Sekujur tubuhnya terasa pegal, Mikhaila tahu itu adalah efek psikis dari ancaman kehilangan putri satu-satunya.
Semua telah berakhir, harusnya ia sudah bisa tenang. Walakin, atensinya sempat berlabuh di paras tak terbaca Gevrain untuk terakhir kalinya hari itu.
Sebelah tangan diulurkan ke leher sang medikus namun dijaga betul agar tak bersentuhan, kemudian bergeming di sana.
Entah apa yang berhasil meredam rasa berang di sanubarinya, namun hasrat membunuh yang sedari tadi menguar dari peroman telah sirna.