sedih ya. setiap ada aksi, sll terlintas pertanyaan yg sama: knp utk didengar, rakyat hrs bersuara sekeras ini? pdhl yg diperjuangkan bkn sesuatu yg berlebihan. kita hanya ingin didengar, dipertimbangkan, dan tdk merasa ditinggalkan oleh keputusan yg menyangkut hidup kita sendiri
- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
As teenage diusia 18 tahun ini merasa terhina banget punya presiden kaya Prabowo. Bayangin gua di sini belajar mati'an buat masuk kampus lewat utbk tapi yang katanya PEMIMPIN NEGARA jawab 10+6 = 17 kan kontolllll
in another life gue lah anak FK yang berangkat kuliah naik hrv sand khaki, nenteng ipad atau macbook, papa mama dokter spesialis, lulus langsung nempatin ke rs swasta punya orang tua, tiap liburan keluarga ke eropa dengan sorotan Instagram full bendera