@shitlicious Barusan nonton ini. Bang Alit, thank you udah sharing ini. Mama pasti bangga punya anak baik seperti kamu. Videonya bagus, ceritanya memginspirasi ☺️
Anggota saya, ada yang ngojek, jualan es, pemulung, tidur di kandang kambing, ngajar sambil berjalan berkilo-kilometer, dan upahnya masih honorer di bawah nilai bantuan sosial.
Ada juga yang lebaran tunjangannya tidak kunjung cair. Kalau bapak menuntut bisnis, kami menuntut upah minimum saja masih sulit.
Kekerasan sekecil apapun tidak ditoleransi bagi profesi kami. Jika terjadi, jeruji, dan intimidasi menunggu kami. Dari Supriyani hingga Novi Sukatani.
Jujur, gue sampai hari ini tuh takut loh karena akun Neneng Rosdiyana hilang.
Neneng itu sangat berpengaruh, sampai muncul mazhab Nenengisme diseluruh media sosial. Foto dia disandingkan dengan Marx, ga main-main.
Pikir lagi, ga mungkin ga, lo semua paham kan maksud gue
Lo bacot bat soal undang-undang, fapi lo lupa di Pasal 84 ayat (1) UU 24 Tahun 2013 bilang kalau sidik jari termasuk data privasi. Dan gua tekankan lagi, Kepolisian berkewajiban untuk MELINDUNGI masyarakat
So? Yang dongo siapa?
👧🏻: “Sayang pinterr banget puasanya ga ada yang bolong. Mau abis survey panas-panas pun sayang bisa menahan diri untuk ga batal 🥰”
👦🏻: “Sayang ini loh. Aku kan puasa bukan karena manusia..”
I.. iya si..
@whoopziiy Ngarang ini mah. Baru telat 1 bulan terus keguguran masa anaknya udah bisa diambil dan dicuci. Terus bagian pas berantem malamnya lalu berangkat paginya kesannya seolah mereka tinggal serumah padahal di awal bilang ketemu aja susah 💁♀️
I—somehow—love the way you ask me, “sayang mau sekalian sholat isya ga? Wudhu nya belum batal kan?”. You have just finished your isha while i was just about to postpone praying 😂😭
Akhirnya ke TU dan mereka bilang stempelnya ga kurang. Terus jadi naik turun tangga ke BBN II lagi.
Lagian kalau ada yang kurang kenapa ga right away diinfokan sebelum jam 9??? Ujung-ujungnya antre lagi dan urusan kelar jam 11.50.
Selamat jalan Bang Faisal
Faisal Basri seperti sebuah lentera bagi perubahan. Di tangannya, keberpihakan pada demokrasi menemukan suaranya, dan ketidakadilan menemukan musuhnya. Saya ingat sosok ini: kemeja biru muda, celana warna khaki, sepatu sandal, ransel di Pundak, dengan rambut, yang sedari muda, tak lagi penuh.
Akhir 1980-awal 1990 an tak banyak ekonom di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang membahas ekonomi politik. Mungkin hanya Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Sjahrir dan seorang ekonom muda: Faisal Basri. Saya belum lagi genap menyelesaikan skripsi saya saat itu. Dan saya punya minat besar pada ekonomi politik. Mungkin karena banyak terpengaruh Alm. Dr Sjahrir. Saat itu saya menjadi asisten Sjahrir untuk mata kuliah Perekonomian Indonesia. Sjahrir adalah ekonom, tokoh mahasiswa yang pernah ditahan dalam kasus Malari 1974. Keterlibatan saya pada gerakan mahasiswa --yang dilakukan dengan rasa takut-- membuat saya banyak berinteraksi dengan Faisal Basri. Saya ingat, bersama teman-teman di FEUI kami menyelenggarakan Seminar Nasional untuk mahasiswa. Sengaja kami mengundang ekonom seperti Sjahrir, Rizal Ramli dan Faisal Basri dsb. Saat Faisal berbicara didepan mahasiswa, hati kami --setidaknya saya-- menjadi kecut. Dengan lugas ia berbicara tentang bobroknya pemerintahan Soeharto akibat tumbuh suburnya korupsi, kroniisme dan ekonomi rente. Di masa itu, tak banyak orang berani menunding Soeharto secara langsung dalam diskusi terbuka. Faisal adalah kekecualian. Sejak itu saya menjadi akrab dengan Bang Faisal, begitu saya memanggilnya. Saya berutang intelektual padanya. Bagi saya Bang Faisal tak hanya seorang kawan, senior dan guru dalam ilmu ekonomi, tapi ia adalah teladan tentang integritas, keteguhan sikap dan keberanian. Ia tak hanya marah dan berani, tetapi Faisal adalah ekonom yang membaca data dengan baik. Pemikirannya cemerlang. Ia memahami konsep ekonomi dengan sangat baik. Pandanganya segar.
Kami cukup dekat sebagai kawan. Bulan Februari lalu, atas permintaan isterinya, Mbak Titik, saya mengirim voice note, mengingatkan Bang Faisal untuk pergi memeriksakan diri ke dokter, karena ada problem dengan matanya. Saya katakan, jika jatuh sakit, kita jadi kehilangan kesempatan untuk makan Padang. Mungkin, karena Faisal seorang ekonom, ia paham arti opportunity cost. Soal kesempatan apa yang akan hilang --bila tak sehat. Ia menjawab melalui whatsapp bahwa ia sudah periksa darah dan insha Allah akan segera check up secara menyeluruh. Di ujung pesannya ia menulis: Pingin segera menyantap nasi kapau. Tanggal 16 Agustus lalu kami bersama sama berbicara untuk menyambut 900 mahasiswa baru FEB UI. Kami berbicara mengenai issue kelas menengah. Faisal, seperti biasa, begitu lugas, begitu berapi-api dan begitu berani.
Kami memang cukup dekat sebagai kawan. Saya menghormatinya sebagai senior dan guru. Walau cukup dekat, bukan berarti mengurangi sikap kritisnya pada saya. Saat saya menjadi Menteri Keuangan atau Kepala BKPM, dengan lantang ia menyampaikan kritiknya yang pedas pada saya. Kami kadang berbeda pandangan, namun saya tahu, sikap kritisnya dibutuhkan: untuk perbaikan negeri ini. Seperti Reinold Niebhur pernah menulis: “Kapasitas manusia untuk berbuat adil, membuat demokrasi menjadi mungkin. Dan kecenderungan manusia untuk berbuat sewenang-wenang membuat demokrasi menjadi perlu” Demokrasi memang gaduh, mungkin menyebalkan. Tapi ia bisa menahan kecenderungan manusia untuk berbuat sewenang-wenang. Faisal menyuarakan pesan tua itu. Ia mengingatkan kekuasaan untuk tak sewenang-wenang. Ia seperti sebuah lentera bagi perubahan. Di tangannya, keberpihakan pada demokrasi menemukan suaranya, dan ketidakadilan menemukan musuhnya
Kematian memang mengakhiri kehidupan seorang manusia, tapi tidak ide dan pemikirannya. Selamat jalan Bang Faisal….
Beberapa foto bersama Faisal. Dari saat diskusi di majalah Tempo, saat kami masih muda, sampai pertemuan kami terakhir 16 Agustus 2024