Rating semua World Cup yg udah pernah gue ikuti seumur hidup:
2010 Afsel (9/10)
GOATED, terlalu ikonik di hampir segala aspek, mulai dari kombo soundtrack-nya (Wavin Flag & Waka-Waka), vuvuzela, Zakumi, jabulani, koleksi stiker Panini & Ciko balls. Ini bahkan blm ngomongin match-matchnya.
Oiya satu lagi, tim Jagoan gue (Belanda) juga jadi runner-up, walau nangis pas kalah di final. Huft lah
2014 Brasil (6/10)
Paling inget di sini Belanda buanyaaaak bgt iconic moments. Bisa bantai Spanyol 5-1 di opening, meme Bruno Martins Indi, legendary sub Tim Krul buat adu penalti, kejebolan voli Tim Cahill, ah, nostalgia.
Sebetulnya ini tuh bukan World Cup yg jelek, cuma entah kenapa kayak ga dapet aja vibe-nya. Jadi OK aja.
2018 Rusia (7/10)
Dibanding yg edisi Brasil, gue malah lebih suka & lebih dapet vibe-nya World Cup ini, padahal setengah hati juga ngikutinnya karena faktor Belanda ga lolos. Waktu itu dr awal mutusin dukung Swedia for fun XD
Hattrick Cristiano ke gawang Spanyol, the legend of Max Meza, peak-nya golden generation Belgia, Mbappe masterclass, dll. Seruuu ini.
2022 Qatar (7/10)
Kalo yg ini agak mixed feeling. Pertama karna mainnya tu di tengah musim, jadi agak janggal sm vibe-nya. Kedua ngeliat Belanda kalah lawan Argentina. Di satu sisi ttp dukung Belanda, tapi di satu sisi juga mau liat Messi sang main character juara. Bittersweet by Najla.
Dikasih partai final yg absolute cinema, bikin gue jadi oh ok deh, World Cup ini ternyata gak sejanggal itu.
-
Tahun ini mirip kayak 2022. Hati ttp Belanda, tapi ngejagoin Portugal buat juara. Jadi kalo di antara 2 tim ini salah satu bisa menang ya happy pokoknya 🇳🇱🇵🇹
How about you? Gimana kalo versi dirimu?
On Saturday Pep Guardiola lifted the FA Cup at Wembley. A journalist asked him directly if he was leaving Manchester City. He looked into the camera and said "No way. No way. I have one year left on my contract.
Four days later, it was announced that he would be leaving.
Do not read that as deception. Read it as a man who loved something so much he could not bring himself to say goodbye out loud. Not in that moment. Not with the trophy still in his hands and the confetti still falling.
That is the most human thing about this story.
Pep Guardiola arrived at Manchester City in July 2016 with a reputation already built at Barcelona and Bayern Munich.
10 years after, he is leaving as something English football had never seen. Six Premier League titles. Four of them consecutive, the first time any club had achieved that in the league's history.
He won Twenty trophies in ten years- including the Champions League that the club had spent its entire existence chasing. He did not just win things. He changed what winning looked like.
But football is brutal and cyclical and completely indifferent to greatness. Sir Alex Ferguson stepped away after 27 years and United have not been the same since. Arsène Wenger gave Arsenal 22 years and left a void that took a decade to fill. Jürgen Klopp said farewell to Liverpool with tears on the touchline and the whole sport stopped to watch.
Now it is Pep's turn to walk away. And it will hurt in ways City fans are not fully prepared for yet.
Enzo Maresca is expected to succeed him, a former assistant who knows the DNA of the club. That offers continuity. It does not offer replacement. Of course, you cannot replace a man who redefined a sport. You can only try to honour what he built and hope the foundation holds.
King Pep is not just leaving the throne. He is leaving a city, a club and a fanbase that built an entire identity around what he created.
Some goodbyes in football are clean. This one will not be.
My name is Ajoje. I am a FIFA Licensed and International Sports Lawyer. I write on the Law and Business of Football, a lot. Repost and Follow if you want to read more posts like this.
Tim working class itu:
✅Harga tiketnya termahal di Inggris.
✅Melakukan gentrifikasi dgn pindah dari Highbury ke Emirates.
✅Lokasi dan demografi London Utara yang mahalnya setengah mati.
✅Sejak 1930-an sudah disebut2 The Bank of England Club krn memang kaya.
✅Terima duit Emirates dan rezim pelangar HAM Visit Rwanda drpd menjaga keterikatan dgn akar kelas pekerja lokal.
Fakta ini kemungkinan akan dijawab this in metaphor. Paham substansi metafora nggak sih?
Momen saat pemain City & Arsenal saling adu mulut sampai dorong-dorongan.
Sementara itu di sisi lain, Cherki santai juggling bola…😂
Bro hanya ingin bermain bola..
2x Liverpool gagal juara Premier League di era Klopp meski cetak 90+ poin, karena harus kalah selisih 1 POIN sama Manchester City era Pep Guardiola. 😭
18/19 - LFC 97 poin, City 98 poin
21/22 - LFC 92 poin, City 93 poin
3 pemain terpenting di match semalem versi gua, kita bahas satu satu:
1. O'Reilly. Adik kita satu ini literally nguasain sisi kiri City bareng sama Doku. Pergerakan off the ball nya bener bener BAGUS BANGET! Contohnya ya di gol kedua, O'Reilly berhasil eksploitasi ruang kosongnya Arsenal yg langsung dia manfaatin buat carrying the ball dan ngelakuin kombinasi sm Doku, berujung gol buat Haaland. Selain itu, dia jg press resistant banget! Footworknya itu bener2 ngebantu dia buat main di ruang sempit. Ada beberapa kali dia berhasil menangin bola di ruang sempit dan ngelewatin 2-3 pemain Arsenal. Body balance nya pun gausah diraguin, kuat banget coy, selalu menang duel! Doi definisi pemain yg balance dari segi ofensif dan defensif.
2. Rodri. Match semalem ngebuktiin kalo dia masih amat-sangat-penting untuk City saat ini. Bagi gua, performa doi di match semalem itu adalah definisi dari perfect Defensive Midfielder. Tenang buat alirin bola dan kuat buat defensive. Duelnya buat menangin second ball itu bener2 penting banget! Dari momen dia menang duel itu selalu bisa jadi kuncian City untuk ngebangun serangan cepet. Dia juga beberapa kali masuk kotak penalty buat bikin offload disana. Hasilnya ya gol ke 2, doi berhasil narik pemain bertahan Arsenal buat ngejaga pergerakannya yg nusuk ke dalem kotak, dan Haaland tinggal terima beres untuk finishing. Semoga dia mau perpanjang kontrak di City, at least 1/2 musim lagi, sekalian transfer ilmunya ke Nico🤝
3. Bernardo. The real penggerak sistem. Dia adalah JENDRAL SELURUH LAPANGAN! Kita tau di match semalem, Kodir dan Donna cukup struggling buat build up dari belakang. Dan disaat itulah ada kapten kecil kita satu ini yg selalu sejajar sama backline buat bantu ngalirin bola kedepan, nge eliminasi lawan lewat passing2nya, dan jadi tambahan umpan di sisi kanan depan buat kombinasi sm Cherki atau Nunes. Ga lupa juga dari segi defensifnya, dia jg sering menang duel di match ini + clearance super penting di situasi 1v1 sm Havertz. Definisi nafas kuda, gaada capeknya buat ngelilingin lapangan. Belakang, depan, kanan, kiri semuanya udah kena 'jajah' sama dia. Hwaaaaaaa cipunggg😭
Gua ngerate tinggi 3 pemain ini bukan berarti mendiskreditkan yg lain ya. Overall, yg lain juga main bagus (kecuali Semenyo yg agak off), tp di match semalem, bagi gua merekalah bintangnya✨👏
Semenjak era STY berakhir, gue belum pernah lagi nonton timnas main. Padahal dulu hampir setiap match gue nonton langsung karena tempat gue tinggal ke GBK paling cuma 30 menit pakai motor.
Kenapa gue ga nonton lagi? Karena gue rasa timnas kita memang dipelihara untuk tetap tidak berprestasi dan hanya dijadikan komoditi. Polanya selalu sama kan? Setiap mulai jago, penonton penuh, terus tau2 ada aja gebrakan begonya. Udah berkali kali mulai dari kejadian piala aff sampai terakhir kualifikasi piala dunia kemarin.
Jadi, kapan nonton lagi? Kalau pssi dah lebih sehat dan ada sinyal positif yg lebih baik dari sisi pengelolaan organisasi dan pembinaan pemain nya.