Yeaa it sucks, manjur bener nih doa wkwkwk. We did it anyways.
cc @sider_akut
Note: Aku ngebuat ini tweet ulang soalnya institusinya ga kusensor kemarin.
Beasiswa ke luar negeri yang ga wajibin pulang ke Indonesia:
Japan: MEXT, INPEX, Ajinomoto
Korea: GKS
Taiwan: MoE Taiwan
Eropa: Erasmus
Hungaria: Stipendium Hungaricum
Ada yang mau koreksi / nambahin?
Ini kayaknya website buat cuci uang deh, bisa-bisanya kalo belajar TOEFL di sini jadi bisa ikut tes resminya gratis, padahal biaya aslinya $199 alias Rp3,5 jutaan 😭😭😭
Dulu cuma mikir alah jakartasentris apaan... orang kota kita sekitar gw juga kena pembangunan (jogja solo), tapi setelah 1st time ke JKT like... ANJIIING INI JAKARTA? UDAH KAYA NEGARA SENDIRI COK...
Dan sejak hari itu aku sadar.. jakartasentrisme memang nyata
Capital market itu kan ngga bergerak by absolute numbers, tapi spread. Global fund manager itu biasanya mantau spread SBN 10 Tahun (INDOGB) sama US Treasury 10 Tahun.
Spread = Yield INDOGB - Yield US10Y
Asing biasanya butuh spread minimal 200 - 250 basis poin (bps), sekitar 2% - 2,5% buat nutup risk invest di Indonesia, itu udh termasuk currency risk, liquidity risk, dll.
Kalo US10Y naik ke 4.6% tapi SBN nya di 6.5%, spread nya kan mengecil jadi 190 bps. Di titik ini algo trading institusi otomatis langsung sell di IHSG sama domestic bonds.
Kalo asing cabut sebenernya bukan satu satunya alasan IHSG turun. Kalo secara fundamental, naiknya US Treasury yields ngerusak valuasi perusahaan lewat teori Discounted Cash Flow.
Kalo yield US Treasury naik kan berarti BI terpaksa naikin BI Rate biar Rupiah ngga turun dalem. Nah BI Rate yang lebih tinggi naikin Cost of Equity sama Weighted Average Cost of Capital (WACC) buat emiten di IHSG.
Nah sekarang kita liat 3 data real time ini, US10Y (4,597%), SBN 10 Tahun (6,851%), dan CDS 5 Tahun (86,80), ini confirm mengenai capital outflow yang sedang menghantam domestic market.
Global fund managers’ maths is very simple yet deadly, dari data itu kita bisa menghitung yield spread antara Indonesian bonds dan US bonds.
6,851% (SBN) - 4,597% (US10Y) = 2,254% atau 225 basis poin (bps).
Angka 225 bps ini ada di psychological threshold yang sangat tipis. Historically, investor asing butuh spread ideal di atas 250 - 300 bps buat merasa aman megang aset Rupiah. Ketika spread menurun ke kisaran 225 bps, return compensation itu dianggap ngga sesuai sama currency risk. Hal ini secara otomatis memicu algoritma institusi asing buat ngelepas kepemilikan SBN mereka.
Coba kita perhatikan persentase kenaikan harian di SBN dan CDS. Keduanya naik secara bersamaan.
Yield SBN naik +2,12% ke 6,851%. In the bond market, yield yang naik tajam berarti harga obligasi lagi turun karena dibuang (sell off) secara masif ke market.
CDS naik +2,03% ke 86,80. Indonesian debt default risk insurance costs naik secara proporsional.
Korelasi positif antara naiknya yield SBN dan CDS ini membuktikan kalo penurunan market bukan cuma karena technical correction, tapi karena adanya kenaikan Risk Premium di mata asing. Kenaikan risiko ini ngga cuma berasal dari tekanan The Fed (faktor eksternal), tapi juga merupakan gambaran kekhawatiran investor terhadap potensi naiknya defisit anggaran pemerintah atau risiko fiskal domestik lainnya yang dapat menekan stabilitas makroekonomi ke depannya.
Intinya, karena US10Y bertahan di level 4,59% akibat inflasi US yang tinggi. Ditambah yield spread 225 bps terlalu kecil dan risiko fiskal CDS naik ke level 86,80, asing ngejual SBN yang endingnya membuat yield domestik naik ke 6,851%.
Uang hasil penjualan obligasi bernilai triliunan Rupiah ini ditukar ke USD buat dibawa keluar. Aksi borong USD ini membuat nilai tukar Rupiah turun.
Liquidity mengering dari sistem perbankan. Yield SBN di 6,8% bakal naikin Cost of Funds perbankan dan emiten di IHSG, pressuring profitability, dan secara valuasi langsung nurunin target harga saham saham di IHSG.
— Koboy Gurun, NiFi Team
katanya “gamau pilih anies, cuma pinter ngomong”
lah ini udah ngomong aja ga becus, kerja juga ga bener. minimal yang kalo kita kritik ga ngatain kita bodoh.
Jane Street made $4.3 billion with a single strategy in India, it worked so well that regulators launched an investigation
it only got exposed because Jane Street sued their own employees and accidentally leaked the strategy
India's options market is 422 times larger than its stock market
every morning they bought $500 million in stocks
once puts were cheap enough they loaded up, sold all their stocks in the afternoon
$85 million in a single day, they ran this for two years straight, regulators ordered $570 million forfeited
Bookmark & Watch the full story today ↓