu makan karena stres memikirkan perlakuanmu.
• Jangan jadi alasan seseorang menangis sendirian, menahan sesak yang tak tahu harus diceritakan ke siapa.
Ada satu petugas ATC di Palu. Beliau jadi malaikat bagi banyak orang.
Nama nya Anthonius Gunawan Agung.
Kerjaannya kelihatan biasa.
Duduk di menara.
Ngatur pesawat datang dan pergi.
Bukan pejabat. Bukan orang terkenal.
Waktu gempa besar 2018, landasan kacau.
Orang orang panik.
Pilot minta izin lepas landas secepatnya.
Dia bisa aja turun duluan. Nyelametin diri.
Tapi dia memilih tetap di atas.
Nunggu sampai pesawat terakhir bener bener lepas landas.
Beberapa menit kemudian, menara roboh.
Dia tidak sempat keluar.
Puluhan orang di pesawat itu pulang hidup hidup.
Namanya baru dikenal setelah dia tidak ada.
Kita sering kira pahlawan itu yang viral.
Padahal banyak yang kerjanya diam diam.
Efeknya, seumur hidup orang lain.
Rest In Peace 🫡
Kemarin hingga hari ini, saya berdiskusi cukup intens dg sahabat yg alumnus psikologi
Tanggapannya sederhana “itulah kenapa, pantang bahas kesusahan (terutama ekonomi) ke anak.”
Kok bisa?
Hmmm. Sepertinya saya akan buat tulisan terkait ini dg perspektif psikologi+kriminologi
My husband passed away from cancer half a year ago. In his final month, he desperately pushed me to divorce him, saying he didn’t want to hold me back. But I flat-out refused, and we argued fiercely about it several times.
What haunts me most is the day he left—I raced to the hospital, speeding all the way, but still arrived ten minutes too late. These past six months, I’ve often broken down, convinced that he must have resented me—for not listening, for being too stubborn, for not letting go. I felt he punished me by not letting me see him one last time.
A while ago, I came across a psychology teacher on Facebook and, on a whim, reached out to her. After reading my story, she stayed silent for a long time, then said: “He didn’t hold any grudge against you. He just couldn’t bear to see you cry. Look for the notebook he kept in his hospital room—the answer you need is in there.”
I was stunned. That notebook was where he recorded his treatment journey. I thought it was just medical notes and never had the courage to open it. Back home, my hands trembling, I flipped through it and found a folded letter tucked inside. The handwriting was shaky and uneven:
“My love, I pushed you to divorce because I wanted you to have an easier future. But deep down, when you refused, I felt so relieved. Thank you for not leaving me, thank you for staying by my side through this battle. I was afraid seeing me take my last breath would haunt your dreams, so I slipped away while you weren’t here. I’m sorry I couldn’t stay with you till we grew old.”
Reading it, I cried until I was sick. He never hated me. He loved me all along.
That night, I dreamt of him for the first time in so long. He came over, gently touched my head, and wiped my tears. When I woke up, my pillow was soaked, but that tight knot inside me—it finally came undone.
Thank you, my love. And thank you, teacher. 🙏
Karena negara kita ini kejam untuk orang yang ingin membangun keluarga dan memiliki anak.
- Kuliah mahal, di saat sama kualitas pendidikan SD-SMA kacau.
- Boomer rakus kuasai tanah sehingga rumah sulit terbeli.
- Pejabat tone deaf dan gagal berempati dengan kesulitan rakyat.
- Korupsi di mana-mana.
- Boomer tukang rusak lingkungan + keruk sumber daya alam.
- Penanganan masalah yang lambat.
Generasi kita untuk hidup sehari-hari aja sudah berasa dihukum dan full survival mode, kemudian "dihukum" lagi dengan pernikahan dan memiliki anak.
Nope. To my non-Muslim friends, during Ramadan, carry on with your daily activities as usual.
We fast willingly and it is we who must bear the challenges of fasting.