Dalam ilmu psikologi trauma dijelaskan bahwa ketika seseorang mengalami luka batin yang sangat dalam, ia tidak selalu menangis, berteriak, atau menunjukkan kemarahan. Justru, banyak orang menjadi sangat tenang, diam, dan terlihat baik-baik saja.
Hal itu terjadi karena otak memiliki mekanisme perlindungan diri. Saat rasa sakit terasa terlalu berat untuk diproses sekaligus, otak akan "mematikan" atau menekan sebagian respons emosi untuk sementara waktu. Tujuannya agar seseorang tetap bisa bertahan dan menjalani fungsi sehari-hari di tengah tekanan yang luar biasa.