@bankbsi_id Mana ada sudah kembali normal, mau transaksi aja ga bisa. Nasabah harus terseok seok transaksi lho ini, kok kayaknya seolah² baik² saja semua ini?? Dulu data nasabah bocor, ganti aplikasi sering eror, apa lagi selanjutnya nih min?
Disekolahin negara mahal² pakai duit rakyat, invest buat SDM ke depan. Eh setelah lulus malah jd corong teori konsporasi. Kok sayang duit rakyatnya ya.
Terlupakan dan dilupakan, ya sebagian besar orang bersikap dan berteman krn prinsip determinisme "kebutuhan/ kepentingan". Kita lahir sendiri dan akan selalu mengadapi masalah krusial sendiri. Semua akan kembali sendirian dan kesepian.
@Dw_Hartanto Namanya debat itu cabang olahraga silat lidah, ada menang dan kalah. Namanya pertunjukan, tonton saja. Kita semua sedang belajar ttg realitas kehidupan bernegara. Semoga demokrasi masyarakat kita semakin dewasa. Perbanyak baca dan terus belajar sepanjang hayat.
Karena banyak yang menayakan ke saya apa yang dibutuhkan untuk tumbuh 6-7% seperti janji para kontestan pemilu. Saya posting ulang artikel saya di Kompas 30/8/23 “Tua Sebelum Kaya”
https://t.co/yEn3pPHOCY
@errends_@kompascom Banyak, kami mendampingi anak berhadapan dengan hukum di pedalaman sering berangkat pukul 03.00 WIB dini hari. Teman2 kami yg lain setiap pendampingan bahkan mengarungi sungai kalimantan 8 jam perjalanan.
Ave Neohistorian!
Raden Ajeng Kardinah (1881-1971) adalah adik dari Raden Ajeng Kartini, yang memiliki reputasi sebagai pengayom masyarakat Tegal.
Kardinah membuka sekolah dengan patungan bersama murid-nuridnyanya. Nama Kardinah diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang terletak di Jalan A.R. Hakim, Kota Tegal karena Kardinah memang menjadi tokoh perintis pembangunan rumah sakit tersebut dari kas pribadinya karena ia merasa rakyat kecil butuh rumah sakit.
Kardinah juga menerbitkan buku membatik dan resep masakan keluarga Jepara. Yang unik di dalam salah satu buku resep tersebut adalah resep "ayam glepung". Kalau sekarang namanya ayam goreng.
Namun, kendati banyaknya jasa Kardinah pada warga Tegal namun ia malah mendapat balasan yang getir. Pasca proklamasi, di wilayah Tegal-Brebes-Pemalang, pecahlah pemberontakan komunis yang lebih dikenal sebagai Gerakan Tiga Daerah di bawah pimpinan Sakhyani alias Kutil, dari Oktober sampai dengan Desember 1945.
Kelompok komunis ini mengipasi rakyat jelata bahwa seusai Proklamasi, Belanda akan kembali dan didukung oleh golongan borjuis dan aristokrasi. Maka kelompok Komunis menginstruksikan pada semua golongan proletar dan kelas pekerja untuk menciduk orang-orang berdarah biru itu.
Kardinah adalah salah satu korbannya. Wanita yang sudah berusia lanjut itu, diseret dari rumahnya. Ia ditelanjangi dan dipakaikan baju karung goni yang kasar dan tajam, lalu diseret, diarak keliling kota Tegal. Kardinah yang sudah tua, lantas pura-pura pingsan, sehingga ia harus dibawa ke rumah sakit. Dari sana, ia dilarikan ke Salatiga.
Sejak peristiwa itu, hingga wafatnya Kardinah di usia 90, Kardinah memilih menetap di Salatiga karena trauma mendalam. Bahkan ia awalnya sempat menolak kedatangan Ibu Sumiati Sardjoe (istri Walikota Tegal, Sardjoe). Dia sudah bekerja keras demi kota itu, tapi banyak yang hanya diam ketika ia diperlakukan tak senonoh oleh komunis. Bahkan, banyak simpatisan komunis itu, rakyat jelata yang dulu ia perhatikan.
Penulis: Hanafi Wibowo
Editor: Veronica Septiana Setiawati
Referensi:
Yono Daryono. Kardinah: sebuah biografi. PT Sukses Berkah Inspiratif, 2019
@sawaris @PemkotaBogor Pembuat pisau dapur kena dosa dongkl dipake buat bunuh orang?
Pembuat mesin dan semua buruh perakit sepeda motor ikut dosa kl motornya dipakai buat jambret?
Saya sudah hubungi CS via WA dan email CS (malah ga da balasan sama sekali). CS WA kasih info suruh nunggu tidak ada pemberian info kenapa paket sampai berkali kali gagal kirim. Mana jawabanya template kayak chat ma bot WA lagi.
@sicepat_ekspres paket resi 003113181407 asal Cibinong kirim ke Bogor Kota. Selasa-Sabtu ga sampai2 paketnya, tiap hari hanya diantar ulang (AU) notifnya. Saben hari ada orang jaga di alamat tujuan paket padahal.
Manusia di lingkungan birokrasi terikat 2 hal; hutang budi dan lingkungan. Mereka kadang bs berubah dan menjadi orang lain. Yang humoris humble jd sengak dan sombong, yg kaku tegas jd lembek dan luluh. Yaa.. namanya juga manusia, dinamis katanya.